Hikmah yang dapat diambil dari cerita musyawarah tikus

Komunitas tikus geger. Mereka resah dan was-was karena habitat mereka terancam punah.

Seorang ustadz membuka kelas di sore itu dengan mimik serius. Para murid jadi bertanya-tanya. Tidak biasanya sang ustadz yang bersahaja dan banyak senyum itu mengawali pelajarannya dengan sikap seperti itu. Ustadz Sholeh selalu mengawali dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi pertemuan sebelumnya.

Kali ini tidak. Para santri yang sudah siap kalau-kalau diminta maju ke depan atau menjawab pertanyaan merasa ada yang janggal.

“Masyarakat tikus sedang dilanda malapetaka...!“

Ahmad, bocah berpostur kurus asal Madiun yang duduk di bangku paling depan itu penasaran.

“Maaf Ustadz, apakah itu ada hubungannya dengan berita tentang tikus di tivi tempo hari ?”, tanyanya spontan.

“Huuuu…”

Dasar anak-anak. Mereka suka menyela komentar temannya.

“Hmm… memang itu ramai dibicarakan di tivi dan koran, dan katanya bikin susah para penjual bakso dan mie ayam. Dagangan mereka ndak laku karena orang jadi jijik, juga takut karena katanya ada ….? ”.

Ucapan ustadz itu terpotong.

“Formalin, Ustdaz !” Celetuk Akbar, anak pengusaha batik asal Solo itu.


Lihat Sosbud Selengkapnya


Page 2

Komunitas tikus geger. Mereka resah dan was-was karena habitat mereka terancam punah.

Seorang ustadz membuka kelas di sore itu dengan mimik serius. Para murid jadi bertanya-tanya. Tidak biasanya sang ustadz yang bersahaja dan banyak senyum itu mengawali pelajarannya dengan sikap seperti itu. Ustadz Sholeh selalu mengawali dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi pertemuan sebelumnya.

Kali ini tidak. Para santri yang sudah siap kalau-kalau diminta maju ke depan atau menjawab pertanyaan merasa ada yang janggal.

“Masyarakat tikus sedang dilanda malapetaka...!“

Ahmad, bocah berpostur kurus asal Madiun yang duduk di bangku paling depan itu penasaran.

“Maaf Ustadz, apakah itu ada hubungannya dengan berita tentang tikus di tivi tempo hari ?”, tanyanya spontan.

“Huuuu…”

Dasar anak-anak. Mereka suka menyela komentar temannya.

“Hmm… memang itu ramai dibicarakan di tivi dan koran, dan katanya bikin susah para penjual bakso dan mie ayam. Dagangan mereka ndak laku karena orang jadi jijik, juga takut karena katanya ada ….? ”.

Ucapan ustadz itu terpotong.

“Formalin, Ustdaz !” Celetuk Akbar, anak pengusaha batik asal Solo itu.


Lihat Sosbud Selengkapnya


Page 3

Komunitas tikus geger. Mereka resah dan was-was karena habitat mereka terancam punah.

Seorang ustadz membuka kelas di sore itu dengan mimik serius. Para murid jadi bertanya-tanya. Tidak biasanya sang ustadz yang bersahaja dan banyak senyum itu mengawali pelajarannya dengan sikap seperti itu. Ustadz Sholeh selalu mengawali dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi pertemuan sebelumnya.

Kali ini tidak. Para santri yang sudah siap kalau-kalau diminta maju ke depan atau menjawab pertanyaan merasa ada yang janggal.

“Masyarakat tikus sedang dilanda malapetaka...!“

Ahmad, bocah berpostur kurus asal Madiun yang duduk di bangku paling depan itu penasaran.

“Maaf Ustadz, apakah itu ada hubungannya dengan berita tentang tikus di tivi tempo hari ?”, tanyanya spontan.

“Huuuu…”

Dasar anak-anak. Mereka suka menyela komentar temannya.

“Hmm… memang itu ramai dibicarakan di tivi dan koran, dan katanya bikin susah para penjual bakso dan mie ayam. Dagangan mereka ndak laku karena orang jadi jijik, juga takut karena katanya ada ….? ”.

Ucapan ustadz itu terpotong.

“Formalin, Ustdaz !” Celetuk Akbar, anak pengusaha batik asal Solo itu.


Lihat Sosbud Selengkapnya

[caption id="attachment_409159" align="aligncenter" width="346" caption="Aku dan pak Kyai"][/caption]

Salah satu pelajaran favorit saya ketika dulu ‘nyantri’ di Pondok Pesantren Darunnajah Ulujami Jakarta adalah "Muthola'ah". Secara sederhana, para santri sering menerjemahkan pelajaran ini menjadi hanya sebagai "bacaan".
Namun, jika ditinjau dari ilmu sharof, kata "Muthola’ah" berasal dari kata dasar "Thola’a" yang berada dalam wazan (patern): fa’ala-yaf’alu-mufa’alatan yang berarti pula: “muncul”, “hadir”, atau "menela'ah".

Dengan latar belakang pemahaman seperti itulah setiap ada bacaan (dongeng) yang diberikan oleh ustadz, saya sangat menikmati menelaahnya. Sering kali justru saya menjadikannya sebagai rujukan ketika saya harus menggambil sikap dalam hidup.

Dengan dongeng pula, sekarang saya mengajarkan kepada anak-anak dan keponakan saya hal-hal baru atau sesuatu yang mereka takutkan dalam hidup, hatta dalam penyampaian khutbah / ceramah.

Bagi saya, dongeng yang dikemas dengan baik itu akan sangat efektif sebagai media untuk transformasi gagasan menjadi aksi. Saya kira, salah satu alasan kenapa budaya Amerika begitu mendominasi dunia adalah dongeng-dongeng yang mereka produksi secara professional lewat industri hiburan Hollywood.

