Makalah jenis-jenis kecelakaan di laboratorium

Agar tidak terjadi kecelakaan kerja di Laboratorium dan dapat mengantisipasi berbagai jenis kecelakaan kerja di Laboratorium dengan menerapkan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).

Kecelakaan merujuk kepada peristiwa yang terjadi secara tidak sengaja. Sebagai contoh kecelakaan lalu lintas, kecelakaan tertusuk benda tajam dan sebagainya. Secara teknis, "kecelakaan" tidak termasuk dalam kejadian yang disebabkan oleh kesalahan seseorang, contohnya jika dia lengah dan gagal mengambil langkah berjaga-jaga. Jika yang akan terjadi diketahui akibat kelengahannya, peristiwa itu bukanlah "kecelakaan" pada peringkat itu, dan orang yang lengah tersebut harus bertanggung jawab atas kerugian dan kecelakaan orang lain. Dalam "kecelakaan" yang sebenarnya, tak satupun pihak yang dapat dipersalahkan, karena peristiwa tersebut tidak dapat diperkirakan atau kemungkinan terjadinya amat rendah. Contohnya, seorang ahli farmasi salah memberi label obat dan pasien yang memakannya keracunan.

Berbagai jenis kecelakaan dapat terjadi dilaboratorium sekolah. Jenis-jenis kecelakaan yang dapat terjadi di laboratorium sekolah diantaranya:

a.    Terluka,disebabkan oleh pecahan kaca dan/atau tertusuk benda-benda tajam yang lain.

b.    Terbakar,disebabkan tersentuh api atau benda panas lain, dan oleh bahan kimia tertentu seperti fosfor.

c.    Terkena Racun (Keracunan),keracunan ini terjadi karena bekerja menggunakan zat beracun yang secara tidak sengaja dan/atau kecerobohan masuk ke dalam tubuh. Perlu diketahui bahwa beberapa jenis zat beracun dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit.

d.    Terkena Zat Korosif,seperti berbagai jenis asam. Misalnya asam siliat pekat, asam format, atau berbagai jenis basa seperti natrium hidroxida, kalium hidroksida dan ‘0,880’ larutan amonia dalam air.

e.    Terkena Radiasi, radiasi sifatnya sangat berbahaya jika terkena ke tubuh manusia, misalnua sinar dari zat radioaktif (jika disekolah tersedia zat seperti ini), sinar X dan sinar Ultraviolet.

f.      Terkena Kejutan Listrik, pada waktu menggunakan listrik bertegangan tinggi.

Kecelakaan di laboratorium dapat terjadi karena hal-hal berikut.

1.      Kurang pengetahuan dan pemahaman terhadap bahan-bahan, proses, dan alat yang digunakan.

2.      Kurang cukup instruksi atau supervisi oleh pengelola laboratorium.

3.      Tidak menggunakan alat pelindung atau alat yang tepat.

4.      Tidak memperhatikan instruksi atau aturan.

5.      Tidak memperhatikan sikap yang baik waktu bekerja di laboratorium.

Kecelakaan dalam laboratorium dapat dihindari dengan bekerja secara disiplin, memperhatikan dan mewaspadai hal-hal yang dapat menimbulkan bahaya atau kecelakaan, dan mempelajari serta mengikuti aturan-aturan yang dibuat untuk menghindari atau mengurangi terjadinya kecelakaan. Aturan-aturan ini biasanya dibuat berdasarkan pengalaman banyak orang.

Untuk meningkatkan taraf keselamatan dan keamanan di dalam laboratorium di sekolah pada umumnya, sejumlah peraturan perlu dibuat, diketahui, dan dipelajari, dan ditaati oleh seluruh yang terlibat pekerjaan di dalam laboratorium.

1.         Semua yang terlibat dalam kegiatan laboratorium harus mengetahui letak keran utama gas, keran utama air, dan saklar utama listrik.

2.         Semua yang terlibat dalam kegiatan laboratorium harus mengetahui letak alat-alat pemadam kebakaran, seperti tabung pemadan kebakaran, selimut tahan api, pancuran hujan (shower) dan pasir untuk memadamkan kebakaran.

3.         Jika tidak ada petugas laboratorium atau guru sains, semua laboratorium harus berada dalam keadaan terkunci.

4.         Bekerja dengan zat-zat beracun dan karsinogen harus selalu dilakukan di dalam lemari asap.

5.         Gunakan tirai pengaman, pakaian pelindung, dan/atau kaca pelindung muka jika bekerja dengan zat-zat yang dapat meledak atau menyembur.

6.         Gunakan penutup hidung dan mulut jika sedang menggerus zat kimia.

7.         Gunakan sarung tangan khusus anti panas dan peralatan yang tepat saat menempatkan dan mengambil benda-benda dan otoklaf.

8.         Jika memindahkan pipa gelas panjang dari satu tempat ketempat lain didalam laboratorium atau koridor laboratorium, pegang pipa pada posisi berdiri. Jangan memegangnya pada posisi mendatar atau miring.

9.         Jagalah agar bak air dan tempat sampah selalu dalam keadaan bersih, dan dicuci secara teratur.

10.     Botol besar selalu harus selalu dipindahkan dengan menggunakan alat pengangkut, misalnya meja dorong. Ketika memindahkan dari tempatnya kealat pengangkut. Janganlah memegang botol hanya pada lehernya. Peganglah pada badannya atau pangku lah badan botol itu.

11.     Zat yang mudah terbakar hanya dibawa secukupnya kedalam ruang laboratorium, tidak lebih daripada 500ml. Sisanya harus tersimpan ditempat khusus untuk zat-zat mudah terbakar.

12.     Botol berisi larutan amonia di dalam air (aqueans ammonia), yang kerapatannya selalu harus berada dalam keadaan dingin. Botol berisi larutan amonia baru harus selalu dibuka di dalam lemari asap dan yang membuka selalu harus menggunakan pelindung mata.

