Bagaimana hubungan antara perdagangan dengan masuknya Hindu budha ke Indonesia?

SEJARAH NUSANTARA PADA ERA KERAJAAN HINDU-BUDDHA

HP Bebas Pulsa : 0800 1234 000

SEJARAH NUSANTARA PADA ERA KERAJAAN HINDU-BUDDHA

Indonesia mulai mengembang pada zaman kerajaan Hindu-Buddha berkat hubungan dagang dengan negara-negara tetangga maupun yang bertambah jauh seperti India, Tiongkok, dan wilayah Timur Tengah. Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal tarikh Masehi, dibawa oleh para musafir dari India selang lain: Maha Resi Agastya, yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para musafir dari Tiongkok yakni musafir Budha Pahyien.

Pada ratus tahun ke-4 di Jawa Barat terdapat kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha, yaitu kerajaan Tarumanagara yang dilanjutkan dengan Kerajaan Sunda sampai ratus tahun ke-16.

Pada saat ini pula muncul dua kerajaan luhur, yakni Sriwijaya dan Majapahit. Pada saat ratus tahun ke-7 sampai ratus tahun ke-14, kerajaan Buddha Sriwijaya mengembang pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok I-Tsing mengunjungi ibukotanya Palembang lebih kurang tahun 670. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Tengah dan Kamboja. Ratus tahun ke-14 juga menjadi saksi bentuknya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit selang tahun 1331 sampai 1364, Gajah Mada, berhasil mendapatkan kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian luhurnya yaitu Indonesia beserta hampir semua Semenanjung Melayu. Warisan dari saat Gajah Mada termasuk kodifikasi hukum dan pembentukan muslihat budi Jawa, seperti yang tampak dalam wiracarita Ramayana.

Masuknya nasihat Islam pada lebih kurang ratus tahun ke-12, melahirkan kerajaan-kerajaan bercorak Islam yang ekspansionis, seperti Samudera Pasai di Sumatera dan Demak di Jawa. Munculnya kerajaan-kerajaan tersebut, secara perlahan-lahan mengakhiri kejayaan Sriwijaya dan Majapahit, sekaligus menandai yang belakang sekali dari era ini.

