Ceritakan kegiatan yang menunjukkan kamu sudah menerapkan nilai karakter mandiri

Pendidikan sejatinya adalah usaha yang terencana dan sistematis dalam rangka mengoptimalkan semua potensi manusia/peserta didik. Potensi manusia itu termasuk di dalamnya adalah karakter manusia. Kesadaran akan kebutuhan karakter baik dalam kehidupan bermsyarakat kini makin menguat, di sisi lain, keluarga sebagai agen utama Pendidikan dirasa tidak cukup kuat untuk mejalankan fungsi pembangunan karakter setiap anak, sehingga dibutuhkanlah peran serta sekolah sebagai institusi Pendidikan untuk dapat secara aktif dan sistematis menumbuhkembangkan karakter baik pada setiap peserta didik.

Secara konseptual, Pendidikan karakter sendiri memiliki banyak konsep. Namun, salah satu yang paling popular adalah konsep Pendidikan karakter yang diungkapkan oleh Thomas Lickona. Lickona menjelaskan bahwa Pendidikan Karakter mengandung tiga unsur yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiring the good) dan melakukan kebaikan (doing the good). Lickona menetapkan tujuh unsur-unsur karakter dasar yang harus ditanamkan kepada peserta didik, meliputi:

  1. Ketulusan hati atau kejujuran (honesty)
  2. Belas kasih (compassion)
  3. Kegagahberanian (courage)
  4. Kasih sayang (kindness)
  5. Kontrol diri (self-control)
  6. Kerja sama (cooperation)
  7. Kerja Keras (diligence or hard work)

Penguatan Pendidikan Karakter dijelaskan bahwa PPK dilaksanakan dengan menerapkan delapan belas nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter terutama meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggungjawab.

Dalam operionalisasinya, di tingkat satuan Pendidikan, PPK dilaksanakan secara integral dalam kegiatan intrakurikuler, yaitu penguatan nilai-nilai karakter melalui kegiatan penguatan materi pembelajaran, metode pembelajaran sesuai dengan muatan kurikulum. Kemudian melalui kegiatan  kokurikuler yaitu penguatan nilai-nilai karakter yang dilaksanakan untuk pendalaman dan/atau pengayaan dan extrakulikuler, yaitu penguatan nilai-nilai karakter dalam rangka perluasan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerja sama, dan kemandirian Peserta Didik secara optimal. Kegiatan-kegiatan dalam rangka PPK dapat dilaksanakan baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler dapat berupa kegiatan krida, karya ilmiah, latihan olah bakat/olah minat, dan kegiatan keagamaan, serta kegiatan penghayatan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Sementara itu, Ki Hajar Dewantara, menjelaskan bahwa penumbuhan nilai karakter dapat dijalankan melalui empat laku, yaitu olah hati, olah raga, olah karsa dan olah pikir. Untuk itu diperlukan penerjemahan gerakan PPK kedalam aktivitas di sekolah. Dalam pelaksanaan kegiatan sehari-hari di sekolah, penanaman nilai-nilai karakter dapat dilakukan dalam beberapa bentuk kegiatan, meliputi:

1. Literasi sekolah

Kegiatan literasi ini bertujuan membangun budaya literasi di sekolah. Artinya tidak hanya pada siswa saja. Namun ekosistem sekolah. Untuk itu, tidak hanya sebatas penyediaan pojok baca atau aktivitas membaca buku 15 menit sebelum proses kelas dimulai. Namun, lebih luas lagi, berupa penumbuhan budaya literasi di semua warga sekolah, termasuk orang tua siswa. Penyediaan sarana berupa bahan bacaan yang beragam, forum diskusi bagi guru dan tenaga kependidikan untuk membangun literasi juga harus dilakukan sekolah. Kegiatan literasi ini dapat diintegrasikan juga dalam proses pembelajaran, intrakurikuler, kokurikuler dan extrakurikuler.

2. Kegiatan extrakurikuler

Seiring dengan pengarusutamaan Pendidikan karakter di sekolah, pandangan bahwa extra kurikuler adalah sekedar pelengkap harus sudah diubah menjadi bahwa kegiatan extrakurikuler adalah bagian teerintegrasi dari system Pendidikan di sekolah guna memfasilitasi keragaman bakat, minat dan potensi siswa. Untuk itu, penyediaan Pembina extra kurikuler yang sesuai menjadi penting untuk dilakukan oleh manajemen sekolah.

