Buatlah contoh contoh perilaku empati yang bisa kita lakukan pada saat mewabahnya Covid-19

Pandemik COVID-19 atau biasa disebut virus corona kini tengah mendera hampir seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia. Jumlah orang yang dinyatakan positif terus bertambah, begitu pula dengan korban jiwa. Banyak orang jadi khawatir dan beberapa bahkan sampai panik.

Dalam kondisi panik, umumnya orang akan sulit berpikir jernih. Lebih sulit untuk mengendalikan pikiran. Tindakan dan kata-kata yang keluar pun bisa jadi tidak bijaksana. Salah satu akibatnya ialah menghilangkan empati kepada orang lain. Padahal, empati adalah sifat yang sangat penting. Berikut lima empati yang wajib kamu terapkan!

1. Mengikuti anjuran pemerintah untuk social distancing

Pexels/andrea piacquadio

COVID-19 memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi pada orang-orang lanjut usia dibanding mereka yang berusia muda. Makanya, kamu sebagai orang muda harus menunjukkan empati kepada mereka yang lansia dengan cara melakukan social distancing sesuai anjuran pemerintah.

Dengan kamu tetap tinggal di rumah sebisa mungkin, risiko kamu menjadi carrier yang menularkan virus pada orang lain akan jauh berkurang. Selain itu, para pekerja medis juga akan terbantu karena jumlah orang yang harus dirawat tidak akan melonjak tinggi dalam waktu singkat sehingga mereka yang positif tetap bisa mendapat perawatan maksimal.

2. Jangan nyinyir pada mereka yang memang harus pergi ke luar rumah

Pexels/anna shvets

Namun, tentu kita harus menyadari pula bahwa tidak semua orang bisa melakukan social distancing. Masih cukup banyak orang yang belum bisa work from home sehingga terpaksa pergi ke tempat kerja untuk mencari nafkah. Banyak pula orang yang tetap harus keluar rumah karena berbagai keperluan penting lainnya.

Nah, kita bisa menunjukkan empati pada mereka dengan cara tidak nyinyir. Jangan langsung hakimi bahwa mereka tetap bepergian karena bandel dan tidak mau ikut anjuran pemerintah. Bagi sebagian orang, tinggal di rumah artinya mereka tidak bisa mencari nafkah sama sekali untuk keluarga, lho.

Kamu sangat beruntung jika pekerjaanmu memungkinkan untuk bekerja dari rumah. Namun, banyak orang tidak seberuntung kamu. Tunjukkanlah empati pada mereka. Jika kamu punya teman yang harus tetap bekerja keluar rumah, anjurkan mereka untuk selalu jaga kebersihan supaya tidak tertular atau menularkan.

Baca Juga: Virus Corona: Apa Itu Virus? Ini Asal Muasal dan Cara Terbentuknya

3. Tidak panic buying

Pexels/anna shvets

Panic buying berarti membeli barang karena panik. Namanya panik, seseorang bisa jadi impulsif, misalnya membeli terlalu banyak barang dengan alasan untuk stok. Adapun, beberapa barang-barang yang saat ini sangat dibutuhkan dan jadi incaran, seperti masker dan antiseptik.

Namun, hal itu sangat tidak empati. Yang membutuhkan barang-barang itu bukan cuma kamu, orang-orang lain juga. Membeli banyak barang bisa menimbulkan kelangkaan barang-barang tersebut di pasaran sehingga orang lain jadi tidak kebagian. Kalaupun masih ada, harganya bisa melonjak tinggi sehingga tak semua orang bisa membelinya.

Lagi pula, sadari bahwa bisa jadi barang-barang itu sebenarnya bukan keharusan buatmu. Jika melakukan social distancing, kamu gak benar-benar butuh masker. Sementara, antiseptik pun bukan kewajiban karena sabun untuk mencuci tangan bisa sama efektifnya. Artinya, kamu gak perlu melakukan panic buying, kan?

4. Menghindari candaan soal virus corona

Pexels/helena lopes

Pandemik virus corona merupakan peristiwa yang menyedihkan, terutama bagi mereka yang keluarga atau temannya menjadi korban jiwa. Makanya, tentu sangat tidak etis jika kamu menjadikan virus corona sebagai bahan bercandaan. Baik saat berbincang dengan teman, apalagi di media sosial, lebih baik cari bahan candaan yang lain saja, ya!

5. Taati arahan pemerintah

Pexels/kaboompics.com

Dalam situasi pandemik seperti ini, pemerintah pasti menghadapi tuntutan yang besar untuk membuat kebijakan yang sebaik mungkin. Keputusan harus dibuat dalam waktu cepat karena akibatnya bisa fatal jika terlambat. Namun, di sisi lain, pertimbangan yang matang juga perlu. Jika terlalu terburu-buru pun, akibatnya bisa sama buruknya.

Makanya, bisakah kamu membayangkan betapa pusingnya pemerintah saat ini? Mungkin ada tindakan pemerintah pusat maupun daerah selama pandemik ini yang membuatmu bertanya-tanya atau bahkan kesal. Bolehkah mengkritik mereka? Jelas boleh. Namun, tunjukkan empati juga dengan tidak terus-terusan nyinyir pada mereka.

Sampaikan kritik jika perlu, tapi berikan juga pujian jika pantas. Yang terpenting, taatilah arahan pemerintah sebisa mungkin. Keputusan yang mereka buat pasti sudah melalui pertimbangan matang. Dengan tetap taat pada pemerintah, kamu turut menjaga ketertiban sehingga penanganan pendemik ini bisa dilakukan dengan lancar.

Itulah lima sikap empati yang perlu kita tunjukkan selama pandemik virus corona ini. Pandemik memang bisa membuat khawatir, tapi jangan sampai menghilangkan akal sehat dan empati pada orang lain. Dengan berempati, kita pasti bisa melewati pandemik ini bersama-sama!

