Long Distance

February 21, 2012

Ceritanya lagi ingat masa – masa harus berjauhan sama papa Aya. Ketika itu Aya baru berusia 8 bulan, terpaksa harus ketemu sama papanya dijatah, karena papanya dapat tugas harus kerja di pedalaman ( site ) di Halmahera. Di Site selama 2 – 3 Bulan, kemudian cuti 2 minggu.

Menjalani cinta jarak jauh ini ( cuit.. cuit.. kata – kata yang mewakili saat ini agak lebay dikit haahahaa..) berlangsung selama 5 tahun, Kira – kira 3 tahun di Halmahera, dan 2 tahun di Kalimantan, dan semua lokasinya berada di pedalaman hutan nan jauh disana,  Jadi mau cerita dikit gimana Aya waktu berjauhan sama papanya itu.

Yang pasti waktu papa Aya baru di Halmahera, Aya belum ngerti kalau papanya lagi ada dimana, tapi hampir setiap hari papa Aya selalu telepon sekedar nanya kesehatan atau cuma ingin dengar suara Aya. Yang lebih berkesan lagi, waktu itu Aya udah umur 1 tahun 2 bulan, Aya baru bisa jalan, dan aku cerita sama papa Aya melalui sms kalau Aya udah pinter jalan, dan jawaban papa Aya ” Wuuaahhh… aku ketinggalan moment itu….” hiks… ya sudah ga apa deh… yang penting kan Aya sehat, papanya sehat, dan semua sehat, hihihihi….

Masa awal pernikahan yang dilalui dengan jarak jauh memang susah – susah gampang, kadang – kadang suka paranoid sendiri di rumah hehe… paranoidnya sih bukan macam – macam.. tapi karena waktu itu aku juga masih ngantor dan otomatis pengurusan rumah, dan urus Aya sendirian, tapi aku masih bersyukur karena selain keluarga yang membantu  dan mendukung banget, ada juga beberapa teman/sahabat yang selalu menemani.

Salah satu bentuk Paranoid yang sempat aku alami adalah  ketika Aya harus masuk sekolah untuk pertama kalinya ( PlayGroup). Aku sempat ikut free trial di Tumbletoth di daerah Galaxy Bekasi Barat. Rencananya mau ambil setiap hari sabtu aja karena aku libur, jadi kan bisa anter Aya sekolah setiap sabtu. Setelah masa free trial habis, Aya malah protes gak mau masuk ke sekolah tersebut, ia lebih memilih sekolah yang dekat dengan rumah eyangnya, ya sudah.. gak mungkin juga maksa kehendak kita ke anak kan? aku daftarkan aja sesuai apa yang Aya minta,  hitung – hitung jadi merasa lebih tenang kalau lagi ngantor, karena Aya jadi lebih mudah di kontrol eyangnya kalau  berangkat / pulang sekolah.

Dan ada juga beberapa teman yang mengalami hal yang sama, mau gak mau berjauhan dengan suami karena pekerjaan :

Pertama :  adalah teman dekatku sejak SMA, ibu dengan satu anak perempuan, suami yang juga harus kerja di pedalaman Kalimantan selama 2 – 3 bulan, dan dapat cuti juga 2 minggu.  ^ _ ^

Kedua : Teman satu kantor, tapi ia tinggal di Banjarmasin, karena kami sama – sama satu perusahaan dan satu divisi jadi kadang – kadang aku dan dia sering sharing suka duka kalau lagi long distance sama suami, kebetulan ia juga baru punya anak satu, cewek, yang usianya cuma lebih tua dari Aya satu tahun.  ^ ^

ketiga : teman satu kantor juga, waktu itu ia baru menikah dan harus langsung berjauhan dengan suaminya, jadilah ia lebih memilih masih tinggal dengan orang tuanya 🙂

keempat : teman masa kerja duluuuuu…. yang ketemu lagi gara – gara BBM Group :).  Ia juga ibu muda dengan anak masih usia dua tahun, terpaksa harus berjauhan dengan suaminya, karena suaminya yang seorang kontraktor kalau aku tidak salah ingat,  harus berada di luar kota dalam beberapa bulan. Temanku yang satu ini akhirnya juga sering ngungsi ke rumah ibunya karena ia bekerja dan seorang anak yang ia sering titipkan ke ibunya.

By the way, ada juga pengalaman yang sempat bikin ribet sendiri  :

– Bagaimana repotnya kalau anak sakit, belum lagi urusan rumah yang mendadak perlu bantuan tenaga cowok, misalnya genteng bocor atau ganti kran air yang mau gak mau harus diganti. Karena aku bukan tipe si tukang yang berani naik – naik genteng kalau ada yang bocor, jadilah panggil tukang buat perbaiki genteng, hehe..  Itu baru urusan genteng, ada juga urusan ganti pompa air yang pernah rusak, terus sempat juga pralon air untuk keluar masuknya air dari tanah ke pompa, kemasukkan bangkai tikus >.< … uffff!!!  yang bikin air jadi bau bangkai!. Bikin eneg !!! @_@  jadi gak bisa dipakai dulu tuh air waktu itu karena harus dikuras dan ganti pralon, setelah penggantian pralon dan air udah kembali jernih, tetap gak bisa langsung dipakai, karena bau bangkainya lengket sampai hampir satu setengah bulan lebih.   -______ – !