 3. Kegiatan awal dan akhir pembelajaran

Kegiatan awal dan akhir pembelajaran sebenarnya hanya pembagian berdasarkan urutan waktu saja. Sejatinya dua kegiatan tersebut adalah juga kegiatan pembelajaran itu sendiri. Maka tidak dapat dianggap sebagai pelengkap. Penyiapan scenario pembalajaran dari awal hingga akhir harus betul-betul dipehatikan. Mulai dari pengkondisian siswa, berdoa, apersepsi, hingga refleksi dan penutup memiliki nilai yang sama pentingnya.

4. Pembiasaan

Pembiasaan adalah bagian penting dari proses penanaman karakter pada peserta didik. Anak didik yang terbiasa melakukan pekerjaan secara mandiri maka akan terbangun karakter kemandirian pada dirinya. Demikian halnya dengan karakter berupa kemampuan untuk berkolaborasi dengan yang lain bukanlah karakter yang lahir tiba-tiba. Untuk itu, perlu scenario-skenario yang disiapkan dalam pembelajaran untuk membangun nilai-nilai yang diinginkan. Kebiasan memberikan tugas berkelompok dengan memberi giliran kepada setiap anggota kelompok untuk menjadi ketau kelompok adalah salah satu contoh untuk pembiasaan setiap anak didik berlatih bertanggungjawab sekaligus berkolaborasi.

5. Penetapan tata tertib sekolah

Buatlah tata tertib sekolah dengan jelas dan terpakan secara konsisten. Juga cobalah ajak siswa untuk menyepakati tata tertib di kelas. Penghargaan pada sebuah kesepatan dan keteraturan dapat dilatihkan pada peserta didik dengan mengenalkan siswa pada tata tertib sekolah atau kelas yang diulang-ulang secara rutin kepada siswa. Pemberlakuan model reward-and-punishment atau reward-unreward juga dapat diterapkan pada peserta didik untuk menghargai tata tertib sekolah.

Struktur kegiatan siswa di sekolah dan luar sekolah menjadi salah satu fokus dalam program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang terdapat dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 dengan semboyan “Senang Belajar di Rumah Kedua”.

Nilai-nilai karakter yang dikembangkan dalam program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) didasari dari filosofi pendidikan karakter Ki Hajar Dewantara. Yakni olah hati (etika), olah pikir (literasi), olah karsa (estetika), dan olah raga (kinestetik).

Lantas dari filosofi itu diharapkan muncul nilai-nilai karakter siswa dimulai dari religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab dll.

Kemudian dari nilai-nilai karakter yang diharapkan muncul dari filosofi pendidikan karakter Ki Hajar Dewantara, nantinya akan mengkristalisasi menjadi lima nilai utama karakter, yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas.

Hasil dari proses tadi adalah individu yang memiliki keunggulan akademis sebagai hasil pembelajaran dan pembelajar sepanjang hayat (olah pikir), individu yang memiliki kerohanian mendalam, beriman dan bertakwa (olah hati), individu yang memiliki integritas moral, rasa berkesenian dan berkebudayaan (olah rasa dan karsa), serta individu yang sehat dan mampu berpartisipasi aktif sebagai warga negara (olah raga).

Guna mendukung proses penguatan pendidikan karakter, maka disusun model implementasi PPK yang menyajikan kegiatan-kegiatan pendidikan karakter di sekolah yakni kegiatan intra-kurikuler (belajar-mengajar), kegiatan ko-kurikuler dan ekstrakurikuler.

Kegiatan ko-kurikuler dan ekstrakurikuler yang menguatkan kegiatan intrakurikuler adalah sesuai dengan minat dan bakat siswa yang dilakukan di bawah bimbingan guru/pelatih/melibatkan orang tua dan masyarakat seperti kegiatan keagamaan, pramuka, PMR, paskibra, kesenian, bahasa dan sastra, KIR, jurnalistik, olahraga, dsb.

Selain itu ada pula kegiatan non-kurikuler dan pembiasaan pendidikan karakter di sekolah seperti memulai hari dengan upacara bendera (Senin), apel, menyanyikan lagu Indonesia Raya, lagu nasional, dan berdoa bersama. Membaca buku-buku non-pelajaran tentang PBP, cerita rakyat yang dilakukan 15 menit sebelum memulai pembelajaran.

