Bentuk bentuk dukungan rakyat indonesia terhadap proklamasi kemerdekaan indonesia


Dukungan Rakyat dan Daerah terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia – Semangat patriotisme, nasionalisme, rasa kebanggaan, dan heroisme demikian terasa setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan. Rakyat di berbagai daerah pun memberi dukungan penuh.

Bagaimana bentuk dukungan rakyat terhadap proklamasi kemerdekaan? Salah satu bentuk dukungan rakyat Indonesia adalah rapat raksasa di lapangan Ikada (silang Monas). Rapat tersebut dilaksanakan pada tanggal 19 September 1945. Rapat di lapangan Ikada bertujuan menyambut peringatan satu bulan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan memberikan dukungan terhadap pemerintah Republik Indonesia yang baru berdiri.

Rapat tersebut hanya berlangsung dalam waktu singkat karena Jepang telah mengerahkan pasukan dengan persenjataan lengkap. Untuk menghindari bentrokan, Soekarno, Moh. Hatta, dan beberapa menteri memilih tidak berlama-Iama di lapangan Ikada. Soekarno kemudian memberikan pidato singkat yang isinya sebagai berikut.

  • Meminta dukungan dan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah Republik Indonesia.
  • Menuntut rakyat untuk mematuhi kebijakan-kebijakan pemerintah secara disiplin.
  • Memerintahkan rakyat bubar meninggalkan lapangan dengan tenang.

Walaupun berlangsung singkat, rapat di lapangan Ikada merupakan bukti tekad dan kesungguhan bangsa Indonesia untuk merdeka. Rapat ini menjadi bukti dukungan dan kepercayaan rakyat Indonesia terhadap pemerintahan yang baru berdiri. Selain dalam bentuk rapat di lapangan Ikada, dukungan terhadap prokiamasi diwujudkan dalam berbagai bentuk dan terjadi di berbagai daerah.

Apa saja peristiwa penting yang menunjukkan dukungan rakyat secara spontan terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia?

Dukungan Rakyat Terhadap Proklamasi

Peristiwa penting yang menunjukkan dukungan rakyat secara spontan terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, antara lain sebagai berikut.a. Rapat Raksasa di Lapangan lkada Di berbagai tempat, masyarakat dengan dipelopori para pemuda menyelenggarakan rapat dan demonstrasi untuk membulatkan tekad menyambut kemerdekaan.

Bagaimana dukungan berbagai lapisan terhadap proklamasi Indonesia?

KOMPAS.com – Dukungan berbagai lapisan terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia mulai dari golongan pemuda hingga penguasa kerajaan di berbagai daerah. Tahukah kamu bagaimana dukungan berbagai lapisan terhadap proklamasi Indonesia? Mengutip Sumber Belajar Kemdikbud RI, berita proklamasi Kemerdekaan Indonesia cepat bergema ke berbagai daerah.

See also:  Nama suku yang berasal dari jakarta?

Apa yang dilakukan rakyat Palembang dalam mendukung Proklamasi dan menegakkan kedaulatan negara Indonesia?

7) Tindakan Heroik di Palembang – Rakyat Palembang dalam mendukung proklamasi dan menegakkan kedaulatan negara Indonesia dilakukan dengan jalan mengadakan upacara pengibaran bendera Merah Putih pada tanggal 8 Oktober 1945 yang dipimpin oleh dr.A.K. Gani.

Mengapa Proklamasi Kemerdekaan menimbulkan tanggapan dari rakyat Indonesia?

Proklamasi Kemerdekaan, menimbulkan tanggapan dari rakyat Indonesia berupa gerakan spontan rakyat Indonesia yang mendukung Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Rakyat Indonesia berupaya menegakkan kedaulatan Indonesia yang baru saja merdeka.3.

Setelah mengetahui dan mendengar tentang peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia, maka penduduk di seluruh penjuru wilayah Indonesia secara spontan dan gembira mendukung proklamasi kemerdekaan Indonesia.

1. Aksi perjuangan rakyat Jakarta

Dengan merampas beberapa pucuk senjata milik Jepang, bambu runcing, senjata tajam lainnya, rakyat Jakarta menyerbu tempat-tempat penting yang masih diduduki Jepang. Johar Nur memimpin para pemuda mengambil alih kereta api pada tanggal 3 September 1945. Jawatan Radio dikuasai Republik Indonesia pada tanggal 11 September 1945. Para pemuda melakukan aksi corat-coret, menuliskan semboyan-semboyan perjuangan di tembok-tembok, kereta api, trem. Semboyan tersebut antara lain: “Merdeka atau mati, “Sekali Merdeka tetap merdeka”.