13.     Botol-botol kosong yang tidak dipakai harus disingkirkan di tempat penyimpanan bahan.

14.     Janganlah meletakkan reagen di tempat yang langsung terkena cahaya matahari.

15.     Usahakan selalu mengenakan pakaian pelindung jika bekerja di dalam laboratorium, terutama jika bekas dengan zat-zat korasif. Jika mengenakan jas laboratorium, jangan mengenakan laboratorium yang terlalu longgar dan berlengan panjang, sebab tanpa disadari bagian jas yang menjurai dapat mengenai zat kimia berbahaya, menyentuh nyala pembakaran atau menyentuh alat yang sedang berputar.

16.     Janganlah mencoba menghentikan putaran pemusing (centrifuge) dengan menahan ujung-ujungnya! Pemusing yang panjang lengannya !0cm dan diputar dengan kecepatan 5000 putaran per menit memiliki kecepatan linier sebesar 180 km j pada ujung-ujungnya! Ini sangat berbahaya jika mengenai jari atau bagian tubuh yang lain.

17.     Janganlah mengisi (mencharge) batere di eekat nyala api. Pengisiannya menghasilkan hidrogen yang jika bercampur dengan oksigen di udara dapat meledak jika terkena api.

18.     Ketika mengencerkan asam sulfat pekat. Janganlah memasukkan air ke dalam asam sulfat pekat tersebut. Lakukan sebaliknya, memasukkan asam sulfat ke dalam air sedikit demi sedikit.

19.     Jangan makan dan minum di dalam laboratorium. Jadi jangan membawa makanan ke dalam laboratorium. Jangan menggunakan wadah di dalam laboratorium untuk minum atau makan!

20.     Jangan berlari di dalam ruangan laboratorium dan koridor laboratorium.

21.     Jangan bekerja sendirian di dalam laboratorium. Sekurang-kurangnya harus ada seorang petugas laboratorium menyertai.

22.     Tumpukan bahan kimia apapun, termasuk air harus segera dibersihkan kerana dapat menimbukan kecelakaan. Misalnya, air yang tumpah di latai dapat menyebabkan orang terpeleset. Tumbahan cairan atau padatan di atas meja harus segera dibersihkan untuk mehindari kontak dengan kulit ataupun pakaian.

23.     Jangan menggunakan perhiasan saat bekerja di laboratorium, sebab banyak bahan kimia yang dapat merusak bahan-bahan yang dapat digunakan untuk membuat perhiasan.

24.     Jangan menggunakan sandal atau sepatu terbuka atau sepatu hak tinggi selama bekerja di laboratorium.

25.     Bila kulit terkena bahan kimia, segera cuci dengan air sebanyak-banyaknya sampai bersih. Jangan digaruk agar zat tersebut tidak menyebar atau masuk ke dalam badan melalui kulit.

26.     Jangan sengaja menghirup bahan kimia. Jika harus melakukannya, lakukan dengan hati-hati. Jangan dihirup langsung melainkan dengan cara mengkibas-kibaskan tangan sehingga uap zat hanya sedikit yang masuk kehidung.

27.     Jangan mengambil zat cair menggunakan pipet dengan jalan menghisapnya dengan mulut. Gunakan dengan alat pengisi (filter).

Butir-butir aturan yang ada di atas perlu “disosialisasikan” kepada semua yang bertugas di dalam laboratorium dan siswa yang akan menggunakan laboratorium. Agar lebih efektif, aturan-aturan ini atau sebagian dari butir-butir dianggap penting dan perlu dicetak dengan huruf-huruf berukuran relatif besar (12-15 pt) dan ditempelkan pada berbagai tempat yang strategis.

Listrik yang sangat berbahaya adalah listrik yang bertegangan tinggi, batas terendah tegangan yang tidak berbahaya masih belum diketahui dengan pasti. Terkena sengatan listrik atau kesetrum sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian seketika. Arus listrik yang melewati tubuh akan merusakkan jaringan tubuh seperti saraf, otot, serta dapat mengacaukan kerja jantung. Pada korban tersengat (kesetrum) listrik korban sering kali jatuh pingsan, mengalami henti napas, denyut jantung tak teratur atau biasa jadi malah berhenti sama sekali, dan mengalami luka bakar yang luas.

Sesungguhnya yang menetukan tingkat bahayanya adalah besarnya arus (kuat arus) yang mengalir melalui badan atau bagian badan, bukan semata-mata tegangannya. Meskipun tegangan sumber sangat tinggi, tetapi arus yang dapat dialirkannya hanya pada tingkat mikro ampere (10-6 A atau µA), tegangan sumber tidak membahayakan. Inilah yang terjadi pada generator Van De Graff kecil yang biasa digunakan disekolah.

Arus terendah (terkecil) yang masih dapat dirasakan oleh badan adalah arus yang besarnya sekitar 1 mA pada arus bolak-balik(AC) dengan frekuensi 50Hz, atau disekitar 5 mA pada tegangan searah (DC). Arus yang lebih besar daripada 20 mA pada arus AC dengan frekuensi 50Hz atau 80mA arus DC dapat berakibat mematikan atau luka bakar yang serius.

Kuat arus menurut Ohm, pada suatu tegangan tertentu, bergantung pada hambatan penghantar tempattegangan itu diadakan. Jika hambatan besar, maka arusnya kecil dan sebaliknya. Basah atau keringnya kulit mempengaruhi hambatan badan. Jika badan dalam keadaan basah menyebabkan hambatan kecil, maka dari itu jangan menyentuh alat-alat yang dialiri listrik. Untuk menghindari bahaya istrik perhatikan saran berikut ini.

a.    Sebelum digunakan, semua peralatan listrik yang baru diterima perlu diperiksa untuk memastikan bahwa barang (casis) alat tidak “hidup” (tidak memiliki tegangan terhadap tanah), untuk mengetahui hidup atau tidak hidupnya suatu bagian alat listrik, colokkan steker alat ke sumber tegangan yang sesuai, lalu sentuh bagian badan alat dengan pena uji (test pena) sementara kaki atau bagian badan yang lain menyentuh tanah. Jika pena menyala, bagian alat itu hidup, maka jangan disentuh.keadaan alat seperti itu biasanya terjadi kesalahan pada waktu alat tersebut dibuat.

b.    Peralatan listrik secara periodik harus diperiksa untuk mengetahui hidup atau tidak hidupnya bagian alat tersebut.

c.    Kapisator (kondensator) yang berkapitas besar, misalnya di atas 10.000µF, dapat menyimpan energi listrik yang cukup besar, meskupin sudah pernah dinetralkan. Kapisator dapat memperoleh kembali disekitar 10% muatannya setelah dikosongkan, sehingga dapat menimbulkan cedera listrik. Oleh karenan itu, setiap kapasitor yang berukuran besar harus disimpan dalam keadaan elektroda-elektrodanya dihubungkan singkatnya menggunakan kabel penghubung.

