Batang sorgum bisa diolah menjadi bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan yaitu

Jakarta - BUMN bidang nuklir, PT Batan Teknologi (Persero) mengembangkan dan mengelola perkebunan sorgum secara korporasi. Tahap awal sorgum ditanam di Nusa Tenggara Timur (NTT).Sorgum diharapkan bisa menggantikan gandum yang selama ini harus diimpor 100%, volume impornya mencapai 7 juta ton per tahun dengan nilai Rp 30 triliun. Gandum tidak mungkin ditanam di Indonesia karena tanaman ini hanya tumbuh di daerah dengan iklim 4 musim."Kami tanam sorgum di NTT sebanyak 700 hektar. Kita punya cita-cita gantikan gandum. Kita saat ini impor 7 juta ton per tahun. Itu sama saja dengan Rp 30 triliun setiap tahun. Itu tumbuh di negara dengan 4 musim tapi kita konsumsi gandum. Kita sampai kiamat pun kita masih impor," kata Direktur Utama Batan Teknologi Yudiutomo Imardjoko pada acara Indonesia Green Infrastructure Summit 2014 di Pacific Place, Jakarta, Selasa (29/4/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tahun ini diproyeksi Batan Tekno bisa menanam sorgum pada lahan seluas 1.000 hektar. Untuk penanaman, Batan Teknologi menggandeng masyarakat di NTT. Ke depan penanaman sorgum akan terus ditingkatkan menjadi 3.000 hektar. Perseroan memiliki rencana besar yakni menanam sorgum hingga 600.000 hektar agar Indonesia bisa lepas dari ketergantungan impor gandum."Kami perlu 600.000 hektar. Itu hitungan business sangat bagus. Off taker jelas," sebutnya.Untuk pengembangan tanaman sorgum ini, Batan Teknologi memanfaatkan teknologi nuklir tingkat radiasi super rendah yang dikembangkan perseroan. Sehingga masa panen bisa dipercepat. Masa panen bisa dilakukan setiap 3 bulan sekali."Biasanya sorgum tumbuh 6 bulan, ini bisa 3 bulan," jelasnya.Selain bisa dipakai sebagai pengganti gandum, sorgum juga bisa menjadi alternatif pengganti padi. "Sorgum nggak perlu air seperti padi. Sorgum diubah jadi beras sorgum. Ini lebih murah dari beras," jelasnya.Manfaat lain dari tanaman sorgum adalah untuk bahan baku bio ethanol. Batang sorgum bisa diolah menjadi sumber energi ramah lingkungan."Batangnya diperas untuk bio ethanol 99%. Itu untuk masyarakat NTT. Walaupun kami di bidang nuklir, kami dukung renewable energy," paparnya.Yudi optimis pengembangan sorgum akan sukses karena dikelola dengan prinsip korporasi. Hal ini berbeda ketika pemerintah yang menggalakkan pengembangan tanaman jarak untuk bahan bakar bio ethanol."Kami jalankan pertanian sorgum, kita jalankan korporasi perkebunan. Kesuksesan akan tinggi. Beda seperti jarak," paparnya.

(feb/hen)

Kebutuhan energi di Indonesia semakin meningkat. Bertambahnya jumlah penduduk, juga tingkat pertumbuhan ekonomi yang harus dijaga, membuat permintaan akan energi, terutama energi fosil dari minyak bumi, semakin bertambah dari tahun ke tahun. Di sisi lain, produksi minyak Indonesia menunjukkan kecenderungan menurun dalam beberapa tahun belakangan. 

Di masa lalu, Indonesia pernah memproduksi minyak hingga 1,6 juta barel per hari saat kebutuhan di dalam negeri hanya mencapai 500 ribu barel per hari. Kelebihan produksi diekspor ke luar negeri. Minyak pernah menjadi komoditas penyumbang pendapatan negara terbesar. Saat itu Indonesia juga menjadi anggota penting Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC). Namun sejak 2004, Indonesia menjadi net importir minyak alias negara pengimpor minyak, karena jumlah produksi sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan nasional. 

Pada saat ini, kemampuan produksi minyak di dalam negeri kurang dari 800 ribu barel per hari. Sementara kebutuhan mencapai 1,5 juta hingga 1,6 juta barel per hari. Selisih yang cukup besar tersebut tentu saja mengkhawatirkan. Tidak saja menguras devisa negara untuk impor minyak, kebutuhan yang besar tersebut kalau tidak diantisipasi akan mengantarkan Indonesia ke jurang krisis energi yang semakin parah. 

Salah satu upaya mengantisipasi kebutuhan energi yang sangat besar saat ini adalah dengan menggalakan energi terbarukan untuk mengurangi penggunaan energi fosil. Misalnya dengan memanfaatkan tanaman energi. Berbagai gagasan telah muncul, misalnya, dengan pemanfaatan etanol dan biomasa, karena Indonesia punya potensi besar. Selain bisa membantu melengkapi kebutuhan energi, penggunaan etanol dan biomassa sebagai energi alternatif dapat membantu mengurangi polusi dan emisi gas rumah kaca. 

Di antara tanaman yang mempunyai potensi menghasilkan etanol dan biomasa yang maksimal adalah sorgum. Semua bagian dari tanaman sorgum, mulai dari biji hingga batang (nira) dapat dijadikan sumber energi terbarukan dalam bentuk etanol maupun biomasa dalam bentuk biopellet. 

Sorgum merupakan tanaman multifungsi. Selain bisa dimanfaatkan untuk penyediaan energi alternatif, sorgum juga bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan dan pakan. Dengan masa tanam hingga panen sekitar 90-100 hari, serta bisa dipanen beberapa kali, sorgum cocok dibudidayakan di berbagai daerah di Indonesia, bahkan di daerah beriklim panas dan sedikit air.

Satu tangkai sorgum jika diperas akan menghasilkan sekitar 50 persen nira. Dengan kadar etanol mencapai 40-60 persen, nira tersebut bisa diolah menjadi etanol pengganti bahan bakar minyak (BBM). Namun, untuk menjadi bahan subtitusi BBM, etanol yang dibutuhkan adalah dengan kadar 99-100%. Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan, 1 ton batang sorgum bisa menghasilkan 50 liter etanol. Sementara 1 ton biji atau grain sorgum mampu menghasilkan 375 liter etanol. 

Selain untuk etanol, limbah tanaman sorgum juga mengandung biomasa melimpah yang bisa dimanfaatkan untuk biopellet. Pemanfaatan limbah sorgum untuk dijadikan biopellet ini juga tengah dikembangkan banyak pihak sebagai alternatif penyediaan energi. Peningkatan jumlah produksi sorgum, serta peningkatan penggunaan untuk kebutuhan energi alternatif diharapkan bisa menjadi jawaban dari krisis energi fosil yang terjadi pada saat ini. *** (Aranzsa Audi, dari berbagai sumber)