Apa maksud gelang dalam kasus cfd

Lihat Foto

ANTARA FOTO / HAFIDZ MUBARAK A

Suasana pesta kembang api saat malam tahun baru 2018 di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Senin (1/1/2018). Sejumlah warga ibukota dan sekitarnya memadati kawasan itu untuk merayakan malam pergantian tahun 2017 ke 2018.

Sepekan lebih, terjadi perdebatan soal intimidasi yang diperlihatkan video viral saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor alias Car Free Day (CFD), Minggu (29/4) pekan lalu.

Awalnya perdebatan berkisar antara adanya intimidasi atau tidak. Namun belakangan, perdebatan mengarah kepada tagar alias tanda pagar #KodeGelang, yang berafiliasi dengan aksi intelijen di balik peristiwa intimidasi CFD.

Adalah Mustofa Nahrawardaya, seorang Aktivis Muhammadiyah yang juga vokal bersuara di media sosial, dan kerap menjadi narasumber di Televisi.

Baca juga: Sandiaga Minta Jakarta Smart City Cek Video Viral Bernuansa Politis di CFD

Tofa, panggilannya, yang pertama kali mengungkapkan bahwa ada gelang khusus yang dipergunakan saat CFD lalu, dan diduga kuat menjadi penanda aksi, yang ditengarainya berkaitan dengan operasi Intelijen.

Gelang 

Gelang yang dimaksud, adalah gelang Kokka, yang berasal dari Arab Saudi, selain sering digunakan untuk asesoris, juga bisa digunakan untuk membantu menghitung bacaan dzikir.

Benarkah apa yang disampaikan Tofa?

Saya mewawancarainya dalam progam AIMAN, yang akan tayang malam ini (7/5/2018) pukul 20.00 wib di KompasTV.

Saya mewawancarainya detail terkait hal ini, termasuk ada tiga alasan ia ungkapkan.

Ia menggunakan istilah operasi Intelijen, karena ada sebuah kesengajaan yang nyata, menurutnya.

Tidak mungkin hal ini adalah sesuatu yang alami terjadi, tanpa ada operatornya.

Gelang bukan satu–satunya tanda, adanya kecurigaan ini.

“Gelang hanya dipakai menandakan kelompok yang memiliki tujuan sama untuk menyukseskan aksi”, menurut Tofa yang kerap menganalisi kasus kriminal di media massa.

Selain gelang, ada aksi sepekan sebelumnya di tempat yang sama dari kelompok yang berseberangan dengan kelompok #2019GantiPresiden dan berkumpul di sekitar Bundaran HI.

Kombespol Argo Yuwono. (Foto: Fitra Andrianto/kumparan)

Kasus intimidasi saat car free day di Bundaran HI, Jakarta, Minggu (30/4) masih terus didalami polisi. Belakangan muncul tudingan aksi intimidasi di CFD itu sudah terorganisir dengan kode tertentu, yakni sebuah gelang.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengaku belum mengetahui soal gelang itu. Dia juga tak mau banyak mengomentari soal kabar yang berkembang dari kasus ini.

"Tunggu saja hasil penyelidikan kasusnya nanti seperti apa. Biar clear dan jelas kejadiannya seperti apa," kata Argo di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (3/5).

Korban intimidasi Massa #2019GantiPresiden. (Foto: Facebook/Susi Ferawati)

Argo memastikan penyidik saat ini masih terus bekerja mendalami kasus intimidasi yang dialami Susi Ferawati dan Stedi Rapki Watung.

Kabar soal kode gelang ini diungkap pemilik akun Twitter @netizentofa dalam wawancara di acara Dua Sisi TVOne. Kode yang dimaksud berupa gelang coklat berbentuk biji.

Seorang Ibu dan anaknya diintimidasi di CFD (Foto: Others/Youtube)

Dia menunjukkan, Fera dan orang yang mengintimidasinya mengenakan gelang yang sama. Beberapa foto lainnya menunjukkan peserta juga mengenakan gelang yang sama.

Sementara saat dihubungi terpisah, Fera telah membantah tudingan bahwa gelang itu merupakan gelang kode. Menurutnya, gelang itu merupakan gelang yang ia beli toko souvenir Masjid Nabawi Madinah.

"Itu saya beli waktu umrah. Ke mana-mana selalu saya bawa dan selalu saya pakai. Jadi kalau saya khawatir, takut, atau marah saya gunakan untuk zikir di Jakarta," kata Fera.