Berikut ini yang harus dilakukan untuk menangani korban yang tersengat listrik adalah :

1.    Lihat keadaan sekitar dan kondisi korban

Perhatikan terlebih dahulu kondisi sikorban dan sekitarnya. Lihat apakah korban masih terhubung dengan aliran listrik atau tidak. Jangan terburu-buru langsung menyentuh atau memegangsi korban. Jika korban masih terhubung dengan listrik, biasa  jadi kita akan ikut kesetrum, walhasil kita jadi ikut menjadi korban.

2.    Matikan sumbe rlisrik

Cari sumber listriknya dan matikan. Jika tidak bisa, singkirkan sumber listrik dari tubuh korban menggunakan benda yang tidak mengantarkan listrik, semisal kayu, plastik, atau karet.

3.    Pindahkan korban

Jika lokasi kejadian tidak aman, pindahkan korban ketempat lain, lalu segera bawa korban kepusat layanan medis terdekat. Bisa juga dengan menghubungi nomor darurat agar sikorban dijemput.

4.    Lakukan perawatan

Sambil menuju atau menunggu bantuan medis datang, baringkan korban dalam posisi telentang. Posisi kaki diatur agar lebih tinggi dari kepala untuk mencegah terjadinya shock. Periksa pula pernapasan dan denyut jantungnya. Jika jantung atau napas korban terhenti, Anda biasa melakukan tindakan cardio pulmonal resuscitation (CPR), dengan catatan anda menguasai teknik ini.

Radiasi adalah pemancaran sesuatu oleh sumber radiasi. Radiasi ada yang berupa elektromagnetik, ada yag partikel. Radiasi gelombang elektromagnetik memliki rentangan spektrum yang amat luas. Rentangan panjang gelombangnya (atau frekuensinya) amat besar. Mulai dari gelombang radio yang panjang gelombangnya beberapa ratus meter. Sampai ke sinar-y yang panjang gelombangnya ada pada tingkat 10-10m, sinar-X memiliki panjang gelombang pada tingkat 10-9m. Mulai dari sinar-X sama sinar-Y, semuanya bersifat dapat melewati (menembus) berbagai benda dan dapat mengionkan partikel-partikel benda (atau atom molekul) menjadi ion.

Radiasi sinar-Y dan radiasi partikel pertikel di pancarkan zat-zat radioaktif. Radiasi partikel zat radioaktif ada yang berupa elektron dan disebut sinar–β , ada yang berupa inti helium dan disebut sinar-α. Sinar –y adalah gelomang elektromagnetik. Sinar –X, sinar-α, sinar-β, dan sinar –ϒ hanya mengionkan. Semua sinar mengionkan tidak terindera oleh mata.

Disekolah mungkin ada seumber-sumber mengionkan, yaitu tabung sinar-x dan radioaktif untuk pelajaran. Sinar berbahaya bagi tubuh, terutama sekali sinar yang energi nya besar. Akan tetapi untuk keperluan sekolah, alat-alat yang memancarkan sinar-sinar mengionkan itu biasanya berenergi rendah. Tabung gambar pesawat televisi pun memnacarkan sinar-x. Akan tetapi tabung tabung yang baru biasanya sudah terbuat dari bahan yang mengandung timbal sehingga menyerap sebagian sinar-x. Adapun demikian, bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh sinar mengionkan tidak boleh diabaikan. Janganlah mengarahkan sinar ion ke tubuh, baik sengaja maupun tidak sengaja. Bahaya yang dapat ditimbulkan sinar-sinar mengionkan adalah:

a.    Merusak fungsi sel yang terkena radiasi. Kerusakan yang ditimbulkannya dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat tetap atau permanen.

b.    Merusak jaringan tubuh jika terkena radiasi.Dengan dosis yang cukup tinggi.

c.    Jika sinar mengionkan sampai menembus tulang karena sangat kuat, sinar tersebut dapat merusak sum-sum tulang belakang.

Radiasi tidak mengionkan ialah radiasi gelombang elektromagnetik yang panjang gelombangnya sama atau lebih besar darpada panjang gelombang sinar ultraviolet, yang panjang geombangnya kira-kira berkisar antara 5nm sampai 380nm. Sinar-sinar yang dapat diindera oleh mata termasuk sinar tidak mengionkan. Demkian juga inframerah dan yang disebut gelombang mikro.

Salah satu jenis alat yang memancarkan gelombang mikro, yang mungkin sekali ada di SMA atau Aliyah, ialah pemancar gelombang mikro, tungku (oven) gelombang mikro (micro wave oven), dan telephone genggam. Mengenai radiasi yang ditimbulkan oleh alat-alat ini pernah menjadi perdebatan (kontroversi) berkaitan dengan bahaya yang dapat ditimbulkannya. Ada  peneliti yang melaporkan bahwa radiasi gelombang mikro membahayakan kesehatan. Ada yang melaporkan tidak membahayakan sekedar untuk diketahui, pada tahun 1996 The National Academy Of Sciences di Amerika Serikat mempelajari sekitar 500 makalah penelitian mengenai pengaruh radiasi tidak mengionkan terhadap kesehatan. Dan menyimpulkan bahwa radiasi itu tidak menimbulkan bahaya pada kesehatan. Akan tetapi, perlu diingat bahwa tungku atau oven gelombang mikro dapat memasak daging jika disinarkan berkepanjanan. Begitu jugadengan sinar inframerah. Namun tungku gelombang mikro keluar alat. Penyinarannya dibatasi hanya didalam tungku. Sinar laser dan sinar ultraviolet merupakan sinar tidak mengionkan yang dimaksudkan sebagai sinar membahayakan juga.

a.    Sinar Laser

Makin lama makin banyak sekolah yang memiliki sumber sinar laser, terutama untuk percobaan-percobaan optika dalam fisika. Laser bahkan dapat dibeli ditoko serba ada dengan harga yang terjangkau. Alat itu diberi nama penunjuk (pointer), karena digunakan sebagai penunjuk pada penayangan gambar dilayar.