Untuk kegiatan yang terakhir ialah kegiatan pendidikan karakter bersama orang tua di rumah, yang dilakukan pada sabtu-minggu. Yaitu saat siswa berinteraksi dengan orang tua dan lingkungan dan sesama.

Kemandirian adalah sebuah sikap dewasa yang dapat kamu tumbuhkan sedini mungkin. Sikap ini dapat menunjukkan bahwa kamu sudah tidak lagi terlalu bergantung dengan orang lain.

Mungkin secara finansial kamu belum bisa mandiri seratus persen, namun dalam hal lain sebaiknya kamu harus bisa mandiri dan tidak lagi bergantung segala sesuatunya dengan orang lain di sekitarmu.

Inilah lima cara yang dapat kamu lakukan untuk menumbuhkan sikap mandiri, ingat bahwa terlalu bergantung dengan orang lain itu gak baik buatmu.

Unsplash/Burst

Kehidupan tidak bisa lepas dari yang namanya keputusan. Ya, sebaiknya kamu belajar untuk dapat membuat keputusan bagi dirimu sendiri. Mungkin kamu bisa meminta saran atau pendapat dari pihak lain, namun sebuah keputusan tetaplah kamu yang harus melakukannya.

Jika kamu sudah bisa membuat sebuah keputusan bagi dirimu sendiri, maka kamu sudah mulai berani melangkah untuk hidup mandiri. Tidak peduli apakah keputusanmu itu benar atau salah, biarlah waktu yang akan menjawabnya.

Setidaknya kamu sudah berani untuk melangkah maju dan mengambil keputusan, meskipun terkadang hasilnya tidak seperti yang kamu harapkan. Dengan begini kamu bisa belajar dari kesalahan kamu, dan itu bisa kamu jadikan pengalaman untuk membuat keputusan di masa depan.

Baca Juga: 5 Alasan Logis Kamu Harus Mulai Belajar Mandiri dari Sekarang

Unsplash/Helena Lopes

Sedapat mungkin kamu yang harus memberikan pertolongan, dan jika kamu gak butuh-butuh amat, kamu harus membatasi dalam hal meminta pertolongan.

Memang manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Namun jika kamu terlalu sering meminta pertolongan, padahal kamu sanggup untuk melakukannya, maka orang-orang di sekitarmu pasti akan jengah dengan sikapmu.

Ingat ya, tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah. Itu artinya kamu yang harus banyak memberikan bantuan, ketimbang meminta bantuan.

Unsplash/Sharon McCutcheon

Jika kamu sudah bekerja dan memiliki pendapatan sendiri, maka sebaiknya kamu hidup sesuai dengan kemampuan keuangan kamu. Mungkin pada awal-awal kamu bekerja, kamu masih membutuhkan bantuan finansial dari keluarga kamu, dan itu adalah hal wajar.

Namun jika kamu sudah dalam usia yang matang dan dewasa secara finansial, sebaiknya kamu tidak menggantungkan kebutuhan hidup kamu kepada orang lain. Apalagi jika pendapatanmu sangat besar, tentu ada yang salah dengan gaya hidupmu jika kamu masih bergantung pada orang lain.

Belajarlah mengatur keuangan dengan baik, dan sedapat mungkin hiduplah sesuai dengan pendapatan atau kemampuan keuangan kamu. Jika memang kamu tidak dalam situasi yang mendesak, sebaiknya kamu tidak meminta bantuan keuangan kepada orang lain.

Unsplash/Ben White

Jika kamu sudah dalam posisi yang bagus, entah itu keuangan, karier, keluarga, atau pendidikan kamu, maka tingkatkan rasa peduli kamu terhadap orang-orang di sekitar kamu.

Bantu dan tolonglah mereka yang membutuhkan, mungkin ada keluarga atau teman kamu yang memang sedang dalam keadaan yang sangat sulit.

Dengan meningkatkan rasa peduli, kamu juga akan menjadi orang yang mandiri dan dewasa. Selain itu, rasa peduli juga akan mengingatkan kamu bahwa kamu adalah manusia juga masih membutuhkan bantuan orang lain.

Baca Juga: 5 Perubahan Positif yang Kamu Rasakan Kalau Mau Hidup Mandiri

Baca Artikel Selengkapnya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.