Hujan dan penantian

December 18, 2015

Penantian panjang terasa begitu lama bagiku saat ini. Waktu telah menunjukkan pukul 00.00… dan dering telepon belum satupun terdengar.

Sebuah penantian yang kuharapkan…

Aku menanti hujan sama seperti saat aku dapat mengenggam jemarinya, mencium aroma tubuhnya ditengah rintik hujan.. Bagaikan hujan penuh kerinduan. Apakah ini jatuh cinta???.

Hujan selalu mengingatkan aku akan kejadian manis itu. Aku menikmati setiap rintik hujan berdenting diatas dedaunan, diikuti denting piano, ~ Mozart Piano Sonata no.2~ yang kumainkan begitu syahdu.

beautiful-rain-photography_17 Sumber gambar: dari sini

Tiba – tiba suara dering phone itupun berdering jelas, aku cepat – cepat menjawabnya
“Laurel… ” nada suara itu begitu aku kenal.

“Maafkan aku…”

Detak jantungku semakin hebat, aku menanti jawaban yang paling menentukan bagiku ini.
“Maaf?” tanyaku semakin penasaran.
“Aku ada di depan pintu, aku akan memberikan jawabannya”

Aku menyesal telah memberitahukan isi hatiku ini pada Ado, aku tidak mau menerima jawabannya, apapun itu… Aku berlari menuruni anak tangga, langkahku terasa berat. Aku bukakan pintu untuk menemukan jawabannya, tapi seolah aku telah memberikan jawabannya, aku telah membuka pintu hatiku untuk sahabatku itu.

Mawar Putih…

Aku terdiam memandang mawar putih pemberian Ado. Aku tak berani menatap tatapan tajamnya yang telah berhasil merenggut hatiku itu.

“Apa maksudnya?” tanyaku lebih lanjut.

” Maafkan aku… aku tidak dapat menerimanya”

Kecupan lembut itupun mendarat pada keningku, sedangkan aku tak dapat menahan air mata. Semilir angin menerpa mawar putih hingga hilang terbawa angin. Genggaman tangan Ado perlahan lepas dari genggamanku, berjalan semakin menjauh. aku menatapnya tajam di tengah hujan, hingga bayangannya hilang dari pandanganku. Aku terdiam tak kuasa menahan tangis, hanya hujan yang mengerti bagaimana menyejukkan cinta yang datang terlambat ini.

#ceritafiksiidedarihujan

Leave a Reply