Ada satu cerita yang masih saya ingat, yaitu kisah sekelompok tikus. Dalam dongeng ini, dikisahkan bahwa sekelompok tikus harus mengambil sikap karena mereka menghadapi tantangan baru: pemilik rumah di mana mereka tinggal telah mengadopsi seekor kucing. Ia berwarna hitam, berkuku setajam silet, gigi seruncing tombak dan mata setajam kamera CCTV.

Ketua jama'ah tikus akhirnya menggumpulkan anggota jama'ahnya dalam sebuah rapat "dengar pendapat" yang baru pertama kalinya mereka adakan. Meskipun mereka sama-sama tikus, ternyata mereka mempunyai cara pandang yang beragam dalam mensikapi tantangan baru ini. Namun mereka punya prinsip: "Boleh berbeda asal sopan".

Tiba-tiba muncul sebuah ide spektakuler:

"Bagaimana kalau kita kalungi saja kucing itu dengan ‘klintingan’ (lonceng kecil, dalam bahasa Arab disebut “al-Jaros”), sehingga kita dapat mendeteksi secara dini kalau kucing itu mendekat ketika kita sedang beroperasi", kata seekor tikus dengan antusias.

“Iya betul sekali!! Kita akan lari sebelum dia datang", yang lain menanggapi.

"Hore.. hore... kita tetap akan kenyang. Ide yang sangat brilliant..!!", sorak yang lain.


Lihat Edukasi Selengkapnya

Sekelompok tikus sepakat untuk mengadakan kongres luar biasa. Mereka berpikir bahwa kongres ini harus dilakukan mengingat kondisi semakin genting. Keselamatan hidup mereka semakin hari semakin tidak menentu. Ancaman kematian dari musuh bebuyutan mereka : kucing, mereka rasakan semakin hari semakin mengerikan. Dan itu membuat mereka tak lagi bisa tidur nyenyak.

Setelah melalui berbagai diskusi, perdebatan, pertimbangan, dan lobby-lobby yang cukup sengit diantara berbagai spesies tikus, akhirnya seluruh tikus peserta kongres menyepakati usulan seekor tikus muda yang terkenal paling cerdik, yaitu keputusan untuk menggantungkan lonceng di leher kucing. 

Alasan terpenting dari usulan ini adalah ketika nanti mereka mendengar lonceng itu berbunyi, maka mereka akan segera tahu bahwa kucing akan datang. Dengan begitu mereka akan punya cukup waktu untuk segera kabur menyelamatkan diri.

Semua delegasi tikus setuju dengan ide cerdas ini dan yakin bahwa masalah mereka telah menemukan solusi yang ampuh. Saat pemimpin sidang hendak menutup kongres, seekor tikus tua peserta kongres berdiri dan melangkah maju ke depan para delegasi tikus. 

“ Saya setuju dan mendukung sepenuhnya keputusan kongres ini. Namun sebelumnya, izinkan saya mengajukan sebuah pertanyaan : Siapa yang akan membunyikan lonceng di leher kucing itu ? ", tanya si tikus tua.

Moral Kisah :
  1. Siapapun bisa dan boleh memberikan usulan atau ide yang paling brilian untuk memecahkan suatu masalah. Tetapi menjalankan atau mempraktikkan ide kedalam tindakan nyata itu adalah hal lain yang belum tentu bisa dengan mudah dilakukan. 
  2. Ukuran keberhasilan suatu gagasan bukan dinilai dari bagus atau indahnya gagasan itu ketika dibicarakan didalam ruang rapat, seminar, atau pertemuan, tetapi diukur dari keterlaksanaannya di lapangan ketika gagasan itu dijalankan.

Sekelompok tikus sedang berkumpul untuk bermusyawarah dan memutuskan dalam membuat rencana yang akan membebaskan mereka selama-lamanya dari musuh bebuyutan mereka, yaitu kucing.

Mereka berharap, paling tidak mereka akan menemukan cara agar tahu kapan kucing tersebut akan datang, sehingga mereka mempunyai waktu untuk lari. Karena selama ini mereka terus hidup di dalam ketakutan pada cakar kucing tersebut, dan mereka terkadang sangat takut untuk keluar dari sarangnya di siang hari maupun malam hari.

Banyak rencana yang telah didiskusikan, akan tetapi tak ada satupun dari rencana tersebut yang mereka rasa cukup bagus. Akhirnya, seekor tikus yang masih muda bangkit berdiri dan dia berkata :

“Saya mempunyai rencana yang mungkin terlihat sangat sederhana, tetapi saya bisa menjamin, bahwa rencana ini akan berhasil. Yang perlu kita lakukan hanyalah menggantungkan sebuah lonceng pada leher kucing itu. Ketika kita mendengar lonceng berbunyi, maka kita bisa langsung tahu bahwa musuh kita telah datang.”

Semua tikus yang mendengar rencana tersebut terkejut, karena mereka tidak pernah memikirkan rencana tersebut sebelumnya. Mereka kemudian bergembira, karena merasa rencana itu sangat bagus, tetapi di tengah-tengah kegembiraan mereka, seekor tikus yang lebih tua maju ke depan dan dia berkata :

“Saya mengatakan, bahwa rencana dari tikus muda itu sangatlah bagus. Tetapi saya akan memberikan satu buah pertanyaan : Siapa yang akan mengalungkan lonceng pada kucing tersebut?”

“Kadang kala kita berwacana muluk-muluk yg jauh dari kemampuan untuk kita mewujudkannya , carilah gagasan yg simple yg semua orang mudah melakukannnya, dimulai dari potensi yg sdh ada, yg terdekat, termudah “