Jika terpaksa satu rumah dengan pasien Covid

April 23, 2020

Unsplash

Semua pengennya sehat dong tanpa kekurangan apapun, tapi siapa yang duga kalau ternyata harus terpaksa dengan pasien Covid juga??? swearrr.. ini bikin sedih.

Tapi ini baru dugaan

Sempat sih khawatir adekku kena Corona, dikarenakan dia sempat dapat tugas harus ke Kalimantan dan gak tau kalau temenan sama temennya sebagai carrier. Tapi pas udah di rumah juga sekeluarga udah sarankan supaya semua yang melekat di dirinya cepat – cepat di cuci, semprot desifectan, dan harus isolasi mandiri 14 hari. Anaknya yang umur setahun udah kangen aja sama ayahnya, bisa lihat ayahnya dari jauh, pengen peluk tapi gak bisa, nangis lah dia.. duh.. beneran udah kayak di film – film aja. Kebayang dokter yang pengen ketemu anaknya gak bisa, karena si dokter udah kena virus Corona. Sebelum kepergiannya dia pulang dulu demi mengobati rasa rindu pada anak dan istri untuk pamit, kemudian meninggalkan keluarganya untuk selamanya, auto mewek!.

Terus gimana selama isolasi mandiri?

1. Bersihkan rumah rutin seperti biasa aja sih.. karena adekku ini kan belum tentu positif, jadi untuk antisipasi aja dia isolasi diri, tapi pakaian, sprei, selimut, handuk dan semua segala sesuatu yang dipakai adekku ini dipisahkan.. rendam air panas, dan dicuci tersendiri. Termasuk perangkat makannya seperti piring, gelas, sendok, punya khusus, dipisah diletakkan di tempat tersendiri.

2. Bagian yang sering disentuh seperti gagang pintu, dudukan closet kamar mandi rajin di semprot desifectan.

3. Rajin pakai masker, dan rajin cuci tangan.

Setelah masa isolasi selesai, harusnya sih gak apa – apa yaa.. laaaahh ini gak.. bikin panik! Adekku malah demam, cepat – cepat deh dibawa ke Rumah Sakit terdekat dulu, tapi rumah sakit banyak yang nolak karena udah penuh, kalaupun ada yang terima pada waktu itu (sekitar awal Maret 2020) rumah sakit gak punya alat deteksi virus Covid 19 ini lebih lengkap, sedih banget rasanya :(. Akhirnya cari info lagi dari dokter yang kebetulan teman akrab istri adekku, dirujuk lah ke Rumah Sakit Mitra Kebayoran, jauh juga sih dari Bekasi, tapi demi kesembuhan dibawa lah ke Kebayoran, Alhamdulillah ada jalan.. walaupun gak semua bisa melakukan pemeriksaan Covid ini, selain harganya 4 juta per sekali periksa (ini periksa darah, kalau periksa pakai air liur lebih mahal lagi) obatnya juga terbatas.

Gimana hasil pemeriksaan Lab?

Alhamdulillah.. adekku dinyatakan negatif, hanya demam biasa, mungkin bisa jadi karena stress, kecapean, atau imun lagi drop. Tapi tetaplah yaa.. lagi musim virus gini mendingan waspada, lebih baik cek sejak awal, dan ini bukan aib, lebih baik jujur supaya gak menyebar pada orang lain. Kalau gak bisa tolong team medis, minimal jujurlah pada mereka supaya lebih waspada dan penyebaran virus gak makin melebar.

Berita adekku begini aja udah bikin aku sedih banget, walopun hasilnya negatif, adekku antisipasi sendiri untuk isolasi mandiri lagi selama 14 hari, dan sekarang kondisinya udah sehat dan normal seperti semula. Alhamdulillah.

Serius banget deh untuk gak cuek sama virus mematikan ini, lebih baik bertahan dulu di rumah untuk menekan penyebaran virus lebih luas, dan sama – sama kita berdoa supaya virus Covid 19 ini hilang dan gak muncul lagi. *Hope.

Disclaimer : Cerita di rumah sakit dan biaya pemeriksaan Rumah Sakit diceritakan kembali oleh orang ketiga yang ikut terlibat pengantaran pasien ke Rumah Sakit. Hanya sebatas info kasar saja, tidak detail, jika ada kesalahan, mohon maaf dan koreksinya. Mungkin untuk saat ini fasilitas pemeriksaan gejala Covid sudah lebih mudah ditemukan.

Ada yang bisa tambahkan informasinya?

Leave a Reply