2020 oh… 2020

May 2, 2020

Ketika pergantian tahun pasti kita semua berharap tahun depan lebih baik, kalau bisa semua cita – cita, keinginan kita terwujud semua, hidup bahagia, sukses, pokoknya semua lebih baik daripada tahun lalu. Tapi namanya manusia kan tetap aja cuma bisa berusaha, tetap apapun yang terjadi keputusan dari Tuhan adalah yang paling baik.

Memasuki tahun 2020 juga udah diuji dengan banjir, gak disangka tanggal 1 Januari 2020 hujan deras seharian penuh bikin banjir besar, banjir dimana – mana, akses lumpuh karena banjir, toko juga kemasukan banjir, tapi tetap bersyukur aja karena kerugian pada toko ada, lumayan besar tapi tetap pelan – pelan bisa tertangani. Akses ke rumah banjir, tapi rumah masih aman, Alhamdulillah..

Setelah itu ada berita info Corona yang menyerang Wuhan, tetap optimis aja Corona pasti gak masuk Indonesia. Tapi dugaan tetap salah, Corona udah merebak Eropa, Korea, Singapore, dan hampir terjadi secara global cepat banget… lama – lama Indonesia juga kena.. ada apa ini ya Tuhan???? kadang pikiran mengeluh itupun terbersit, sama sekali gak siap kedatangan mas Covid dan mbak Corona ini, bahkan kalau bisa mereka gak usah mampir kesini, seperti kedatangan Zombie, mengerikan! Dan mendadak semua jadi sepi…

Tapi karena dunia ini milik Illahi, gak pantas rasanya mengeluh dengan kondisi dan situasi apapun yang terjadi, toh selama ini manusia udah dikasih nikmat yang luar biasa. Bagaikan anak sekolah.. kalau mau naik kelas kan harus ikut ujian dulu, apakah mungkin ini disebut manusia dipaksa untuk naik level??? Sebelum naik level diharuskan ikut ujian dulu supaya ngerti hikmah apa yang diambil dari semua kejadian. Baiklah.. aku berpikir seperti itu aja, manusia sedang diuji, jadi wajib rasanya berpikir positif untuk fokus pada hikmah apa yang bisa diambil dengan adanya Corona ini :

1. Jadi guru.

Sejak corona jadi pandemi, orang tua mendadak jadi guru di rumah, tugas dari guru lewat WA grup
dan kirim hasil tugas lewat WA juga, kadang – kadang belajar dari fasilitas youtube, benar – benar terbantu sebenarnya media online ini, tapi yang bikin pusing… anak kenapa kalau diajarin emaknya banyak alasan hihihi.. bikin kepala mendidih rasanya. Jadi ngerti gimana rasanya guru mengajar selama ini, apalagi guru menghadapi berbagai karakter anak. Hikmah positifnya lagi dari kegiatan ini, mungkin ada yang terbiasa menyerahkan urusan pendidikan anak di sekolah, orang tua tinggal terima beres, padahal pendidikan yang benar berawal dari rumah. Lagi keadaan begini mau gak mau orang tua jadi ikut belajar dan peran serta penuh mendidik anak di rumah, dipaksa untuk mengerti sampai sejauh mana kemampuan anak selama ini.