Laser memiliki keistimewaan yang dengan sumber biasa. Yaitu intensitas cahayanya sangat tinggi dan sedikit sekali mengalami perubahan selama perambatan laser yan dijual untuk keperluan yang biasanya berdaya rendah. Yaitu kurang sekitar 10-2 w/cm2. Laser yang berdaya di 10-2 w/cm2 dan jika mengenai retina mata dapat menimbulkan kerusakan permanen pada retina. Walaupun jarak sumber laser dari mata korban. Oleh karena itu siswa diberitahu akan bahaya ini dan berhati-hatilah dalam menggunakan laser. Dua hal yang harus diperhatikan:

a)    Siswa tidak boleh mengarahkan laser kesiswa lain. Lebih-lebih kematanya.

b)   Siswa berhati-hati dalam memantul-mantulkan sinar laser pada min. Sebab secara tidak disengaja pantulannya dapat mengenai kemata siswa lain.

b.    Sinar Ultraviolet

Jika disekolah ada sinar ultraviolet berhati-hatilah dengan sinar lampu ini. Biasanya lampu ini biasanya terdapat pada alat-alat sterilisas ataupun mesin fotocopy. Sinar ultraviolet yang masuk kemata dapat mencederai mata. Karena sinar itu diserap oleh retina dan oleh selaput yang disebut konjungtiva (conjunctiva) akibatnya setelah beberapa hari (4-8hari) terjadi pembengkakan disertai nyeri yang amat sangat. Jadi janganlah melihat langsung sumber sinar ultraviolet. Gunakanlah cahaya sinar ultraviolet untuk menghindari cidera perlu juga diketahui bahwa cahaya yang timbul pada waktu orang sedang mengelas mengandung banyak sinar ultraviolet. Jangan mengarahkan mata lama-lama ke nyala alat pengelas.

Bekerja di laboratorium biologi dapat berhubungan dengan masalah keamanan dalam menangani mikroorganisme, masalah pemeliharaan dan penggunaan makhluk hidup dalam percobaan, masalah yang berkaitan dengan pengorganisasian kerja lapangan (field trip), dan masalah-masalah biologis yang dapat menimbulkan dampak berbeda-beda pada siswa. Ada kemungkinan laboratorium sekolah melengkapi dengan teratium, akuarium, kebun sekolah, dan juga melakukan kultur (pembiakan) mikroba. Semua makhluk tersebut, sedikit atau banyak, dapat membawa mikroba yang dapat menimbulkan penyakit pada manusia. Mikroba ini dapat berkembang-biak dengan cepat dan dapat menyebabkan berjangkitnya suatu penyakit, memungkinkan ini perlu diwaspadai dan di antisipasi, sambil berupaya agar dampak negatif yang dapat ditimbulkan tidak ada, atau kecil-kecilnya.

Tidak disarankan sekolah mengadakan percobaan-percobaan menggunakan mikroba patogenik, karena membahayakan jika tidak dalam pengawasan orang yang benar-benar ahli dalam masalah ini. Jika sekolah akan mengadakan percobaan-percobaan yang berkaitan dengan mikroorganisme, terutama jika bekerja dengan mikroorganisme patogenik, saran-saran berikut ini perlu diperhatikan dan dijalankan:

a.    Ketika melakukan kegiatan (percobaan) yang berkaitan dengan mikroba patogenik, pintu dan jendela laboratorium sebaiknya ditutup untuk menghindari menyebarnya mikroba ke luar laboratorium.

b.    Setelah selesai melakukan percobaan, jas laboratorium yang di gunakan harus dilepas dan digantungkan kedalam laboratorium.

c.    Sebelum meninggalkan laboratorium, tangan harus dicuci dengan menggunakan zat antibakteri, misalnya sabun antiseptk, lalu dibasuh dengan air yang banyak.

d.   Kultur (biakan) harus diberi label yang jelas mengenai jenis mikroba, media yang digunakan dan tanggal pengkulturan dilakukan.

e.    Kultur hendaknya tidak terlalu lama disimpan di atas meja, tetapi harus secepatnya dipindahkan ke tempat yang khusus, misalnya kelemari es atau lemari penyimpan. (Lemari es yang digunakan untuk menyimpan biakan seperti ini tidak boleh digunakan untuk menyimpan bahan makanan.

f.     Cawan-cawan perlu berisi kultur mikroba harus ditutup dan disegel rapat (sealed) dengan selotip untuk menghindari menyebarnya spora.

g.    Sampah yang kemungkinan tertular mikroba harus di otoklaf atau dibakar sebelum dibuang.

h.    Setiap bahan atau sampah yang berkemungkinan menularkan penyakit, yang diambil dan dalam laboratorium, harus dibawa dipindahkan di dalam wadah luar yang tidak dapat pecah dan tertutup rapat.

i.      Langkah-langkah (procedures) yang melibatkan bahan-bahan yang dapat menularkan penyakit yang menghasilkan acrosol (suspensi partikel di dalamlemari aliran laminar (laminar flow cabinet) atau didalam wadah yang kedapn acrosol.

j.      Ketika bekerja dengan bahan yang berkemungkinan mengandung penyakit  menular, semua meja kerja harus disapu dengan disinfektan yang sesuai sebelum dan sesudah bekerja.

k.    Semua zat yang tertetes/tertumpah harus seketika dibersihkan dengan menggunakan larutan disinfektan (misalnya natrium hipoklorida atau alkohol 70%). Tertumpahnya zat yang dapat menular penyakit harus segera dilaporkan ke pengelola laboratorium, dan kejadian itu harus dicatat di dalam buku catatan harian yang harus ada di dalam laboratorium.

l.      Cairan biologis yang akan dibuat harus distelisasi, yang dapat digunakan dengan menambahi natrium klorit 2% pada cairan tersebut membiarkannya selama 24 jam.

