Semua Karena Cinta

 

Meskipun kita mencoba mengajarkan anak – anak
Kita semua tentang kehidupan. Anak – anak kita telah mengajarkan
Kita semua tentang kehidupan
Angela Schwindt

Dua minggu yang mengkhawatirkan

Hampir dua bulan yang lalu, aku mengalami kegalauan menghadapi Aya.
Ada apa dengan Aya?
Tiba – tiba Aya sering menangis tanpa sebab. Ke sekolah harus sama aku.
Aku gak boleh kemana -mana, harus selalu disamping Aya.
Lalu bagaimana kalau aku gak bisa nongkrong seharian di depan sekolah?

Me and Aya

Aya nangis di pojokkan dengan alasan yang aneh.
Kalau pernah baca postinganku yang berjudul Cinderella?. Di postingan itu Aya mengatakan selalu ingin.bersama mama.. lama -lama aku cari penyebabnya. Soalnya makin kesini makin gak beralasan.. teman –temannya malah ada yang bilang “Aya ngumpet di kolong meja”  Aduh! Aku tau kenapa dia ngumpet di kolong meja. Alasannya : Karena aku beberapa kali mengingatkan “Coba untuk tidak menangis, karena malu udah gede kok nangis terus, kalau ketauan miss (panggilan murid ke guru) malu kan?”.

Dan benar aja.. Aya nangis lagi karena aku telat datang. Pusing pala berbie.. beybeh… Kenapa Aya jadi begini?
Ini udah gak bisa dianggap remeh. Aku jadi ingat beberapa cerita teman atau berita – berita di media massa, bagaimana kejahatan atau tindakan yang merugikan anak terjadi. Aku takut Aya di bully, atau ada yang melecehkan dia, atau ada yang jahat ke dia. Mau gak mau aku harus mencari apa sumbernya.
Hampir dua minggu jalani seperti ini, menunggu Aya di sekolah. Terpaksa menelantarkan pekerjaan rumah. Sedangkan Fa aku titipkan dulu ke mamaku, tapi juga gak selalu bisa karena mamaku terkadang ada acara diluar rumah.
Dan selama dua minggu itulah aku menilik, melihat, bertanya pada teman dekat Aya, guru, supir sekolah, bahkan jadi saling bertukar cerita pada para mama – mama yang pernah mengalami hal seperti ini. Dari hasil cerita para mama, kebanyakkan karena teman ada yang menganggu. Baik gangguan dari ucapan ataupun gangguan secara fisik.
Salah satu cerita yang aku dapatkan dari mama yang pernah mengalami hal yang sama. Menangis tanpa sebab, tidak mau berpisah dari mamanya, persis sama seperti yang aku alami. Ternyata bunda dari teman Aya bercerita, kalau anaknya diganggu oleh teman sekelasnya. Awal masalahnya karena teman Aya ini sangat jujur, ia mengingatkan teman sebangkunya untuk tidak mencontek. Alhasil malah dimusuhi. Selain itu mengatur hubungan pertemanannya. Jadi anak SD kelas tiga udah mulai ngebentuk ‘genk’ gitu kayak di sinetron. Aduh.. Sinetron lagi sinetron lagi.. Bagusnya aku selalu melarang Aya nonton sinetron. Tapi jadi khawatir juga sama cerita teman Aya ini, ibunya berbulan – bulan harus menunggu anaknya di sekolah. Penyelesaiannya, bunda akhirnya mengetahui anaknya dan sahabatnya itu saling curhat lewat surat. Alhamdulillah.. sekarang anaknya udah ceria lagi, udah mulai bisa memilih mana yang cocok jadi temannya dan yang tidak.
Apakah Aya juga mengalami hal yang sama???
Setelah aku lihat sendiri dan segudang pertanyaan pada teman,guru, dan Aya sendiri… Aya gak mengalami gangguan dari temannya. Kalaupun ada gangguan dari teman, sifatnya hanya sementara dan tidak terlalu membahayakan. Lalu apa?? Apa salahku juga? Ya kan.. aku juga manusia biasa.. bisa aja kan mungkin selama ini ada kata – kataku mungkin bikin Aya jadi kecewa atau jadi salah pada dirinya. Jadi aku berusaha selalu terbuka pada Aya, karena Aya sangat tertutup pada saat itu.
Cemburu pada Fa?

Apa iyaya..? Kan Fa juga udah mau tiga tahun waktu itu, Aya juga udah pinter ngemong adeknya. Setelah aku lihat – lihat iya juga sih nih.. ada faktor cemburu juga hahaha..

Tapi hasil percakapan dengan wali kelas, menyimpulkan kalau Aya mengalami temper tantrum, Hah?? Masa? Setau aku temper tantrum dialami anak – anak usia pra TK sampai TK gitu kan?. Gak percaya gitu aja.. ngulik ngulik ke mbah Google. Sedikit aku jelasin disini tentang temper tantrum ya.. yaitu ledakkan marah – marah yang tidak terencana. Marah – marahnya bisa dilampiaskan dalam bentuk menangis keras, teriak – teriak, menjerit, memukul, mencubit. Dan liat dari usia biasanya dialami pada usia 1- 4 tahun, tapi tidak menutup kemungkinan bisa terjadi pada anak diatas usia 1 – 4 tahun, bahkan pada orang dewasa. ( sumber keterangan tentang tantrum dari sini). Hmmm… selain harus memupuk kesabaran ekstra, aku juga harus bener – bener cari sumbernya dong, kalau gak repot aja deh.. tiap Aya mau sekolah aku harus duduk manis juga dekat meja pak satpam? Hahaha..

