Hadiah Terbaik


Tiada beban bagiku setelah memberikan hadiah terbaik untuk mama, yaitu kejujuran.

Aku ingin bermain ke rumah temanku, tapi siapa yang bisa menemaniku? Dengan jarak yang gak dekat dari rumah, aku gak yakin mama mengizinkan aku kerumah temanku. Kebetulan waktu itu ada supir yang biasa antar jemput sekolah, dia bersedia mengantarkan aku ke rumah temanku. Akhirnya dia menyarankan untuk pergi diam – diam aja, kalau ditanya mama, jawab aja “ belajar bersama” demikian sarannya waktu itu. Tanpa beban apapun akupun mengikuti sarannya. Setelah pulang sekolah aku langsung ke rumah temanku itu diantar oleh pak supir. Dan selanjutnya apa??? aku berhasil! Yeaayy.. ! siapa yang gak senang bisa main dan kumpul dengan teman sebangku di sekolah?, dan yang paling penting pertemuan kami bukan di sekolah dan diluar jam belajar!, ini hebat menurutku.

Supir baik hati yang telah mengantarkan aku itupun bersedia menunggu aku sampai aku selesai bermain. Temanku mengajak aku makan siang bersama, main bersama, dan yang paling aku ingat saat itu adalah adik dari temanku itu lumpuh, terkulai lemah di tempat tidur tanpa bisa berbuat bebas semaunya karena sakit, hatiku terenyuh saat itu.

Tidak terasa waktu menunjukkan sore hari, pak supirpun menyarankan aku supaya cepat pulang, bak ketakutan kekuatan sihir ibu peri akan segera hilang, aku pun pamit pulang dengan hati bahagia tapi gak enak hati. Mama gak pernah tau kalau aku udah pernah bermain jauh dari rumah, bahkan sampai berjam – jam. Akupun gak ada usaha ngasih tau mama, tapi apa yang terjadi??? Berhari – hari gak tenang, harusnya aku bicara. Tapi aku lebih memilih diam.

Kejadian dua puluh tujuh tahun yang lalu itu telah mempertemukan aku dengan kejujuran yang sebenarnya. Diam dalam kebohongan selama tiga minggu bagi anak SD adalah kegelisahan yang luar biasa, kecamuk dalam hati karena berbohong, mungkin ini cara yang kurang tepat.

Akhirnya kejujuran itu meluncur dari mulutku sendiri, dan kemarahan mama yang aku pikirkan selama ini gak pernah terjadi, mama malah tersenyum. Pengalaman ini sangat melekat di dalam hati.

Tulisan ini tidak bermaksud menyalahkan siapapun
Karena kejujuran yang tulus adalah dari hati.

Mama juga telah menyentuh hatiku untuk berhijab. Kejujuran berikutnya untuk aku sebagai wanita muslim adalah berhijab. Sebelum aku berhijab justru mama sering membeli majalah muslimah yang disarankan untuk berhijab. Waktu itu gak sedikitpun aku tersentuh pengen berhijab, memang waktu masih SMP udah pengen berhijab tapi itu hanya angin lalu. Dari majalah – majalah pemberian mama pelan – pelan hatiku mulai terbuka. Gak pernah sedikitpun ada paksaan atau sekedar ikut – ikutan, justru kata perkata dari majalah yang mengajariku tentang hijab. Secara tidak langsung mama telah mengajarkan aku tentang kejujuran seorang wanita muslimah yang bangga dengan identitasnya yaitu dengan berhijab. Akhirnya aku berhijab karena kejujuran dan rasa syukur. Bagiku ini merupakan hadiah terbaik untuk diriku, mama, dan keluarga.

Me & Mom

Tulisan ini adalah pengalaman yang sebenarnya oleh penulis yang disertakan dalam lomba Moxy. Aku ngerti kalau hadiah terbaik untuk mama gak tergantikan dengan apapun, karena pengorbanannya udah mengandung selama 9 bulan dengan penuh kasih sayang. Tetapi lewat kata – kata sederhana ini setidaknya aku ingin melihat mama tersenyum.

error: Content is protected !!