Perlu diperhatikan bahwa bahan yang dibasahi natrium hipoklorit, tidak boleh diotoklaf karena menghasilkan uap beracun.

Laboratorium biologis umumnya memerlukan obyek pengamatan berupa makhluk hidup seperti hewan, tumbuhan, dan mikroba dalam keadaan hidup, termasuk bagian-bagiannya dalam keadaan segar seperti organ, jaringan  sel, maupun produk-produk yang dihasilkannya seperti cairan tubuh, darah, serum, hormon, enzim, susu, dan telur. Informasi mengenai asal, proses dan kemurniannya sedapat mungkin diketahui dengan baik untuk menjamin tidak terkontaminasi dengan organisme patogen termasuk virus. Semua materi biologis harus diwaspadai bahayanya, ditanggani dengan seaman mungkin, dan dibuang dengan cara yang aman.

Lebih dari status penyakit hewan diketahui dapat menular ketubuh manusia. Oleh karena itu, memelihara hewan tumbuhan mikroba hidup di laboratorium sekolah mengandung bahaya menjangkitnya penyakit, lebih-lebih jika sedang ada endemik atau epidemik suatu jenis penyakit hewan, misalnya flu burung atau antraks (anthras). Di samping itu, ada kesukaran dalam pemeliharaan dan penjagaan kebersihannya. Misalnya, siapa yang akan memelihara hewan-hewan itu pada sekolah sedang libur.

Jika akan memelihara hewan juga, kebersihan tempat hewan itu dipelihara (kandang) selalu harus dijaga. Demikian juga kesehatannya. Jangan sampai hewan yang dipelihara menjadi sumber penyakit bagi siswa atau guru. Diperlukan dokter hewan untuk memeriksa keadaan kesehatan hewan yang di pelihara. Harus dipastikan bahwa hewan yang didapat ada dalam keadaan sehat dan tidak membawa mikroba patogenik. Janganlah memelihara hewan yang didapat dari sembarang tempat.

Jika akan dilakukan pembedahan terhadap hewan, perlu diperhatikan siswa yang secara psikologis tidak tahan melihat darah, atau melihat darah keluar dari luka makhluk hidup. Kenalilah keberadaan siswa seperti ini sebelum diadakan kegiatan pembedahan. Siswa seperti ini tidak boleh dipaksa menyaksikannya.

Kunjungan kelapangan merupakan hal yang sangat penting bagi semua cabang pendidikan, termasuk pendidikan sains. Bila sains biologi, kunjungan itu dapat berupa datang ke lapangan yang berat, ke hutan atau ke pantai. Bila sains itu kimia atau fisika, lapangan itu dapat berupa kunjungan ke laboratorium sesungguhnya, ke pabrik, museum sains, ke reaktor nuklir, dan sebagainya. Di lapangan yang sebenarnyalah siswa menyaksikan atau mempelajari sains di praktekan, sehingga siswa dapat melihat dan menyadari fungsi pendidikan sains dengan kehidupan sehari hari. Untuk melakukan kerja atau kunjungan kelapangan perlu dilakukan perencanaan dan pengorganisasian yang cermat dengan mengantisipasi berbagai hal yang mungkin dapat menimbulkan masalah dan membahayakan siswa.

1.    Untuk mengantisipasi kemungkinan bahaya yang ada dan untuk merencanakan kegiatan yang dapat dilakukan, perlu dilakukan peninjauan lapangan dan lokasinya, dan jika guru pembimbing lapangan belum kenal akan lapangan yang hendak dijadikan obyek studi. Baik sekali jika ada peta lokasi tempat yang akan dikunjungi.

2.    Jumlah siswa yang banyak mengharuskan guru membagi siwsa menjadi kelompok-kelompok, misalnya 10 orang setiap kelompok, dan setiap kelompok ada ketuanya. Ketua di beri sejumlah tanggung jawab dan wewenang yang berkaitan dengan keamanan kelompoknya. Dengan cara ini guru akan lebih mudah mengatur dan mengawasi seluruh kegiatan siswa.

3.    Membuat perencanaan waktu keberangkatan, waktu tiba, dan waktu untuk pulang. Jika lokasi kunjungan atau pengamatan lebih dari satu perlu dipertimbangkan pula jarak dan waktu yang diperlukan untuk mencapai antarlokasinya. Musim pada waktu kerja lapangan juga perlu dipertimbangkan sebab musim menentukan kondisi lapangan dan objek pengamatan. Dimusim hujan tentulah sering hujan dan jalan mungkin akan menjadi licin.

4.    Membuat daftar orang dan telepon yang dapa dihubungi yang diketahui dapat membantu proses pengamatan maupun membantu apabila terjadi sesuatu hal, seperti bagian humas (untuk perusahaan), manajer/pengelola lokasi, jagawan(penjaga hutan), ketua RT/RW setempat, polisi dan lainnya.

5.    Alat-alat untuk mengambil atau mengumpulkan objek seperti jala plankton, jala serangga, vaskulum, botol/wadah untuk sempel/spesimen dan lainnyaperludipertimbangkan juga bahan untuk pengawetnya supaya sampai dilaboratorium dalam keadaaan baik bahkan masih segar hidup, apalagi jarak dari lapangan dan laboratorium cukup jauh. Misalnya es kering (dry ice) untuk mengawetkan sampel plankton, alkohol atau formalin untuk mngawetkan spesimen tumbuhan maupun hewan. Jika ingin membuat herbarium maka perlu disiapkan kertas koran dan rangka penjepitnya.

6.    Pada setiap kerja lapangan perlu di siapkan kotak PPPK.

Bila kunjungan itu berupa kunjungan ke lapangan yang berat, kehutan, atau ke pantai, beberapa hal berikut perlu menjadi bahan pertimbangan.

a.       Kondisi Medan Berat

Medan berat maksudnya medan yang tidak mudah dilalui, bertebing, ada sungai yang cukup besar, ada semak dan belukar yang ditumbuhi tumbuhan berduri, kemungkinan adanya hewan berbisa. Ini perlu diantiipasi dengan meminta atau mewajibkan siswa mengenakan pakaian yang sesuai agar seluruh tubuh terhindar dari sengatan atau patukan dari hewan berbisa, serta mengenakan sepatu yang sesuai.

