Petualangan Hidup Yang Membahagiakan

February 13, 2016

Kain Batik Penuh Pesona

Sudah beberapa tahun kain – kain batik menumpuk di sudut lemariku, tidak pernah aku lihat lagi apalagi menyentuhnya, hingga suatu saat aku ingin tampil sedikit berbeda, sederhana, modis, dan sedikit etnik. Kain – kain batik yang menumpuk itupun aku lihat lagi satu persatu, menyesal setelah melihat lagi kain batik yang sudah lama teronggok di sudut lemariku itu. Kain Batik dengan motif sederhana, berwarna hitam legam, sangat elegan. Siapa yang tak terpesona melihat Batik Madura ini pikirku? Belum tentu semua orang memilikinya, aku suka motif dan bahannya. Ada batik lain yang masih tersimpan rapi, berwarna ungu lembut dengan motif kekinian. Aku harus menjadikan kain – kain ini menjadi sesuatu yang bisa digunakan dan dibanggakan.
Keputusan untuk menjahit kain – kain batik itu ternyata memakan waktu yang cukup lama untukku, siapa yang tega jika dijahit pada penjahit yang hasil pekerjaannya tidak rapi?. Akhirnya aku malah memutuskan menjahitkan batik hitam dan ungu tersebut pada penjahit keliling, itupun tidak mudah mempercayai mereka, hanya saja kebetulan beberapa kali pernah mengecilkan dress, baju, atau celana pada salah satu penjahit keliling langganan. Hasilnya tidak mengecewakan, dan sangat terbantu dengan kehadiran mereka. Banyak pakaian seperti gamis, dress, celana yang harus di perbaiki dulu sebelum aku pakai, penjahit keliling dengan mengayuh sepeda tanpa lelah berkeliling menawarkan jasa untuk menyelamatkan koleksi pakaian supaya dapat digunakan menjadi lebih nyaman, tak kalah cantik dengan pakaian yang dijual di toko atau mal.

Dibalik kisah Cin – Cin Idaman

Sebenarnya keinginanku ingin punya cin – cin ala India sudah lama terpendam, tapi karena selama berpergian kemana saja tidak pernah terlihat cin – cin idaman itu, sampai suatu ketika aku mengikuti salah satu seminar Usaha Kecil, Mikro, dan Menengah yang diselenggarakan Organisasi Women for The World, diprakarsai oleh ibu Rosa Rai Djalal. Seminar yang diadakan berkesinambungan itu bekerja sama dengan Universitas Indonesia. Pada acara tersebut banyak aku temui wanita Indonesia hebat yang sukses dengan karir wirausaha mereka. Salah satunya adalah Mbak Ajeng Diah Kusumawardhani dan Ibu Rahmi. Mbak Ajeng seorang ibu yang telah memiliki usaha penginapan Villa Rumah Lembah Bunder, Bogor, selain itu beliau juga melakukan usaha kuliner rumahan yaitu tahu homemade tanpa bahan pengawet, tanpa formalin. Usaha tahunya tersebut diberi nama Tahu Koboy. Sedangkan Ibu Rahmi mempunyai usaha pembuatan aksesoris yaitu cin – cin dan gelang cin-cin bergaya India. Ibu Rahmi memamerkan hasil karyanya ketika pertama kali aku bertemu dengannya. Hampir tidak percaya, cin-cin ala India ini adalah cin – cin yang selama ini aku inginkan, siapa duga ternyata ibu Rahmi membuatnya sendiri, tanpa bantuan siapapun. Ibu Rahmi perantau dari Sumatera Barat ini menderita lupus, ia terpaksa harus ke Jakarta karena ingin berobat, dan baru saja menjalani operasi tulang panggul, tetapi semangat dan perjuangannya begitu hebat. Ia tidak ingin kalah dengan keadaannya, di tengah sakitnya ia masih bisa berkreasi membuat cin – cin dan cin – cin gelang khas India. Hasil karya Ibu Rahmi sangat indah, bahkan aku membeli satu cin – cin, sebenarnya aku ingin membeli dua, yang satunya lagi gelang cin-cin, tapi sayang gelang cin-cin sudah habis terjual. Ketika aku tanyakan kapan gelang cin-cin akan ada? Ia menjawab tergantung kondisi kesehatannya. Ibu Rahmi membuat semua hasil karyanya itu disesuaikan dengan kesehatan beliau dan akupun memakluminya. Ibu Rahmi berjalan dibantu dengan tongkat, bahkan kursi roda, bisa bayangkan bagaimana ia membeli bahan – bahan untuk pembuatan cin-cin tersebut? Ternyata ia membeli secara online, dunia digital telah memudahkan Ibu Rahmi membeli bahan – bahan, sehingga ia tetap berkarya dengan segala keterbatasannya.

cincinindia1Cin-Cin Bergaya India yang aku beli dari hasil karya Ibu Rahmi.

cincinindia2

gelang-cincin-india-gold-mix-colourcontoh gelang india. Sumber foto :dari sini

Selama mengagumi hasil karyanya, dia bercerita bagaimana ia dapat menyelesaikan satu cin-cin yang terkadang memakan waktu dalam hitungan bulan, karena jari – jemarinyapun terkadang tak mampu memegang bahan – bahan cin-cin terlalu lama. Selain itu ia juga bercerita bagaimana perjuangannya ke rumah sakit, berjalan dari satu ruang ke ruang lainnya dari menemui dokter dan mengurus obat – obatan tanpa bantuan siapapun. Ibu Rahmi benar – benar sebatang kara di Jakarta. Ada perasaan kasihan padanya, tapi aku salah menilai dirinya, ia wanita kuat dan optimis, bahkan ia mengatakan bahwa semua yang ia hadapi adalah petualangan hidup bukan cobaan hidup. Aku terenyuh mendengarnya di usianya yang sudah tidak muda lagi dan menderita Lupus, ia mampu berjuang, berkarya, serta optimis menghadapi hidupnya. Semoga saja Ibu Rahmi selalu dilindungi Allah, sehat selalu, hasil karyanya semakin dikenal khalayak ramai.
foto wftwAku, Mbak Ajeng, dan Ibu Rahmi.

Tulisan ini disertakan dalam kompetisi penulisan blog BTPN, dan mengikuti simulasi menabung untuk memberdayakan dari BTPN yang berfokus pada kesehatan, kesejahteraan serta pelatihan praktis keterampilan wirausaha.

hasilsimulasi2Simulasi I : estimasi tabungan awal Rp. 500.000, jangka waktu menabung yang diambil sebanyak 8 tahun.

hasilsimulasi1Hasil Simulasi

Leave a Reply