Menyatu bersama JNE dalam JLC Award 2018

Saya & JNE

Tahun 2012 saya pernah jadi pelaku reseller untuk pakaian wanita dewasa non hijab dan hijab/pakaian muslim. Perjalanan saya menjadi reseller fashion itu berlangsung satu tahun, sebagai pemula waktu itu saya ambil barang dari teman yang sudah lama menjalani penjualan pakaian dan fashion. Rata – rata untuk jasa pengirimannya pakai JNE, sejak itu saya terbiasa pengiriman pesanan konsumen memakai JNE, bahkan kalau saya ingin beli sesuatu secara online, kurirnya terbiasa pakai JNE, entah kenapa semacam ada gerakan refleks gitu tekan pilihan kurirnya pakai JNE.

Tahun 2012 – 2013 otomatis full pengiriman pakaian yang saya jual menggunakan JNE, alasannya selama kurang lebih setahun itu segala kendala pengiriman hampir gak ada masalah, pernah sih.. sekali pengiriman telat sampai di customer, alhasil saya dianggap penipu, padahal waktu itu paket pesanan sudah dikirim, pahitnya ketika paket sudah sampai di rumah customer yang anggap saya penipu itu, dia gak ngabarin, uang udah terlanjur saya refund, dan paket dia terima. Kecewa sih pasti yaa.. tapi saya berusaha ikhlas aja waktu itu. Saya berujar aja dalam hati “gak ada yang sempurna di dunia ini, kecuali terus berusaha, belajar dari kesalahan, dan ikhlas”. Dalam hal ini saya gak menyalahkan siapa – siapa, namanya juga penjual dan pembeli, ada aja sisi positif dan negatifnya, otomatislah customer tersebut saya masukkan ke kotak hitam hehe..

Seiring waktu berjalan, pelan – pelan saya belajar ingin mempunyai produk hasil sendiri, saya gak lagi menjalankan sebagai reseller fashion karena alasan beberapa sebab, saya merambah kedunia usaha kuliner, yaitu usaha kecil – kecilan homemade vegetable chicken nugget yang saya olah sendiri, Alhamdulilah penjualan sempat kirim keluar kota, seperti Bali, Kalimantan, Malang, Makasar. Pengiriman menggunakan JNE YES, sehari pasti sampai. Selama pengiriman beberapa kali saya terima sms notifikasi dari JNE, wah.. saya pikir bagus juga nih JNE sekarang ngasih fasilitas notifikasi sampai dimana perjalanan paket chicken nugget saya, walaupun tidak semua cabang JNE yang melakukan fasilitas notifikasi melalui sms, tapi saya harap JNE bisa lebih ningkatin notifikasi seperti ini, jadi gak terjadi lagi anggapan penipuan yang pernah saya alami.

Jujur aja, namanya juga jualan frozen food, keluar kota pula, ada perasaan ketar ketir nugget diterima pelanggan dalam kondisi gak bagus lagi, ternyata ada yang nerima masih bagus, tapi ada juga yang nerima kondisi packingnya udah rusak. Akhirnya sekarang saya belum berani ambil resiko jual keluar kota dulu, perlu belajar lagi atau menunggu ada jasa pengiriman yang menyediakan box es supaya makanan tetap beku selama di perjalanan, sambil terus berjalan dan inovasi saya tetap menjalankan usaha nugget ini pelan – pelan. Oya, kebetulan adik ipar saya yang juga karyawan Bank juga pelaku seller tas, sepatu, dompet branded, sejauh yang saya perhatikan pengirimannya juga banyak menggunakan JNE. Sungguh yaa.. JNE bagaikan pasangan setia bagi penjual online hehe.. Semoga aja JNE terus memacu fasilitas terbaiknya.

Inovasi dari JNE

Sampai suatu saat tanggal 18 Januari 2018, di Ballroom Hotel Mulia, Senayan – Jakarta, saya baru tau kalau ternyata JNE kasih hadiah melimpah untuk pelanggan dalam acara JLC ( JNE Loyalty Card) Award 2018. JLC-nya aja saya juga baru denger hehe, apalagi program – program yang terencana dari JLC, wah.. bikin mupeng deh pokoknya, gimana gak coba?? Di penghujung 2017, JNE menjalankan program JLC Lucky Draw & JLC Race yang diikuti 70.000 lebih member JLC di seluruh Indonesia.

