Nonton Upin – Ipin : Keris siamang tunggal, di hari libur sekolah

May 28, 2019

Picture property rights lescopaque

Libur sekolah memang udah dimulai, apalagi udah mendekati lebaran gini, udah rame yang mulai persiapan mudik. By the way, jadi ceritanya tanggal 25 Mei kemarin, Fa bagi raport, ga terasa lhoo Fa mau naik kelas 2, dan Aya udah mau masuk SMP, bener – bener ga terasa.. semua begitu cepat berlalu hehe…

Pulang dari ambil raport, cuzz nobar dengan teman sekelas Fa, Aya juga ikut.. seru dan lumayan rempong hiihihi…

Jadi kenapa milih nonton Upin – Ipin? Padahal ada film baru berjudul Aladdin, tapi katanya Aladdin yang baru ini cocoknya malah untuk dewasa, jadi karena ini edisi pengen nyenengin anak – anak, ya sudah lah rame – rame janjian sama beberapa teman sekelas Fa yang mau ikutan nobar. Kebetulan serial Upin – Ipin di TV juga favorit aku, jadi penasaran juga kalau di layar lebar si Upin – Ipin ini istimewanya apa? Karena yang kita tahu kan, serial Upin Ipin di TV seputar dunia bermain dan belajarnya mereka, kalau di angkat ke layar lebar memangnya apa yang mau diangkat?

Film yang berawal cerita dari sebuah keris, kemudian Upin – Ipin dan teman – temannya terseret ke sebuah kerajaan yang sedang mengalami kehancuran. Disinilah cerita serunya terjadi, supaya Team Upin – Ipin bisa pulang kembali ke kampung durian runtuh, mereka harus membantu mengembalikan takhta kerajaan pada raja yang sebenarnya.

Ada beberapa hikmah baiknya sih yang bisa diambil dari cerita Upin – Ipin Keris siamang tunggal ini, tapi menurut aku untuk anak dibawah 5 tahun film ini belum cocok ditonton, karena banyak adegan perkelahian dan adegan melempar anak uupppsss…. tapi untuk anak diatas 5 tahun kemungkinan udah mulai ngerti alasan mengapa ada adegan brantemnya, asalkan tetap didampingi orang tua yaa.. selebihnya sih ceritanya bagus kok, tetap ada pesan moral yang disampaikan.

1. Keris siamang tunggal, dapat menghancurkan kejahatan dengan syarat harus dipenuhi air mata yang jatuh karena ketulusan untuk saling memaafkan.

Jadi adegan yang ditemukan untuk saling memaafkan ini ada beberapa yang kutemui, yaitu cerita si Malin Kundang (kalau versi dongengnya Indonesia), tapi di film keris siamang tunggal ini dikisahkan seorang ibu yang menyesal telah melemparkan sumpah sehingga anaknya menjadi batu. Jadi disinilah si ibu yang menyesal dan memaafkan anaknya, tetapi sayang si Tanggang gak bisa kembali lagi jadi manusia, si Tanggang hanya bisa mengeluarkan air mata bersamaan dengan tetesan air mata ibunya, dan kehancuran perahu yang dinaiki si Tanggang yang berupa batu juga tenggelam tanpa jejak.

Oh ya, ternyata kisah Malin kundang ini ada beberapa versi dari 3 negara lhoo… baru tahu juga aku gegara nonton Upin – Ipin ini.. hihihihi… yaitu Malin Kundang dari Indonesia, Si Tanggang dari Malaysia, dan Nakhoda Manis dari Brunei Darussalam.

Dongeng kedua, tentang bawang merah dan bawang putih. Menurut kisah dari Upin Ipin (di film keris siamang tunggal ini), Bawang merah cukup dipanggil merah aja, kalau bawang putih cukup dipanggil Putih, nah.. kalau versi Malaysia, yang jahat adalah si Putih, karena telah memfitnah merah sehingga si merah di penjara. Kalau di Indonesia kan yang jahat si bawang merahnya yaa… hehehe…

Air mata yang dibutuhkan terakhir supaya keris bisa digunakan secara maksimal, adalah air mata si pangerannya (Bang Jenin) itu sendiri. Ketika Bang Jenin nangis, lengkap deh air mata yang diperlukan supaya keris dapat digunakan.

2. Menjaga amanah. Nah, di film keris siamang tunggal ini, kisah si Panglima raja yang diamanahkan untuk menjaga Bang Jenin, sehingga Bang Jenin dapat mengalahkan kejahatan dibantu Upin & Ipin.

3. Menjaga persatuan. Ada adegan dimana si Bang Jenin jadi kesal dengan Panglima karena Bang Jenin gak bisa melindungi ayahnya ketika ia masih kecil dulu. Si Pangeran ingat pada saat ayahnya yang masih seorang raja, dibunuh oleh raja palsu, yaitu Raja Mersiong. karena kejadian itulah kerajaan Inderloka jadi gak aman. Upin – Ipin mengingatkan untuk saling menjaga persatuan. Bahasaku kok jadi kayak belajar PPKN yaa.. hahaha..

4. Kerinduan akan kampung halaman, kerinduan akan pertemuan dengan Opah dan Kak Rose. Biasanya kalau udah gak ada baru nyesel, di cerita ini juga seperti mengingatkan untuk menyayangi orang – orang tersayang selagi masih ada.

Itu aja sih pesan moral yang aku dapatkan selama nonton, ada yang bisa tambahkan? Atau malah belum nonton? Lumayan sih film ini buat isi liburan selama nunggu buka puasa, sayangnya ditayangkan pas bulan puasa dan menjelang lebaran, jadi rasanya film ini hanya tenar diseputar anak – anak aja, hahahaha…

2 People reacted on this

Leave a Reply