Mustofa Nahra Wardaya (Foto: Dok. Pribadi)

Di balik ramai-ramai kasus intimidasi di car free day (CFD), Bundaran HI, Jakarta Pusat, pada Minggu (29/4). Pegiat Media Sosial, Mustofa Nahrawardaya memiliki analisa dan pandangan yang unik terhadap kasus tersebut.

Pertama, baik pelaku, korban maupun para provokator dan orang yang mengaku polisi di lokasi kejadian menggunakan gelang yang hampir sama.

Kedua, kaus #DiaSibukKerja yang dipakai massa saat itu memiliki rupa yang seragam, dari segi warna, ukuran, hingga desainnya. Sehingga anak-anak yang memakai kaus itu, terlihat kedodoran.

Ketiga, Mustofa tidak melihat ada yang menjual kaus #DiaSibukKerja di area CFD. Hal ini berbanding terbalik dengan kaus #2019GantiPresiden yang banyak dijual bebas di kawasan CFD.

Keempat, sebenarnya polisi telah mengimbau agar massa #DiaSibukKerja tidak melewati Bunderan HI dan tetap di kawasan Patung Kuda. Namun, ternyata massa melewati Bundaran HI dan sebagian menerobos ke massa #2019GantiPresiden.

Kelima, yang membuatnya aneh adalah ada beberapa orang yang mengaku sebagai polisi tetapi mengenakan gelang yang mirip dengan pelaku, korban, dan provokator intimidasi.

Berikut beberapa kejanggalan lain versi Mustofa:

Keenam, beberapa hari sebelum aksi, ada orang yang mengaku sebagai koordinator #2019GantiPresiden, untuk menggalang aksi di CFD. Padahal, orang itu tidak dikenal di komunitas #2019GantiPresiden.

Ketujuh, Koordinator misterius ini, kemudian mengajukan izin aksi ke polisi dan ditolak. Kemudian, koordinator aneh ini mengumumkan pembatalan aksi secara sepihak.

"Aneh, sudah rahasia umum, orang ke CFD kan tanpa izin. Demo sekalipun, juga tanpa izin. Ini kok mengajukan izin. Mungkin ada yang memerintah koordinator misterius tersebut agar membatalkan aksi, dengan harapan massa aksi tagar #2019GantiPresiden yang terlanjur percaya sama koordinator, membatalkan juga kehadirannya ke HI," kata Mustofa.

Kode gelang insiden CFD. (Foto: Dok. Istimewa)

Kedelapan, ada juga orang mengaku Koordinator Nasional #2019GantiPresiden bernama Effendi Saman, namun ketika ditanya ke inisiator tagar #2019GantiPresiden yakni Mardani Ali Sera dan Neno Warisman, ternyata hal itu tidak benar.

"Beliau (Mardani dan Neno) tidak pernah mengangkat, menyuruh, atau memberi tugas kepada siapa pun, termasuk Effendi Saman, untuk pendelegasian sebagai Kornas #2019GantiPresiden," ucap nya.

Kesembilan, dua massa ini sama-sama mengaku tidak dikoordinir, tapi peserta berkaus #DiaSibukKerja bisa hadir dan mendapat kaus seragam dan ada perempuan-perempuan berkaus #DiaSibukKerja mengedrop makanan kotakan tak terhitung jumlahnya.

Kode gelang insiden CFD. (Foto: Dok. Istimewa)

Kesepuluh, ada orang mengibas-ngibaskan uang, lalu ada orang berkaus #2019GantiPresiden membeli paksa kaus yang dikenakan pihak lain, lalu ada yang mengejek dengan kata-kata tertentu.

"Jika semua itu dianggap kejahatan, anehnya, tak ada satupun polisi menangkap mereka. Ada juga orang yang merampas spanduk, juga tidak ditangkap. Padahal banyak sekali polisi di lokasi," bebernya.

Terakhir, yang kesebelas, dan paling mencengangkan, Susi berteriak sangat dramatis, dengan mengucapkan 'kalian ini Muslim apa?'. Menurut Mustofa, hal itu sangat janggal karena Susi secara spontan berteriak seperti itu.

"Bagaimana dia bisa spontan menganggap pelakunya Muslim? Termasuk ucapan 'Kita tidak takut!' dan seterusnya, itu mirip gaya sinetron. Menurut saya, perlu latihan lama untuk bisa meneriakkan ucapkan semacam di video yang beredar. Ucapan Bu Susi benar-benar mirip artis," pungkasnya.


Page 2