Sebelum gala dinner, ada press conference dulu bersama Bapak M. Feriadi, selaku President Director JNE, dan Bapak Eri Palgunadi, selaku Vice President of Marketing JNE.

Pengundian Lucky Draw dilakukan tanggal 21 Desember 2017 di kantor pusat JNE di daerah Tomang. Hadiahnya bikin ngiler…. Para pemenang dapat 1 paket wisata Disneyland Hongkong, 2 unit motor Honda Beat, 3 paket wisata ke Singapore & Legoland Malaysia, 3 paket wisata ke Malang – Jawa Timur, 5 buah Ipad Mini, 10 buah Mirrorless Camera, 100 buah Voucher belanja. Kalau program JLC Race, ini pertama kali diadakan JNE kepada 5 orang member JLC dengan nilai transaksi tertinggi dan 5 orang member dengan jumlah pengiriman paket/resi terbanyak dengan periode transaksi dari 1 November – 31 Desember 2017. Hadiahnya apa aja?

1 unit mobil Mitsubishi Xpander (Juara I).
1 unit sepeda motor Yamaha Xmax (Juara II)
1 paket wisata untuk 2 orang ke Eropa (juara III)
1 unit Iphone 7 red (Juara IV)
1 unit kamera Fuji XT10 (Juara V)

Untuk member JLC dengan jumlah resi terbanyak :

Juara I : 1 unit sepeda motor Kawasaki Ninja RR
Juara II : 1 paket wisata ke Bangkok untuk 2 orang.
Juara III : 1 unit Samsung Galaxi, Note 8
Juara IV : 1 unit kamera Canon EOS M10
Juara V : 1 unit Smartphone Vivo V7

Banyak banget ya hadiahnya, dan ada hadiah lagi yaitu City Tour Experience dengan helicopter untuk 2 orang juara I dalam JLC Race 2017, selanjutnya hadiah wisata keliling kota dengan helicopter ini bisa didapat seluruh member JLC dengan menukar poin yang dimiliki.

Read More

Tontonan akhir tahun 2017

Listrik VS Taxi Driver Movie

Apa hubungannya listrik dan taxi driver?

Bagi aku ada hubungannya, gara – gara mati listrik buat killing time jadilah nonton Taxi Driver. Mati lampunya juga bukan mati listrik biasa, karena yang mati listrik cuma di rumahku aja *sedih. Jadi bertanya – tanya kenapa rumah kami aja yang mati listrik? Toh bayar listrik juga gak pernah terlambat, gangguan apa ini gerangan? Akhirnya coba call pos gangguan PLN di (021)123, lapor supaya ada team yang cek listrik di rumah, dan kami harus nunggu, pahitnya kayak di php in alias kayak di kasih harapan palsu, harus nunggu 6 jam! Ya ampun.. Masalahnya udah malam, jam 8 lapor, team gangguan PLN datangnya jam 1 malam, ya aku maklum juga mungkin antri mobil dinasnya yang lama, walopun udah kesel – kesel gimana gitu ya, tetep usaha bersabar *sabar..*sabar.. *peluklaptoperaterat *eh..

Serasa di php in pacar ditambah udah ngantuk! Jadi sambil nunggu kedatangan team gangguan PLN, aku & papayaza nonton Taxi Driver – Korean Movie, kebetulan udah download, dan yang terpenting baterai laptop full ! Jadi bisa nonton sampe film selesai, walaupun listrik entah kapan nyalanya hiks..

Dalam kegelapan ditemani cahaya lampu emergency, senter, dan cahaya laptop (Entahlah ini aku jadi pake bahasa ala apa.. Hahaha.. ) Yang pasti gak pasang lilin!.. Karena takut cuy ke dapur cari lilin, lagi parno lah waktu itu, hahaha..
Jam 10 malam kami berdua nonton Taxi Driver, Isi filmnya sarat makna, ceritanya bagus, kisah nyata, Daebak! Wajib ditonton. Di Korea sendiri film ini udah menyedot lebih dari 12 juta penonton di tahun 2017.

