Kendala apa saja yang dihadapi selama melaksanakan pembelajaran di rumah?

Merdeka.com - Lebih dari dua bulan, proses belajar-mengajar di Indonesia dilakukan secara daring atau online dari rumah masing-masing. Kebijakan ini diambil dalam rangka memutus rantai penyebaran Covid-19 yang tengah mewabah di Indonesia.

Proses belajar-mengajar tersebut ternyata berpengaruh pada pembelajaran itu sendiri. Mulai dari tempat, kondisi dan jaringan internet sebagai penghubungnya.

"Ini berpengaruh pada pembelajaran itu sendiri," kata Analis Kebijakan Ahli Madya Ditjen PAUD Dikdasmen, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Suhadi dalam Dialog Publik YLKI secara virtual, Jakarta, Rabu, (20/5).

Dari sisi tempat misalnya, Suhadi mengatakan tidak semua anak memiliki ruang belajar yang ideal selama proses belajar dari rumah.

"Mungkin bagi warga biasa dan seterusnya tempat belajarnya ramai-ramai. Jangan-jangan ada juga yang ngontrak dan seterusnya (tidak memiliki ruang khusus belajar), sehingga berpengaruh pada proses pembelajaran yang ada," kata Suhadi menerangkan.

2 dari 3 halaman

Ketersediaan Akses Internet

Dia melanjutkan, hasil survei OECD tahun 2020 menyatakan, Indonesia termasuk negara yang tidak punya tempat belajar yang memadai dengan persentase 63 persen. Kemudian ketersediaan akses untuk komputer dan jaringan internet juga berada di urutan terbawah dengan persentase 48 persen.

"Indonesia masih berada pada urutan terakhir dari survei OECD dari 78 negara yang disurvei," kata Suhadi.

Tentunya, hal ini menjadi tantangan bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk kondisi pembelajaran normal nantinya. Sebab ini menjadi tanggung jawab bersama di semua satuan pendidikan.

3 dari 3 halaman

Hambatan yang Dialami Guru

Hasil Survei Cepat Pembelajaran Dari Rumah dalam Masa Pencegahan Covid-19, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada April 2020 menunjukkan guru yang memberikan pembelajaran dari rumah juga mengalami hambatan serupa.

Pertama, hambatan jaringan internet yang kurang memadai. Survei menunjukkan hambatan ini terjadi di wilayah 3T dan non 3T dengan masing-masing presentase 21,3 persen dan 20 persen.

Kedua, guru juga mengalami kesulitan dalam mengamati perkembangan siswa selama proses ini dengan persentase 19,6 persen bagi guru di wilayah 3T dan 20,5 persen bagi guru di wilayah non-3T.

"Hambatan utama belajar dari rumah bagi guru adalah jaringan internet dan memantau perkembangan siswa," kata Suhadi.

Hambatan lain yang dihadapi para guru yakni banyak siswa yang merasa kesulitan melaksanakan pembelajaran dari rumah. Guru sulit berkoordinasi dengan orang tua siswa. Belum mampu mengoptimalkan mesin digital.

Lalu kurangnya berkonsentrasi dalam mengajar dan membimbing siswa. Sulit memberikan penilaian. Tidak memiliki perlengkapan yang dibutuhkan seperti laptop atau komputer. Guru juga mengalami kesulitan berkoordinasi dengan guru lain atau kepala sekolah dan siswa kurang disiplin. (mdk/idr)

Baca juga:
Akses Internet Tak Merata Jadi Kendala Penerapan Belajar dari Rumah di Tengah Pandemi
Masa-masa Covid-19, Alokasi Kuota Pengguna Melonjak
Rudiantara sebut Pengusaha Internet Harus Gencar Masuk ke Perumahan
Fungsi VPN dan Cara Kerjanya di Jaringan Internet, Patut Diketahui
Dukung Belajar Online, Pemerintah Disarankan Beri Layanan Wifi Murah untuk Siswa
Susah Sinyal, Murid SD di Yogya Naik Bukit Demi Ikut Belajar Online