Kronologi

  • 101 - Penempatan Lembah Bujang yang mempergunakan aksara Sanskrit Pallava membuktikan hubungan dengan India di Sungai Batu. [1]
  • 300 - Kerajaan-kerajaan di asia tenggara telah melakukan hubungan dagang dengan India. Hubungan dagang ini mulai intensif pada ratus tahun ke-2 M. Memperdagangkan barang-barang dalam pasaran internasional misalnya: logam mulia, perhiasan, kerajinan, wangi-wangian, obat-obatan. Dari sebelah timur Indonesia diperdagangkan kayu cendana, kapur barus, cengkeh. Hubungan dagang ini memberi pengaruh yang luhur dalam warga Indonesia, terutama dengan masuknya nasihat Hindu dan Budha, pengaruh yang lain tampak pada sistem pemerintahan.
  • 300 - Telah dilaksanakannya hubungan pelayaran niaga yang melintasi Tiongkok. Dibuktikan dengan perjalanan dua pendeta Budha yaitu Fa Shien dan Gunavarman. Hubungan dagang ini telah lazim dilaksanakan, barang-barang yang diperdagangkan kemenyan, kayu cendana, hasil kerajinan.
  • 400 - Hindu dan Budha telah mengembang di Indonesia dilihat dari sejarah kerajaan-kerajaan dan peninggalan-peninggalan pada saat itu selang lain prasasti, candi, patung dewa, seni ukir, barang-barang logam. Keberadaan kerajaan Tarumanagara diberitakan oleh orang Cina.
  • 603 - Kerajaan Malayu berdiri di hilir Batang Hari. Kerajaan ini merupakan konfederasi dari para pedagang-pedagang yang bermula dari pedalaman Minangkabau. Tahun 683, Malayu runtuh oleh serangan Sriwijaya. {referensi?}
  • 671 - Seorang pendeta Budha dari Tiongkok, bernama I-Tsing berangkat dari Kanton ke India. Ia singgah di Sriwijaya kepada berusaha bisa kelola bahasa Sanskerta, selanjutnya ia singgah di Malayu selama dua bulan, dan baru melanjutkan perjalanannya ke India.
  • 685 - I-Tsing kembali ke Sriwijaya, disini ia tinggal selama empat tahun kepada menterjemahkan kitab suci Budha dari bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Tionghoa.
  • 692 - Salah satu kerajaan Budha di Indonesia yaitu Sriwijaya tumbuh dan mengembang menjadi pusat perdagangan yang dikunjungi oleh pedagang Arab, Parsi, dan Tiongkok. Yang diperdagangkan selang lain tekstil, kapur barus, mutiara, rempah-rempah, emas, perak. Wilayah kekuasaannya meliputi Sumatera, Semenanjung Malaya, Kamboja, dan Jawa. Sriwijaya juga menguasai jalur perdagangan Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut China Selatan. Dengan penguasaan ini, Sriwijaya mengontrol lalu lintas perdagangan selang Tiongkok dan India, sekaligus menciptakan kekayaan bagi kerajaan.
  • 922 - Dari sebuah laporan tertulis diketahui seorang musafir Tiongkok telah datang kekerajaan Kahuripan di Jawa Timur dan maharaja Jawa telah menghadiahkan pedang pendek berhulu gading berukur pada kaisar Tiongkok.
  • 932 - Restorasi kekuasaan Kerajaan Sunda. Hal ini muncul menempuh Prasasti Kebon Kopi II yang bertanggal 854 Saka atau 932 Masehi. [2]
  • 1292 - Musafir Venesia, Marco Polo singgah di anggota utara Sumatera dalam perjalanan pulangnya dari Tiongkok ke Persia menempuh laut. Marco Polo berpendapat bahwa Perlak merupakan sebuah kota Islam.
  • 1292 - Raden Wijaya, atas izin Jayakatwang, membuka hutan tarik menjadi permukiman yang dikata Majapahit. Nama ini bermula dari pohon Maja yang berbuah pahit di tempat ini.[3]
  • 1293 - Raden Wijaya memanfaatkan tentara Mongol kepada menggulingkan Jayakatwang di Kediri. Memukul mundur tentara Mongol, lalu ia naik takhta sebagai raja Majapahit pertama pada 12 November.[3]
  • 1293 - 1478 - Kota Majapahit menjadi pusat kemaharajaan yang pengaruhnya membentang dari Sumatera ke Papua, kecuali Sunda dan Madura. Daerah urban yang padat dihuni oleh populasi yang kosmopolitan dan menjalankan berbagai macam pekerjaan. Kitab Negarakertagama menggambarkan keluhuran muslihat budi Majapahit dengan cita rasa yang halus dalam seni, sastra, dan ritual keagamaan.[3]
  • 1345-1346 - Musafir Maroko, Ibn Battuta menempuh Lautan dalam perjalanannya ke dan dari Tiongkok. Diketahui juga bahwa Lautan merupakan pelabuhan yang paling penting, tempat kapal-kapal dagang dari India dan Tiongkok. Ibn Battuta mendapati bahwa penguasa Lautan yaitu seorang pengikut Mahzab Syafi'i salah satu nasihat dalam Islam.
  • 1350-1389 - Puncak kejayaan Majapahit dibawah pimpinan raja Hayam Wuruk dan patihnya Gajah Mada. Majapahit menguasai semua kepulauan di asia tenggara bahkan jazirah Malaya berdasarkan dengan "Sumpah Palapa" yang mencetuskan bahwa Gajah Mada menginginkan Nusantara bersatu.
  • 1478 Majapahit runtuh belakang suatu peristiwa serangan Demak. Kota ini berangsur-angsur dihindarkan masyarakatnya, tertimbun tanah, dan menjadi hutan jati.[3]
  • 1570 - Pajajaran, ibukota Kerajaan Hindu terakhir di pulau Jawa dihancurkan oleh Kesultanan Banten.

Kerajaan Hindu/Buddha

Kerajaan Hindu/Buddha di Kalimantan

Kerajaan Hindu/Buddha di Jawa

Kerajaan Hindu/Buddha di Sumatra

Referensi

  1. ^ Tamadun 1900 tahun di Merbuk, Oleh OPAT RATTANACHOT, Utusan Malaysia 9 April 2010.
  2. ^ Herwig Zahorka, The Sunda Kingdoms of West Java From Tarumanagara to Pakuan Pajajaran with the Royal Center of Bogor, Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta, 2007
  3. ^ a b c d "Kronologi Kota Majapahit", Kompas, 5 Januari 2009


Sumber :
p2k.al-quran.co, wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, andrafarm.com, dan lain sebagainya.

Tags (tagged): sejarah nusantara pada, era kerajaan, hindu, buddha, unkris, sejarah, nusantara pada, era, kerajaan hindu buddha, nusantara, pada era kerajaan, hindu buddha, sejarah nusantara prasejarah, kerajaan hindu, kutai abad, majapahit, pada masa, abad, ke 7 hingga, abad ke, 14, masyarakat indonesia terutama, masuknya ajaran, sriwijaya, mengontrol lalu lintas, perdagangan, pusat, ilmu, pengetahuan i salah, satu ajaran, dalam, islam 1350 1389, puncak sejarah, nusantara pada era

Menu
Cibinong, Bogor Jawa Barat
Lokasi Rumah Dekat CCM (Cibinong City Mall)