Jika kerja lapangan ini berlangsung di tempat tempat bersemak-semak atau hutan maka perlu diperingatkan agar tidak membuat api di sembarang tempat. Tindakan ini berbahaya karena dapat menimbulkan kebakaran yang meluas, yang sukar dipadamkan. Jika akan menyebrangi sebuah sungai, pastikan bahwa semua siswa akan mampu melewatinya, sebab kemungkinan ada siswa yang tidak mampu berenang atau yang takut akan air. Sungai dangkal tetapi berbatu batu dapat pula berbahaya, sebab orang dapat terpeleset dalam bebatuan dan terhimpit diantara dua batu, keadaan seperti ini perlu diketahui siswa sebelum melewati sungai seperti itu. Jika diketahui akan ada jalan/ lintasan yang ada tanjakan, pastikan tidak ada siswa yang menderita kelainan jantung. Sebab tanjakan berat dapat membahayakan penderita seperti itu.

b.      Menginap Di Tenda

Mungkin juga kerja lapangan itu berlangsung beberpa hari dan peserta harus menginap di tenda tenda yang dibangun di tempat tempat terpencil. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1)   Siswa arus mendapat izin tertulis dari orang tuanya, izin yang memperbolehkannya mengikuti kegiatan seperti itu.

2)   Nama-nama dan banyaknya yang akan mengikuti kegiatan disiapkan dari awal, dan diulang pada waktu pemberangkatan.

3)   Daftar peralatan menginap dibuat diawal-awal seperti lampu penerangan, lampu senter, obatan seperti kotak PPPK, air sanitasi, cairan anti nyamuk dan obat anti toksin (anti bisa).

4)   Jika jumlah siswa banyak, sampah yang dibuat juga akan banyak. Seperti sisa sisa makan, botol plastik dan atau kaleng makanan. Upayakan agar sampah tidak ditiggalkan berserakan. Upayakan pembuangannya sedemikian rupa sehingga tempat yang ditinggalkan tidak kotor.

5)   Waspadai terjadinya kebakaran alat penerangan seperti lampu gas.

6)   Ketersediaan telepon genggam sangat diperlukan. Jika daerah yang dikunjungi berada dalam jangkauan telepon genggam yang digunakan, tidak perlu dipikirkan cara lain untuk berkomunikasi, misalnya dengan komunikasi yang disebut handy talk.

c.       Daerah Hutan

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam berkunjung ke hutan sama seperti kunjungan lapangan bersemak belukar. Waspadai adanya biatang berbisa, tumbuhan berduri, tumbuhan beracun, lintah darat dan lainnya. Peringatkan siswa agar tidak membuang api di dalam hutan terutama pada musim kemarau.

d.      Kunjungan ke Pabrik/Perusahaan

Biasanya pabrik atau perusahaan yang sering mendapat kunjungan siswa memiliki aturan menyangkut penjagaan keselamatan yang berlaku ditempat itu. Mintalah peraturan ini pada pabrik yang hendak dikunjungi dan sosialisasikan peraturan kepada semua peserta. Agar semua siswa mentaati peraturan.

e.       Kunjungan Ke Pantai

Beberapa sumber bahaya perlu diwaspadai saat berkunjung ke pantai diantaranya:

1)   Adanya larangan berenang. Peringatkan siswa agar mematuhi larangan berenang. Jika di pantai yang dikunjungi ada larangan berenang.

2)   Pasang naik yang dapat berlangsung cepat. Bila melakukan observasi ke tengah laut pada waktu pasang surut, berhati hatilah, jangan terlalu jauh ketengah. Sebab ada pasang naik yang berlangsung relatif cepat, sehingga siswa masih ada ditengah laut ketika air laut sudah menjadi tinggi. Ini tentulah berbahaya terutama bagi yang tidak dapat berenang.

Terdapat banyak zat kimia yang tersedia di laboratorium kimia sekolah yang potensial berbahaya. Bahayanya bersifat laten atau tersembunyi. Zat-zat kimia tersebut dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok diantaranya:

Zat-zat karsinogen adalah zat-zat yang dapat menimbulkan kanker atau tumor. Beberapa jenis amina aromatik (aromatic amines) diketahui bersifat karsinogen. Beberapa hasil reaksi kimia yang dilakukan di sekolah juga diketahui bersifat karsinogen. Contohnya reaksi aldehida dan hidrogen klorida di urada, reaksi cepat menghasilkan bischloromethyl dengan konsentrasi tidak terlalu tinggi. Beberapa zat seperti metal yodida, karbon tetra klorida, kloroform, dikloro metan, dan benzene (benzene) diketahui dapat menimbulkan kanker pada hewan percobaan. Zat-zat berikut ini tidak boleh digunakan di sekolahan.

·         1- dan 2- naftilamina:

·         Nitrosamine (nitrosamine)

·         Nitrosofenol(nitrosophenol)

·         Nitronaftalen (nitronaphihalena)

·         Beberapa difenil yang tersubstitusi (substituted diphenyls) seperti benzidin: o-dianisidin

Zat-zat korosif ( kaustik) Ialah zat yang merusak zat lain yang dikenainya dan sifat zat korosif adalah beracun. Zat jenis ini dibedakan menjadi 3 macam, diantaranya;

a.    Asam, Seperti asam nitrat, asam format dan asam sulfat

b.    Basa, Seperti natrium hidroksida, kalium hidroksida, dan ‘0.880’ larutan ammonia dengan air.

c.    Zat yang menghasilkan korosif dengan air, seperti asam klorida, alumunium klorida, dan oksida diklorida sulfur, brom, tenol, fosfor, dan sulfur dioksida.