Ceritanya tentang pemberontakan di Gwangju, Korea Selatan dengan setting pada tanggal 18 – 27 Mei 1980an. Pertama kali nonton gak semangat, abisnyakan aku biasa nonton drakor yang lucu – lucu gitu, dengan aktris dan aktornya enak dilihat, hahahhaa.. Tapi karena listrik padam untuk 6 jam, males juga kan kalau diam aja, mau tidur juga ga tenang karena nungguin orang PLN.

By the Way.. Balik lagi cerita ke film, akhirnya aku nyimak kisah supir taxi ini, eh kok aku jadi inget kisah tragedi Mei 98 ya? Tapi tragedi Gwangju ini lebih parah menurutku, rasa kemanusiaannya udah gak tau ada dimana, mengenaskan. Berawal Kim Man-Seoub, seorang supir taxi yang sedang kebingungan mencari uang untuk bayar uang kontrakan rumahnya, yang punya kontrakan udah marah – marah karena Kim nunda – nunda pembayarannya, apalagi anaknya Kim (11 tahun) yang tinggal sendirian (istri Kim udah meninggal karena sakit) bolak balik kena bully anak si pemilik kontrakan.Kim meminta anaknya untuk bersabar sambil ia melirik sepatu anaknya yang udah mulai rusak, hatinya jadi miris ngeliatnya, untuk beli sepatu anaknya aja dia belum sanggup, sampe suatu hari ia lihat di pasar ada sepatu bagus yang cocok untuk anaknya, tapi Kim gak langsung beli tuh sepatu, karena belum ada duitnya, selain itu dia udah janji sama anaknya nanti malam mereka mau jalan – jalan. Tapi rencana tinggal rencana, Kim malah dengar salah satu supir taxi di warung makan yang menceritakan kalau ada orang asing akan membayar 100.000 won untuk hari itu juga hanya dengan mengantarkan orang asing tersebut ke Gwangju. Kim curi start, dengan cepat ia mendatangi orang asing yang mau membayar 100.000 won tersebut, yang gak lain adalah wartawan dari Jerman, bernama Jurgen Hinzpeter. Pikirnya lumayan juga kan uang segitu banyak bisa bayar uang sewa rumah dan beliin sepatu untuk anaknya.

Kim Man – Seoub gak tau kalau daerah Gwangju yang ingin didatangin Jurgen Hinzpeter ini adalah daerah bermasalah, adanya demo besar – besaran akibat diktator Militer, akibatnya banyak pembunuhan massal, jalan – jalan diblokade, saluran telepon diputus. Dengan dibantu supir taxi dari Gwangju dan juga seorang mahasiswa bernama Gu Jae Shik, Jurgen berhasil merekam beberapa peristiwa mengerikan di Gwangju, termasuk pemukulan dan penyiksaan tentara pada warga yang dianggap menentang. Kim merasa hidupnya terancam, dia harus pulang karena masih ada anaknya seorang diri menantinya di rumah, beberapa kali ia minta haknya pada Jurgen, yaitu uang 100.000 won tetapi ada aja masalah sehingga Kim susah banget dapetin tuh uang, malah sempat nolak menerima uang tersebut, yang ia pikirkan adalah keselamatan dirinya, supaya bisa pulang dengan selamat. Tapi karena kondisi yang sangat berbahaya, supir taxi bernama Hwang Tae Sool, salah satu warga Gwangju berbaik hati memberikan Kim plat nomor polisi Gwangju untuk menutupi identitas Kim yang berasal dari Seoul. Tentara di Gwangju banyak yang terkecoh karena taxi Kim ditutup plat nomor polisi Gwangju, bahkan ada satu tentara yang mengetahui plat nomor yang sebenarnya membiarkan Kim meneruskan perjalanan ke Seoul. Setibanya di Seoul, Kim gak tenang, ia melihat banyak berita yang muncul tidak sesuai kenyataan, hati kecilnya mengatakan ia harus menolong Jurgen dan mengungkapkan kebenaran, Kim kembali lagi ke Gwangju dengan hati gelisah. Ia melihat Jurgen terluka, dan Gu Jae Shik, mahasiswa yang banyak menolong mereka meninggal dunia. Kim akhirnya minta supaya Jurgen gak berhenti merekam semua kenyataan yang ada di Gwangju, dengan segala macam cara Kim membantu Jurgen, ia mengatakan “kamu adalah penumpang saya, pulang nanti saya harus membawa penumpang”. kurang lebih Kim ngomong gitu deh… ?? efek lupa