We are teamwork!
Aya manjur dengan kata – kata teamwork ini awalnya. Dapat ide dari film “Grandpa in my pocket” Aku jelaskan bahwa film tersebut mengandung maksud bahwa dalam satu keluarga adalah teamwork yang saling membantu. Kalau Aya mau sekolah, itu udah bantu aku banget, dan udah kerja team yang bagus. Intinya siiihhh.. Kita harus saling mengisi dan saling bantu. Keren! Aya mau sekolah. Tapi ini Cuma sementara aja, setelah itu dia kembali menangis mendadak tanpa sebab. Sungguh aku makin pusing kepala Ken. ( pala berbi udah sembuh pusingnya :p).

 

April penuh kejutan
Pertengahan April yang lalu semua terungkap. Waktu itu aku dan Aya sedang berencana akan membuat cupcake yang selama ini ia rencanakan. Asli! Sebenarnya aku sendiri kurang suka sama cupcake hahaahha.. selain rasanya yang manis banget menurut aku, terus kalau bisa dibentuk cantik – cantik gitu yang kayak di toko kue bikin sayang mau makannya. Cocoknya jadi hiasan aja daripada kue hahahaa.. Tapi ya sudahlah.. pengorbanan aja karena Aya udah lama pengen bikin. Eh, Gak taunya.. dia cerita kenapa dia selalu menangis selama ini disekolah.. Alasannya karena dia gak rela mamanya naik – naik ojek ke sekolah bersama orang asing. Lah? Supir ojek gitu maksudnya kan? Aku pun tercengang.. jjiiaahh.. selama ini juga kadang emaknya Aya ini naik ojek juga ga apa – apa kaliiiii… hahahaha..

Aya dan DeevaHasil kue abaikan yaa.. yang penting mereka berdua mau usaha 🙂

Setelah sesi Aya curhat dan setelah cupcake selesai di eksekusi, tiba – tiba Aya gak mau sekolah, dikasih pengertian apapun dan rayuan gimanapun gak mempan. Ini namanya bangunin macan tidur! hahaha.. darah mendidih rasanya Aya gak mau sekolah dengan alasan yang sama seperti dulu. Dengan berpikir keras akhirnya aku turuti kemauannya, tetapi pikiran muter, hukuman apa kira – kira yang efektif tetapi tetap mendidik?
Awalnya aku nyetrap dia dulu selama 15 menit, maksudnya biar Aya gak enak – enakkan tapi aku juga sambil mikir hukuman yang efektif untuk hari ini. Akhirnya aku putuskan dia untuk kerja. Aku katakan pada Aya bahwa manusia dan makhluk hidup di dunia ini punya peran dan tugas masing – masing. Contohnya cicak makan nyamuk biar Aya gak digigit nyamuk. Cacing tugasnya menggemburkan tanah, biar tanahnya subur. Lebah tugasnya ngumpulin nectar untuk dijadikan madu. Nah.. Tugas Aya adalah sekolah, itu kewajibanmu. Tapi kalau kamu gak mau melakukan tugasmu, berarti hari ini harus kerja. Ember yaa.. Jadi berasa gak tau dapat ilham dari mana itu kata – kata kekekeekekeke.. Aku berharap hukumanku manjur, jadi ini tugas Aya waktu dia gak mau sekolah :
1. Bersihkan kamar mandi ( dua kamar mandi)
2. Rapikan tempat tidur
3. Bersihkan lantai atas
4. Siram tanaman
5. Hapalkan perkalian
6. Menulis pengalamannya hari ini
7. Hapalkan beberapa surat pendek

Jadi istirahatnya cuma waktu makan, mandi, dan sholat. Jadi gak ada waktu santai dari bangun tidur sampai mau tidur malam. Aku pun akhirnya bertanya lagi, Apa besok mau bolos sekolah lagi? Alhamdulillah.. hukuman berlaku efektif, Aya jawab besok dia sekolah. Lah iyalah.. kalau sekolah kan masih ada jam istirahat. Di rumah? Emaknya lebih galak wkwkwkwkwkwkw.. Ya tapi.. maksud semua ini kan menumbuhkan sikap tanggung jawab pada dirinya. Semoga kedepan Aya lebih baik lagi. Sampai saat ini Aya udah gak lagi bertingkah laku seperti temper tantrum ( justru agak kurang jelas ini temper tantrum apa bukan? Hahaha..).
Jadi apakah air mata alasan terus bersama mama itu masih ada?? Owh.. tentu tidak! Karena Aya ingat kalau gak sekolah jadi banyak tugas dan PR, gak boleh nonton, dan gak boleh main. Cuma manyun deh liat adeknya bebas main hihihihi…

error: Content is protected !!