Racun adalah zat yang dapat menyebabkan orang sakit, bahkan kematian. Jika masuk kedalam tubuh, masuknya racun kedalam tubuh dapat melalui 3 jalan yaitu:

a.    Melalui saluran pernapasan, yaitu terhirup

b.    Melalui penyerapan oleh kulit terhadap zat cair, zat padat, da gas

c.    Melalui saluran pencernaan, yaitu tertelan

Efeknya terhadap jaringan dan organ tubuh dapat cepat, dan dapat juga lambat. Asam kuat dan basa kuat dapat menyebabkan kerusakan dalam waktu cepat. Sedangkan yang membuat waktu lama dan kontak (sentuhan) yang sering adalah kerusakan hati dan kanker terhirup karbon tetraklorida, leukimia dll. Efeknya terhadap tubuh tergantung pada jenis bahan kimia dan lamanya waktu kontak serta daya tahan tubuh. Kecelakaan timbul apabila orang tersebut tidak menggunakan alat pengaman yang dapat menimbulkan masuknya racun kedalam tubuh. Beberapa zat beracun, korosit, atau dapat menimbulkan rasa nyeri

Nama Zat

Keterangan

Karbon monoksida

Hidrogen sulfida

Asap (uap) mengandung nitrogen(nirousfume)

Berilium

Benzene (benzene)

Raksa dan timbale

Karbon tetraklorida

Dimentibenzena

(Xylenes)

Gas tidak bewarna dan berbau

Menyebabkan kelelahan dalam saraf pencium

Mungkin tidak menimbulkan suatu gejala sampai beberapa jam setelah terhirup

Zat ini sangat beracun. Jika zat ini ada di

dalam laboratorium, zat ini harus diperlakukan dengan hati-hati

Zat ini dapat menyerang organ-organ tubuh pembentuk darah

Racunnya bersifat kumulatif (bertimbun didalam tubuh, makin lama makin bertambah)

Zat ini dapat menyerang hati (lever) dan mudah sekali berubah menjadi karbonil klorida (carbonyl chloride)

Zat ini diserap terutama melalui paru-paru.

Akibatnya terhadap kesehatan belum di ketahui secara jelas. Tetapi penghirupan zat ini menimbulkan rasa nyeri pada kepala, kelelahan, dan menyebabkan anoreksia (anorexia)-kehilangan nafsu makan.

Seperti telah disebutkan diatas zat kimia beracun dapat memasuki tubuh dengan berbagai cara:

a)      Melalui paru- paru karena terhirup waktu bernapas

b)      Melalui luka yang terbuka

c)      Melalui kulit dengan cara absorpsi

d)     Melalui mulut (tertelan)

Cara masuk yang paling berbahaya adalah jika zat tersebut masuk kedalam tubuh melalui pernapasan atau penghirupan. Namun, cara-cara lain harus tetap diwaspadai. Contohnya raksa harus diperlakukan dengan sangat berhati-hati. Sebab, disamping uapnya dapat terhirup, zat cair itu juga dapat masuk kebadan melalui kulit. Namun yang sering terjadi adalah raksa masuk ke badan melalui pernapasan dalam bentuk uap. Oleh sebab itu, setiap orang yang bekerja menggunakan raksa perlu dan harus menyadari akan bahaya ini. Gunakan lah sarung tangan jika ada kemungkinan raksa mengenai kulit.

Jika menggunakan raksa, gunakanlah baki yang terbuat dari bahan yang menggunakan logam untuk menampung kemungkinan untuk memungkinkan tumpahnya raksa kemeja atau lantai. Raksa yang tertumbah dimeja atau dilantai sangat sukar untuk diambil lagi  atau dibersihkan. Jika raksa masuk kedalam celah-celah sempit, taburi celah dengan belerang atau dengan “es kering” (karbondioksida padat). Dan propanon, kemudian disapu hingga bersih.

Di Amerika Serikat, pengembangan tenaga kependidikan yang efektif dilakukan dengan menerapkan beberapa model. Berdasarkan hasil studi pustaka (library research) yang dia lakukan, Crandall (ERIC Digest, April 1994) mengemukakan model-model efektif pengembangan profesional guru. Pertama, model mentoring, yaitu para praktisi atau guru berpengalaman merilis pengetahuannya atau melakukan aktivitas mentor kepada praktisi yang kurang berpengalaman. Kedua, model ilmu terapan atau model “dari teori ke praktik” berupa penautan antara hasil-hasil riset yang relevan dengan kebutuhan-kebutuhan praktis. Ketiga, model inkuiri atau model reflektif, yaitu pendekatan yang berbasis pada guru-guru, yaitu mereka harus aktif menjadi peneliti, seperti membaca, bertukar pendapat, melakukan observasi, melakukan analisis kritis, dan merefleksikan pengalaman praktis mereka sekaligus meningkatkannya. Persoalan selanjutnya adalah komplikasi yang ada di dalam sistem formal dan informal sekolah dan seperangkat aktivitas yang terkait dengan peluang pengembangan profesional guru di sekolah itu bersifat independen.

Penghirupan debu asbes (asbestus) dapat menimbulkan beberapa dampak yang mengganggu kesehatan seperti fibrosis (kerusakan ) pada jaringan pada paru-paru, kanker paru-paru dll. Oleh karena itu, tidak diperkenankan menggunakan asbes disekolah.

Bila peroksida masuk kemata, luka yang di akibatkannya dapat sangat parah. Oleh karena itu pelindung mata harus digunakan jika bekerja dengan zat ini.

Makin banyak benda-benda dari plastik digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan disekolah. Oleh karena itu bahaya yang mungkin di timbulkan oleh plastik yang perlu di ketahui:

a.    Jika memanaskan plastik, panaskan sedikit saja. Pada waktu di panaskan plastik polistrin menghasilkan uap stirin bercun dan PVC menghasilkan hydrogen klorida.

b.    Polistirin busa (expanded Polystyrene) tidak boleh di potong menggunakan kawat pijar yang terlalu panas. Karena akan menyebabkan terbebasnya monomer bercun. Janganlah menggerus atau menggergaji polistirin busa. Kecuali jika menggunakan alat pelindung (masker) untuk menghalangi serbuknya masuk keparu-paru.

c.    Beberapa reagen (pereaksi) organik (seperti triklorometan, 1,2- dikloroetan) biasa digunakan untuk merekatkan bahan-bahan dari plastik. Ketahuilah bahwa bahan-bahan aklirik di dalam asam etanol dapat menimbulkan lepuhan yang parah, yang munculnya tertunda.

