Kisah Nabi Ibrahim menghancurkan berhala dalam Al Quran

Red:

Nabi Ibrahim AS dikenal sebagai salah satu nabi yang mendapat hidayah dari Allah SWT saat masih kecil. Ia adalah kekasih Allah SWT dan mendapat julukan sebagai Bapak para nabi. Ia mempunyai tugas berdakwah kepada orang tuanya sendiri dan penduduk Damaskus yang senang menyembah bintang dan berhala.

Nabi Ibrahim AS pertama kali berdakwah kepada bapaknya. Saat itu, ayah Nabi Ibrahim, Azar, adalah seorang pembuat dan menyembah berhala. Suatu hari, dikisahkan Nabi Ibrahim AS melihat bapaknya sedang membuat berhala. Ia lalu bertanya, "Dari apa tuhan-tuhan itu diciptakan?" Bapaknya menjawab, "Ini dari kayu-kayu pelepah kurma, itu dari zaitun, dan berhala kecil itu dari gading. Lihatlah alangkah indahnya. Hanya saja, ia tidak memiliki napas."

Ibrahim berkata, "Jika para tuhan itu tidak memiliki napas maka bagaimana mereka dapat memberikan napas? Bila mereka tidak memiliki kehidupan, bagaimana mereka memberikan kehidupan? Wahai ayahku, pasti mereka bukan Allah."

Allah SWT menunjukkan keagungan-Nya kepada Nabi Ibrahim AS melalui benda-benda ciptaan-Nya. Ketika langit gelap, Nabi Ibrahim AS melihat bintang-bintang bertaburan begitu indah. Ia pun berpikir bintang adalah Tuhannya. Tapi, saat bintang menghilang pada siang hari, hilang pula keyakinannya jika bintang itu adalah Tuhan. Hal yang sama terjadi saat ia melihat bulan dan matahari. Namun, semuanya lagi-lagi musnah saat bulan dan bintang menghilang.

Nabi Ibrahim tidak berhasil menemukan Tuhannya dalam wujud benda-benda yang ada di bumi. Namun, ia kemudian menyadari bahwa Tuhan lebih hebat dan lebih agung dari semua benda tersebut.

Suatu hari, para penyembah berhala menggelar hari raya. Mereka membuat banyak sekali berhala dan menempatkan berbagai makanan di depan berhala itu. Mereka kemudian berdoa di sana. Azar mengajak Ibrahim, namun ia menolak.

Nabi Ibrahim AS kemudian berencana membuat tipu daya. Ia pergi diam-diam ke lapangan tempat para berhala berjejer. Ia lalu menghancurkan semua berhala kecil dan menyisakan patung terbesar. Ia meletakkan kapak di tangan patung terbesar itu.

Mengetahui patung-patung rusak, Ibrahim pun dicari karena dirinyalah yang selama ini menentang penyembahan berhala. Namun, Ibrahim menyampaikan kepada mereka bahwa berhala yang paling besarlah pelakunya. Ia pun menantang kaumnya untuk bertanya langsung kepada sang patung besar itu.

Kaumnya kemudian diam dan menyadari berhala itu tidak bisa bicara. "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang yang menganiaya diri sendiri," kata Nabi Ibrahim AS. Kaum Ibrahim pun tertunduk. Ibrahim kemudian berkata, "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu buat sendiri? Padahal, Allah yang menciptakan kamu. Apa yang kamu perbuat itu?"

Kaum Ibrahim pun menjawab bahwa bapak-bapak mereka pun menyembahnya. Ibrahim kemudian berkata lagi, "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? Dapatkah mereka memberi kebaikan kepadamu atau justru mudharat? Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata."

Mendengar itu, kaum Ibrahim marah. Mereka tidak mau berdebat karena tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Ibrahim. Mereka lalu mendirikan bangunan untuk membakar Ibrahim. Ibrahim lalu dilemparkan ke dalam api yang berkobar itu.

Ibrahim kemudian berkata, "Cukuplah Allah SWT sebagai pelindung kami. Dan Allah adalah sebaik-baik pelindung." Allah kemudian berfirman, "Hai api, menjadi dinginlah dan jadilah keselamatan bagi Ibrahim." (QS Al Anbiyaa’: 69)

Maka turunlah hujan yang lebat sehingga api yang berkobar-kobar sangat tinggi tidak dapat membakar Nabi Ibrahim AS. Allah SWT juga mengirimkan malaikat Jibril untuk mengusap keringat dari wajah Ibrahim hingga tidak ada yang tersentuh api. N c92 ed: andi nur aminah

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...

Nabi Ibrahim AS merupakan salah satu nabi yang mempunyai ketabahan dan keimanan yang luar biasa. Oleh karena itu Nabi Ibrahim mendapatkan gelar khusus, yaitu Ulul Azmi.

Dalam dakwah untuk menyebarkan agama Allah, Nabi Ibrahim banyak dihadapkan oleh masalah-masalah besar. Seperti kisahnya dengan Raja Namrud, yang juga diabadikan dalam Al Quran Surat Al-Baqarah ayat 258.

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan." Ibrahim berkata, "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (Q.S Al Baqarah : 258)

Sejak kecil Nabi Ibrahim bertempat tinggal di sebuah goa. Hal itu terjadi karena Raja Namrud suatu ketika mendapatkan ramalan, bahwa akan ada seorang laki-laki yang lahir dari negerinya yang akan mengalahkannya. Maka dari itu sang raja mengawasi setiap bayi laki-laki yang lahir.