2. Rapat raksasa di lapangan Ikada (19 September 1945)

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan tanggal 17 Agustus 1945, pada 19 September 1945, para pemuda Jakarta dipelopori oleh Komite Van Aksi Menteng 31 merencanakan menggerakkan massa dalam suatu rapat raksasa di Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta) dengan tujuan agar Presiden Sukarno berbicara langsung di hadapan rakyat. Lapangan Ikada terletak di bagian selatan Lapangan Monas (Monumen Nasional) sekarang. Penjagaan tentara Jepang sangat ketat, tetapi tidak menggoyahkan rakyat untuk menghadirinya. Presiden Sukarno tidak jadi berpidato dan hanya menyampaikan beberapa pesan singkat, antara lain meminta rakyat supaya percaya pada pemimpin dan pulang dengan tenang.

Makna dari rapat raksasa di Lapangan Ikada:

a. Berhasil mempertemukan pemerintah RI dengan rakyatnya.

b. Perwujudan kewibawaan pemerintah RI di hadapan rakyat.

c. Berhasil menggugah kepercayaan rakyat akan kekuatan bangsaIndonesia sendiri.

3. Insiden bendera di Surabaya

Pada hari yang sama, ialah tanggal 19 September 1945 di Surabaya terjadi suatu peristiwa yang kemudian terkenal dengan sebutan “Insiden Bendera”. Insiden Bendera terjadi karena tindakan beberapa orang Belanda yang mengibarkan bendera Belanda (Merah Putih Biru) pada tiang di atas Hotel Yamato, Tunjungan. Tindakan tersebut menimbulkan kemarahan rakyat Surabaya, yang kemudian menyerbu Hotel Yamato untuk menu-runkan bendara Belanda tersebut dan merobek yang berwarna biru. Kemudian menaikkan nya kembali sebagai bendera Merah Putih.

4. Pernyataan dukungan Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Pernyataan Sri Sultan Hamengkubuwono IX berbunyi sebagai berikut:

a.   Bahwa Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat yang bersifat kerajaan adalah Daerah Istimewa dari negara republik Indonesia.

b.   Bahwa kami sebagai Kepala Daerah memegang segala kekuasaan dalam Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat, dan oleh karena itu berhubung dengan keadaan pada dewasa ini segala urusan pemerintah dalam Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat mulai saat ini berada di tangan kami dan kekuasaankekuasaan lainnya kami pegang seluruhnya.

c.   Bahwa perhubungan antara Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat dengan Pemerintah Pusat Negara Republik Indonesia bersifat langsung dan kami bertanggung jawab atas Negeri kami langsung kepada Presiden Republik Indonesia.

Kami memerintahkan supaya segenap penduduk dalam Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat mengindahkan amanat kami ini. Ngayogyakarta Hadiningrat, 28 Puasa, Ehe, 1876 (5 September 1945) Hamengkubuwono IX

Peristiwa itu diikuti oleh daerah-daerah swapraja lainnya, seperti Kasunanan Surakarta, Mangkunegaran, dan Cirebon.

5. Dukungan rakyat Aceh

Aceh sejak dahulu merupakan daerah yang gigih menentang penjajah Belanda. Berita proklamasi kemerdekaan disambut gembira oleh rakyat Aceh. Pemuda Syamaun Gaharu dan Teuku Nyak Arif membentuk barisan pemuda yang kuat, kelak nanti inilah yang menjadi inti TKR di Aceh. Mereka melucuti senjata tentara Jepang yang berada di Aceh.

6. Pertempuran Lima Hari di Semarang (14–19 Oktober 1945)

Sebab terjadinya peristiwa ialah adanya desas-desus, bahwa Jepang akan meracuni sumber air minum di daerah Candi. dr. Karyadi (Kepala Laboratorium Pusat Rumah Sakit Semarang) kemudian mengadakan penelitian. Pada saat sedang memeriksa, dr. Karyadi ditembak oleh tentara Jepang. Hal ini menimbulkan kemarahan para pemuda, dan bangkit melawan Jepang. Untuk mengenang peristiwa tersebut, dibangun Monumen Tugu Muda. Nama dr. Karyadi diabadikan sebagai nama rumah sakit.

7. Peristiwa merah putih di Minahasa (14 Februari 1946)

Latar belakang terjadinya peristiwa ini adalah pasukan Sekutu melarang rakyat Minahasa untuk mengibarkan bendera Merah Putih. Di bawah pimpinan C.H. Taulu, rakyat Minahasa bertempur melawan Sekutu, dan berhasil mempertahankan Merah Putih.

8. Peringatan setahun Proklamasi Kemerdekaan

Untuk memperingati setahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, rakyat Jakarta mendirikan Tugu Proklamasi di halaman gedung di Jl. Pegangsaan Timur 56 atas prakarsa para Wanita Republiken. Tugu tersebut diresmikan oleh Perdana Menteri Sutan Syahrir.