2. Jadi membiasakan diri hidup sehat

Hidup sehat jadi perhatian banyak orang saat ini, mulai memperhatikan makanan yang bergizi, dari zaman sekolah kita dulu ya mak.. sebenarnya udah dapat pelajaran makanan 4 sehat 5 sempurna, tapi makin kesini kadang membiasakan menjaga makanan sehat sedikit mulai tergeser, karena makanan atau kuliner saat ini jadi sebagian lifestyle. Sebenarnya gak ada yang salah dengan lifestyle dengan berkuliner itu sih… cuma urusan makanan seimbang gizinya jadi sedikit kurang diperhatikan. Urusan cuci tangan juga, dulu seringnya cuci tangan sebelum dan sesudah makan, kalau sekarang dikit – dikit cuci tangan, dan ini tangan kadang sampai kering lhoo kena sabun terus hahaha.. Pemakaian hand sanitizer juga jadi terbiasa dibawa – bawa kemana – mana, jadi lebih mudah cuci tangan kalau lagi gak bisa cepat nemu air bersih. Dulu pakai hand sanitizer ini kebanyakan di area rumah sakit aja, sekarang hampir semua sudut nemuin hand sanitizer, ramai – ramai dipakai banyak orang. Masker juga jadi pusat perhatian sekarang ini, kalau dulu mungkin baru beberapa orang aja yang terbiasa menggunakan masker sebagai penutup ketika naik motor, naik kendaraan umum (yang multifungsi juga buat nutup mulut kalau gak sengaja ketiduran, menghindar mulut menganga kemana – mana hahaha…), atau dulu malah cuek kalau ada yang flu gak pakai masker, padahal virusnya bisa nular ke tubuh orang lain yang sehat. Sekarang liat aja… hampir semua pakai masker, bagi yang sakit maupun yang sehat. Masker jadi inceran semua orang, harganya sempat melambung tapi sekarang udah banyak memproduksi masker kain dengan gaya, motif, dan warna yang lucu -lucu, kadang jadi bagian fashion juga lho!.

3. Memberikan kesempatan bumi istirahat dari kerja kerasnya.

Selama ini beban bumi udah berat, lapisan ozon yang menipis, kebakaran hutan, polusi, pencemaran air, sampah yang menumpuk, pemanasan global, banjir, dan masih ada beberapa lagi.

Tapi sekarang semua orang diharuskan berada di rumah. Kegiatan di luar rumah berkurang, otomatis mobilitas berkurang. Toko – toko tutup, pasar sepi, kendaraan berkurang, polusi berkurang, udara lebih segar, langit lebih biru dan cerah, kupu – kupu lebih bebas berterbangan. Semua terlihat lebih tenang. Apakah alam merindukan haknya untuk restart ulang kehidupannya? Apakah dengan keadaan ini membuat kita jadi berpikir “adakah kondisi ini membuat kita lebih tenang dan lebih sehat?” Bukankah kesehatan yang alami itu selaras dengan harmoni lingkungan yang sehat? Bukan lagi tergantung dengan obat – obatan.

4. Solidaritas sosial meningkat

Banyak yang terkena dampak pandemi ini terutama dalam perekonomian, selama ini mungkin individualisme banyak ditemui terutama penduduk kota. Situasi pandemi ini seperti mengajarkan kita bahwa manusia itu sama aja, gak peduli status sosialnya seperti apa, yang kena penyakit virus Corona mematikan ini bisa siapa aja, mulai dari pejabat penting, artis sampai orang yang kita gak kenal dia itu siapa.. siapapun bisa kena!. Karena merasa senasib, merasa sama – sama terancam karena virus, jadilah rasa berbagi menjadi lebih meningkat, banyak sosial media juga ngasih info betapa banyak saudara – saudara dekat kita yang saling membutuhkan bantuan. Jiwa kemanusiaan bertambah, rasa empati tumbuh.

Berbagi (pic Pexels)

Masih banyak hal positif lagi yang terjadi akibat pandemi ini, salah satunya juga berbagi info resep dan rempah – rempah yang menyehatkan untuk tubuh. Mulai dari iming – iming bisa sembuhin dari Covid atau sekedar meningkatkan imun tubuh. Dan beberapa inovasi baru yang diusahakan supaya virus tidak menyebar lebih luas.

Mungkin ini adalah cara Tuhan berkomunikasi pada manusia, bahwa manusia itu lemah, menghadapi makhluk kecil tak terlihat aja bisa gak berdaya. Mungkin ini cara Tuhan menegur manusia, betapa manusia selama ini udah banyak diberi kenikmatan tapi banyak lupa untuk bersyukur. Mungkin ini cara Tuhan juga menegur manusia, bahwa titipan Tuhan berupa alam ini banyak diabaikan manusia. Tuhan menyuruh kita untuk berpikir dan RESTART lagi tatanan kehidupan manusia dan lingkungannya.

Bersatu melawan Covid 19 juga dibutuhkan usaha dan ikhtiar, tetap didasari manusia bukanlah siapa – siapa dihadapanNya.

“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka” QS Ar-Ra’d:11.

2 People reacted on this

Leave a Reply