Zat atau bahan yang berbahaya sebaiknya di beri tanda (penanda) yang jelas agar awal-awal sudah dapat di kenali oleh yang akan menggunakannya. Penanda-penanda berikut ini sudah banyak di gunakan di Indonesia. Asalnya dari eropa, yaitu masyarakat ekonomi eropa (European Economic Comumunity – EEC). Zat-zat diklasifikasikan menjadi  6 kelas yaitu kelas 1-kelas VI

Kelas I        adalah bahan peledak dan zat-zat tidak stabil yang digunakan sebagai bahan peledak, seperti pikrat, metil -2,4,6-trinitri benzena.

Kelas II      adalah bahan-bahan pengoksidasian yang dapat menimbulkan reaksi yang sangat eksotermik bila bersentuhan dengan zat-zat lain seperti asam nitral berasap, kalium klorat dll.

Kelas III     adalah bahan-bahan (material). Ada 5 subklas bahan-bahan ini, yaitu:

·         Zat padat yang mudah terbakar

·         Zat cair yang sangat mudah terbakar

·         Gas yang sangat mudah terbakar

·         Zat-zat yang dapat terbakar sendiri

·         Zat-zat yang mengeluarkan gas yang mudah terbakar jika bersentuhan dengan air

Kelas VI     adalah bahan-bahan beracun dari bahan-bahan berbahaya. Bahan beracun adalah bahan yang dapat menimbulkan keracunan yang parah dan kronis. Yang dapat terjadi melalui berbagai jalan. Bahan berbahaya adalh bahan yang membahayakan bagi yang terkena, meskipun tingkat keracunan tinggat jeracunan yang dapat timbul lebih ringan. Zat yang termasuk kedalam kelas sangat banyak adalah piridin (pyridine), oksida mangan dan fenol.

Kelas V adalah bahan-bahan korosif yang menimbulkan rasa nyeri. Bahan-bahan korosif didefinisikan sebagai bahan-bahan yang merusak jaringan hidup, dan bahan-bahan yang menimbulkan rasa nyeri yang didefinisikan sebagai bahan yang dapat menyebabkan radang pada kulit.

Kelas VI  adalah zat-zat radioaktif.

                       

                              
   

                       I Zat dapat meledak                            II Tanda zat pengoksidasi     

                       

                            
 

                        III Tanda zat mudah terbakar             IV Tanda zat beracun

                       

                               

                        V Tanda zat berbahaya                       VI Tanda zat korosif

VII Tanda zat radioaktif

Bahaya mekanik adalah bahaya atau kecelakaan yang berasal dari benda bergerak seperti mesin-mesin, seperti: mesin-mesin. Bagian mesin yang bergerak atau berputar dapat menimbulkan bahaya jika tidak diantisipasi. Bahaya mekanik yang mungkin sekali ada disekolah menengah umum adalah generator, van de Graff, kipas listrik, bor listrik, dan mesin bubut. Bahaya yang mungkin perlu diantipasi adalah:

a.    Terluka karena tersentuh benda berputar seperti lengan-lengan pemusing yang berputar pada kecepatan tinggi

b.    Pakaian yang longgar, atau rambut yang panjang tidak diikat rapi maka dapat terlilit berda berputar.

Terluka karena tertusuk pipa kaca pada waktu memasukkan pipa kaca (atau alat berbentuk pipa kaca ) kedalam sumbat karet atau gabus termasuk jenis kecelakaan yang sering terjadi di sekolah. Berikut ini diuraikan cara memasukkan pipa ke dalam sumbat agar terhindar dari kecelakaan seperti berikut.

·      Tumpulkan/licinkan ujung pipa yang akan dimasukkan dengan jalan memanaskan pada nyala yang cukup tinggi suhunya, misalnya pada nyala pembakar gas elpiji.

·      Pilih pelubang sumbat (pelubang gabus) yang garis tengahnya tepat atau paling dekat dengan garis tengah pipa.

·      Lumasi pipa pelubang yang akan dimasukkan ke dalam sumbat menggunakan sabun cair atau gliserol.

·      Lubangi sumbat dengan memasukkan pelubang dengan cara memutar-mutar seperti biasa. Setelah tembus, biarkan pelubang berada di dalam sumbat dengan gagangnya dihadapkan ke pipa yang akan dimasukkan.

·      Pilih dan lumasi pelubang sumbat yang ukurannya setingkat lebih besar daripada ukuran sumbat yang digunakan tadi. Masukkan pelubang ini menelusuri pelubang pertama ke dalam sumbat.

·      Keluarkan/tarik pelubang dari sumbat.

Laboratorium adalah suatu tempat dimana mahasiswa, dosen, dan peneliti melakukan percobaan, dalam melakukkan sebuah praktikum ataupun percobaan dilaboratorium pastilah terjadi kelalaian,baik ditimbul dari sesorang yang melakukan praktikum maupun dari bahan maupun alat yang digunakan praktikum. Kelalaian itu dapat berupa kecelakaan antara lain Terluka, Terkena Zat korosif, Terkena Radiasi, Terbakar, Terkena Zat Racun dan Terkena Kejutan Listrik . Maka sudah selayaknya kita untuk tetap melaksanakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di laboratorium agar dapat terhindar dari kecelakaan kerja di laboratorium dan dapat mengantisipasinya. Agar bukan hanya ilmu saja yang kita dapat setelah melakukkan praktikum tetapi kesehatan jasmani dan rohani kitapun tetap terjaga.

Kartiasa, Nyoman. 2006. Laboratorium Sekolah dan pengelolaannya. Pudak Scientific: Bandung.

Wikipedia. 2014. Pengertian Kecelakaan. Dalam URL : https://id.wikipedia.org/wiki/Kecelakaan. Diakses tanggal 18 November 2015, pukul 19.30 WIB.