Foto dari Pinterest

Jurgen bersemangat ketika tau Kim masih mau membantu, setelah merasa cukup dengan laporan beritanya, Jurgen dan Kim harus cepat tiba di Seoul, dibantu Hwang Tae Sool dan juga sekawanan taxi lainnya melindungi Kim dan Jurgen supaya sampai dengan selamat.
Adegan kejar – kejaran antar mobil musuh, beberapa taxi, dan cari jalan keluar yang aman dari jeratan blokade, pokoknya penonton jadi berharap supaya mereka cepat berhasil mencapai visi misi mereka. Bahkan Kim membantu nge-packing kaset – kaset video hasil rekaman di Gwangju disimpan rapi di dalam kaleng kue. Apakah Jurgen berhasil memberitakan pada dunia tentang kejadian yang sebenarnya di Gwangju? Tentunya berhasil.. Jurgen mendapatkan penghargaan atas usaha kerasnya, tapi dibalik itu semua Jurgen terus mengingat Kim Man – Seoub sebagai sahabat baiknya, tanpa jasa Kim Man – Seoub kejadian yang terjadi di Gwangju gak akan terungkap, sayangnya sampai akhir film Kim dan Jurgen belum pernah ketemuan lagi, Kim hanya tau berita terakhir Jurgen dari surat kabar.

Dan akhirnya team PLN datang dua kali, jam 1 malam dan jam setengah dua malam, udah ngantuk super waktu itu hahaha…

Jumanji VS Siomay

Ini kejadian tanggal 27 Desember yang lalu, antara niat gak niat mau pergi, antara niat gak niat juga makan siomay, dengan status beberapa teman yang lagi liburan, kami malah perginya niat gak niat, eh tapi siomaynya enak siih.. Jadi lama – lama diniatin jugalah makannya hahaha.. Setelah itu niat gak niat juga ke bioskop, beli tiket Jumanji.. Karena belinya niat gak niat mungkin yaa?? Jadi belinya lempeng aja gitu gak pake antri, hahaha.. Setelah kami beli tiket, loket tiket yang mau nonton Jumanji antri panjang.??

Terus gimana Jumanji zaman Now?? bagiku ini semacam menyibak rahasia tempat tinggal Allan Parrish selama berada di kotak Jumanji. Karena pemain barunya masuk lewat video game zaman old ya ampun.. Itu kan video game tipe kayak spica, nintendo, sega gtu kan? Tiba – tiba merasa video game zaman old itu kuno banget, hahaha.. Ketauan jugalah aku termasuk yang ngikutin Jumanji zaman old dulu, yang dibintangi mediang Robin Williams. Jadi bedanya lagi.. Jumanji 1995 pemain memainkan permainan sampai selesai, kalau di Jumanji yang sekarang, pemain langsung terjun ke lapangan, tapi tetep Jumanji berbagai zaman butuh permainan diselesaikan sampai tuntas.

Jumanji: Welcome to the Jungle (2017) – source : pinterest

Jumanji di tahun 1995 dan Jumanji 2017 ini keduanya sama – sama bagus di zamannya, tapi Jumanji 2017 ini lebih banyak komedinya menurut aku tanpa meninggalkan ciri khas Jumanji. Yang bikin menarik ada The Rock, Dwayne Johnson, Kevin Hart, dan Jack Black.. Cocok banget deh mereka, tapi pemeran lainnya juga cocok! Lucunya nangkep banget.

Biar ngena gimana lucunya mendingan nonton deh biar gak penasaran, review ala – ala aku ini juga gak mau panjang lebar lagi, mau ganti kalender dulu ?. Semoga di tahun 2018 ini kita semakin sukses dan semakin menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aamiin… Selamat tahun baru ya! ??

error: Content is protected !!