Baca Juga: Pandemik Virus Corona, Baca Surat Pakar Virus untuk Anak-anaknya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Artikel ini memberikan penjelasan mengenai empat cara mengajarkan sikap positif dan empati pada siswa selama pandemi Covid-19 yang bisa Bapak/Ibu guru terapkan.

--

Banyaknya informasi yang beredar mengenai penyebaran wabah Covid-19 bisa saja mempengaruhi kesehatan mental. Masyarakat menjadi panik, khawatir, dan takut tertular atau kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Terlebih lagi, pembatasan aktivitas di luar rumah menyebabkan interaksi menjadi berkurang, muncul rasa bosan, dan stres.

Menjaga sikap posistif dan empati merupakan kunci agar kita tidak terlalu larut dalam nuansa negatif yang timbul akibat pandemi ini. Sikap positif dapat membantu menjaga kesehatan mental kita dan orang-orang di sekitar. Sementara itu, sikap empati dapat membuat kita mampu merasakan emosi orang lain. Kita dapat membayangkan apa yang orang lain pikirkan dan rasakan.

Sebagai guru, penting untuk terus mengajarkan perilaku positif dan empati kepada siswa, terutama di masa-masa sulit seperti ini. UNICEF telah merangkum beberapa hal yang perlu diperhatikan Bapak/Ibu guru saat mengajarkan dan mempraktikkan sikap positif dan empati kepada siswa, di antaranya sebagai berikut.

1. Beri apresiasi di setiap pencapaian siswa

(Sumber: shutterstock.com)

Selama belajar di rumah, Bapak/Ibu guru tentu tidak lupa untuk selalu memberi tugas guna menambah pemahaman siswa terhadap materi. Selalu berikan apresiasi pada siswa Anda ketika mereka berhasil mengerjakan tugasnya dengan baik. Misalnya dengan memberi nilai, pujian, atau kata-kata penyemangat. Dengan begitu, mereka akan merasa usahanya dihargai dan jadi lebih semangat untuk mengikuti pembelajaran di rumah.

Perlu Bapak/Ibu guru ketahui, siswa yang sering menerima apresiasi dari gurunya akan tumbuh dengan banyak energi positif. Rasa percaya dirinya akan meningkat, jiwa kreatifitas dan inovatifnya juga akan berkembang dengan maksimal. Selain itu, karena terbiasa diperhatikan, siswa juga akan memiliki kebiasaan tersebut dan cenderung lebih peduli dengan lingkungan di sekitarnya.

2. Ajarkan cara penyampaian yang baik dan benar

(Sumber: fluentu.com)

Ketika Bapak/Ibu guru meminta atau melarang siswa untuk melakukan sesuatu, hindari penggunaan kata-kata yang bersifat negatif, seperti “jangan” atau “tidak boleh”. Gunakanlah kalimat yang positif sebagai penggantinya. Misalnya, Anda dapat mengganti kalimat, “Jangan menyontek!” dengan, “Kerjakan tugasnya secara mandiri agar kamu lebih cepat menguasai materi.” Selain itu, sampaikan juga dengan cara yang baik agar tidak menyakiti hati siswa. Cara penyampaian yang baik bisa lebih mudah diterima dan dipatuhi oleh siswa. Secara tidak langsung, Anda akan mengajarkan bagaimana cara menjaga dan menghargai perasaan orang lain kepada siswa.

3. Terapkan disiplin positif pada siswa

(Sumber: careeraddict.com)

Disiplin positif merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk membangun nilai kedisiplinan pada siswa tanpa kekerasan dan ancaman. Siswa diajarkan untuk bertanggung jawab dan memahami konsekuensi (akibat) dari setiap perbuatan yang mereka lakukan. Dengan begitu, siswa akan belajar untuk membuat keputusan yang baik sebelum bertindak.

Selama pandemi, Bapak/Ibu guru bisa mengajarkan sikap disiplin untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Beri siswa penjelasan mengenai bahaya penyebaran Covid-19. Lalu, ajak siswa untuk sama-sama melakukan upaya pencegahan penyebaran virus dengan rajin cuci tangan serta patuh pada peraturan pemerintah untuk melaksanakan social distancing.

4. Bangun sikap saling tolong menolong

(Sumber: palmpartners.com)

Sikap saling tolong menolong tidak dapat muncul begitu saja, melainkan harus dibangun dengan cara mengajarkan dan mempraktekkannya di lingkungan sekitar. Oleh karena itu, penting bagi Bapak/Ibu guru untuk mengajarkannya pada setiap siswa. Banyak cara yang bisa Anda lakukan, misalnya dengan gotong royong membersihkan kelas atau lingkungan sekolah.

Di situasi sekarang ini, Anda juga bisa mengajak para siswa untuk melakukan donasi yang ditujukan bagi masyarakat kurang mampu yang terdampak Covid-19. Selain itu, disiplin melakukan physical distancing juga dapat membantu melindungi diri sendiri dan orang-orang sekitar dari bahaya terinfeksi virus. Sikap tolong menolong yang diajarkan sejak dini dapat membuat siswa menjadi lebih peduli terhadap lingkungan sekitar dan memiliki rasa empati yang tinggi.

Itulah empat cara yang bisa Bapak/Ibu guru terapkan dalam mengajarkan sikap positif dan empati pada siswa selama pandemi Covid-19. Semoga musibah ini dapat segera berakhir dan kita semua dapat segera beraktivitas kembali secara normal. Tetap semangat dan jaga kesehatan.

Dalam melaksanakan program pembelajaran jarak jauh di rumah, Bapak/Ibu guru dapat memanfaatkan video belajar dari Ruangguru di ruangbelajar