Dan sering juga kalau lagi ada acara dari kantor yang mengikutsertakan keluarga, suami sering absen hadir, habis mau gimana lagi? orangnya lagi di site hehehe…..

Dampak kalau lagi berjauhan dengan pasangan juga ada,  yaitu  jadi hobby banget begadang, ini kebiasaan aku waktu masih harus menjalani “long distance”, kalau awal masa berjauhan masih ada yang menemani, yaitu si mbak asisten yang bantu – bantu bersih – bersih rumah, tapi di akhir masa “long distance” si  mbak malah pulang kampung, alhasil aku dan Aya sering berdua. Terus ngapain aja kalau udah begadang gitu ?? banyak … haahhahaha… misalnya :

1. nonton, terserah mau film Korea, Barat, tapi kebanyakan sih Korea hahaahaha… sampai tissue suka habis sama aku gara – gara nangis kalau udah adegan sedih ( lebay yaa.. hehe).

2. Chatting or Teleponan sama papa Aya 🙂

3. Chatting dengan teman – teman, dan sempat chatting dengan paman yang berada di Sumatera dan Jawa, keduanya waktu itu juga lagi ‘long distance’ dengan pasangannya.

4. Dari Chatting itu sebenarnya ada tawaran juga buat ON AIR dari teman yang kerja di Female Radio, waktu itu sih aku tinggal disuruh kirim ceritanya melalui email kirim ke dia, nanti akan ditelepon buat menceritakan gimana menjalani cinta jarak jauh hehehe.. maksudnya pernikahan jarak jauh. Waktu itu aku mau banget.. tapi karena udah ribet sendiri sampai saat ini ceritanya belum terkirim juga buat share di radio hehehe…

5. Baca buku.

Sebenarnya kalau mau dibilang sih… siapa sih yang mau menjalani pernikahan jarak jauh? hampir semua mengatakan pasti gak ada yang mau, tapi kadang – kadang memang hidup harus dijalani dengan hal – hal yang kadang – kadang kita gak inginkan, walau begitu tetap ada hikmah positif di balik ‘long distance’ ini  :

1. Lebih menghargai pasangan, apalagi keberadaan pasangan kalau lagi ketemu 🙂

2. Otomatis lebih dekat dengan keluarga, baik itu orang tua kandung, mertua, kakak ipar, adik, sahabat… dll, yang pasti memang ini salah satu penghapus rasa kangen dengan suami kalau lagi melanda hahaahaha… intinya menepis kesepian dengan dekat dengan keluarga.

3. Konsen banget jadinya ke anak, karena anak juga pelepas kangen juga sih.. hehe..

4. Kalau papa Aya lagi cuti… hampir tiap  dua bulan sekali melihat binar mata Aya yang seneeeeennngggg banget liat papanya datang, kayak adegan di film gitu deh.. papanya baru datang, buka pintu rumah … terrruusssss……

TAAARRAAAAA…. !!!

Aya dengan wajah lucunya senyum – senyum seneng sambil lari – lari, teriak manggil papanya dan *pluk! satu pelukan kangen Aya buat papa tercurah… 😀  Duh!.. bikin terharu gak sih? hahaahha… coba ya tiap adegan itu aku rekam hehehe… :P.

Jadi, gimana dengan teman atau mama – mama lain yang pernah mengalami cinta jarak jauh dengan papanya anak – anak?? yang penting jaga kepercayaan satu sama lain, dan lebih akrab dengan keluarga tercinta. 😉

Jason Mraz & Colbie Caillat – Lucky

Lagu ini sering terngiang – ngiang waktu masih ‘long distance’ 🙂

0 People reacted on this

  1. jadi kebayang jaman aku kecil dulu, tiap papaku pulang kantor juga langsung lari keluar nungguin di depan pintu, minta gendooong… hihihi…

    Haah.. kalo long distance kita bisa toss mba.. been there done that banget.. hahahaha..

  2. Ber-LDR ria emang menantang! Aku selalu angkat topi buat pasangan yang bisa LDRan, hebat banget nahan kangennya. 🙂

    Aku paling lama LDR ma suami selama setahun, abis itu rasanya udah nggak mo pisah, kemana-mana bareng hihihihihi…. 😀 *jadi curcol*

    1. Chitta.. Siapa bilang aku tahan ber LDR ria??? Hahahahaha… Gak kuat sebenarnya.. Hihi.. Malah kadang suka nangis kalau lagi kangen bgt.. *curcol jg jadinya hehehe… Kalau bisa emang ga usah ber LDR ria deh… Xixixixiixxi…

Leave a Reply