Hal itu menyebabkan Nabi Ibrahim sejak kecil dibawa oleh sang ayah untuk menetap di sebuah goa yang jauh dari keramaian penduduk.

Ketika sudah dewasa Nabi Ibrahim mencoba keluar dari goa, dan melihat fenomena kehidupan yang sebelumnya belum pernah dilihat. Nabi Ibrahim bingung, melihat banyaknya manusia yang menyembah patung. Padahal jelas-jelas, menurut Nabi Ibrahim itu tidak lebih hanyalah benda mati.

Semakin dewasa Nabi Ibrahim mulai memikirkan tentang berbagai hal termasuk benda-benda mati yang disembah oleh banyak masyarakat saat itu. Selain itu, Beliau memikirkan mengenai batu, matahari, bulan, bintang, dan bahkan patung yang sering dipuja oleh masyarakat. Akhirnya pada suatu saat beliau menyadari bahwa bintang menghilang saat pagi datang, sedangkan matahari tak terlihat saat senja datang.

Nabi Ibrahim ketika itu bingung, siapa yang menciptakan ini semua. Akhirnya Nabi Ibrahim pun menyadari, bahwa Allah SWT lah yang menciptakan ini semua. Bukan berhala yang banyak disembah oleh banyak masyarakat saat itu, termasuk Raja Namrud.

Mulai saat itulah Nabi Ibrahim berpikir untuk menghancurkan berhala-berhala yang dijadikan tuhan oleh mereka.

Suatu ketika Raja Namrud bersama rakyatnya pergi meninggalkan negeri. Saat itu seluruh warganya diwajibkan untuk ikut. "Nabi Ibrahim waktu itu mengaku kalau dirinya sedang sakit, jadi tidak ikut Raja Namrud," ujar Ustadz Rizki Nugroho, ketika dihubungi Okezone.

Di saat itulah, Nabi Ibrahim tidak melewatkan kesempatan tersebut. Beliau menjalankan niat yang telah lama ia pendam yaitu menghancurkan berhala yang dianggap sebagai tuhan.

Ustadz Riski Menceritakan, beliau menghancurkan 72 berhala dan menyisakan satu berhala yang paling besar. Pada patung yang paling besar itu, Nabi Ibrahim meletakan kapak yang digunakan untuk menghancurkan berhala lain dilehernya.

Saat tiba Raja Namrud dan warganya terkejut melihat patung-patung yang mereka sembah sudah hancur berantakan. Sang raja pun bertanya, siapa yang berani menghancurkan patung-patung ini, sedangkan warga seluruhnya ikut sang raja.

Maka hanya ada satu kemungkinan yang menghancurkan ini semua, yaitu Nabi Ibrahim. Karena hanya dialah yang tidak ikut bersama sang raja.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Ketika bertemu dengan Nabi Ibrahim, Raja Namrud bertanya, "Apakah benar engkau yang telah menghancurkan berhala-berhala tersebut?"

Dengan singkat Nabi Ibrahim menjawab, "Bukan." Jawaban itu pun membuat Raja Namrud semakin geram. Raja pun mendesaknya dengan tuduhan hanya Nabi Ibrahim lah saat itu yang tidak ikut bersama Raja Namrud.

Nabi Ibrahim justru menjawab, "Tanyakan saja dengan berhala yang paling besar itu, mungkin saja berhala yang paling besarlah yang melakukannya, karena terdapat kapak di lehernya."

Raja Namrud justru menjawab, "Hai Ibrahim, kau sungguh bodoh. Mengapa patung, di mana otakmu? Masak patung seperti itu saya ajak bicara, mana mungkin dia bisa bicara? Kau jangan mengada-ada!"

Dengan lantang Nabi Ibrahim menjawab, "Hai Raja Namrud, siapa sebenarnya yang bodoh. Mengapa patung yang tak dapat bicara dan bergerak kau jadikan tuhan yang harus disembah. Mengapa patung dan berhala yang tak dapat melindungi dirinya itu kalian puja-puja, bukankah ini kebebodohan yang teramat sangat."

Mendengar jawaban Nabi Ibrahim, sang Raja dan masyarakatnya pun terdiam sejenak. Setelah itu, Raja Namrud dan pengikutnya pun tidak bisa membantah. Sebagian masyarakat pun membenarkan perkataan Ibrahim, namun tidak berani mengatakannya di depan raja.

Akhirnya hanya amarah lah yang timbul di hatinya. Kemudian Raja Namrud memerintahkan untuk menangkap dan mengikat Nabi Ibrahim. Penasihat kerajaan pun menyarankan agar membakar Ibrahim hidup-hidup. Akhirnya usul sang penasihat pun disetuji.

Raja Namrud dan pengikutnya itu pun berfikiran bahwa Nabi Ibrahim akan mati saat itu. Namun setelah api itu padam, Nabi Ibrahim masih segar bugar. Tidak mengalami luka sedikitpunm. Itulah yang menjadi mu'jizat Nabi Ibrahim, Tak mempan di bakar.

  • #kisah nabi ibrahim
  • #Kisah Nabi
  • #Nabi Ibrahim