Mengapa Allah SWT melarang umatnya menjadi orang yang lemah

Jakarta -

Meneruskan tulisan sebelumnya tentang kelemahan umat, masih ada pemahaman yang kurang tepat sehingga melemahkan sikap. Seperti, jika ada masalah, kita harus bersabar. Pemahaman di sini sabar yang pasif. Sebetulnya Kesabaran dan keteguhan bukanlah sikap pasif, apakah hanya dengan duduk diam maka masalah akan berlalu? Tentu tidak.

Akar Persoalan utama harus diurai, ditemukan dan dicarikan solusinya. Proses menemukan akar masalah dan mencari solusi hendaknya dengan kesabaran, kekurangsabaran akan sulit dan tidak optimal hasilnya. Hal ini seperti yang dicontohkan pohon kaktus dalam bertahan hidup ditengah gurun yang gersang. Ia mampu bertahan dan bahkan bisa berkembang biak.

Pohon ini menyebarkan akar-akarnya dan menghisap air dari tanah, udara dan menyimpannya dalam waktu yang sangat lama. Beginilah sabar yang harus kita contoh. Rasulullah melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah, karena sudah tidak mungkin bertahan. Bukan bersabar di Mekah sambil menunggu sikap penduduknya berubah menjadi lemah lembut dengan sendirinya. Ini bukan bersabar yang diajarkan. Kita simak firman Allah, " Maka bersabarlah kamu ( Muhammad ) seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar." (QS. al-Ahqaf [46] : 35 ).

Di dalam kehidupan kita sehari-hari akan membutuhkan kesabaran, bukan sabar yang pasif, tapi sabar yang aktif dengan mengerahkan segala daya yang diperlukan untuk menyeleseikan masalah maupun untuk meningkatan nilai tambah.

Akhir-akhir ini kondisi umat yang lupa akan dirinya, tidak menyuruh kepada kebaikan dan tidak mencegah kemungkaran. Mereka melihat kebaikan sebagai sesuatu yang mungkar dan melihat kemungkaran sebagai sesuatu yang baik. Yang menyedihkan adalah sudah terlena oleh fitnah ( kesesatan ) dan sudah menimbulkan perpecahan diantara umat Islam sendiri. Ada firman Allah yang mensifati manusia adalah sebagai berikut :

" Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah Swt." ( QS. ali-Imran [3] : 110 ).

Di samping itu kemampuan akal umat ini belum berfungsi secara sempurna. Hal ini terbukti dengan banyaknya temuan-temuan baru yang mendrive peradaban dari golongan non muslim. Kita cukup puas dengan mempelajari temuan mereka, menerapkan dan mengikuti. Sehingga secara tidak disadari umat ini menjadi sasaran pasar ( menjadi tergantung ). Mulai dari kebutuhan pangan yang sebagian besar diimpor, kebutuhan sandang dan agak menyedihkan adalah kebutuhan alat pertahanan.

Bagaimana mau mempertahankan atau menunjukkan eksistensinya kalau peralatan pertahanannya membeli dari pihak lain. Menyangkut kebutuhan apakah pangan yang bersifat primer maupun yang sekunder dan yang strategis, bisa disatukan sehingga menjadi permintaan yang memiliki jumlah yang cukup untuk dapat meningkatkan nilai tawar. Jika permintaan tersebut bisa dipenuhi dari salah satu wilayah muslim, maka lengkaplah berseminya kekuatan baru yang akan muncul. Bersatunya produksi dan pemenuhan kebutuhan sudah menjadi keharusan.

Potensi jumlah umat bisa memainkan peran ekonomi, hal ini yang sangat dikhawatirkan oleh negara-negara eksportir. Mereka akan mengalami penurunan income karena makin mandirinya negara-negara importir. Langkah berikutnya adalah membangun fasilitas strategis, termasuk peralatan pertahanan. Dengan tercapainya atas perencanaan tersebut, maka umat Islam sudah mampu memenuhi kebutuhan pangan, energi dan peralatan pertahanan, sehingga berdiri kokoh sebagai kesatuan yang mandiri.

Kurangnya produktif individu kaum muslimin di beberapa negara, sehingga tidaklah mengherankan kakau sampai saat ini banyak negara Islam masuk dalam negara sedang berkembang. Ini merupakan ungkapan sopan untuk menyatakan bahwa negara tersebut terbelakang. Produktifitas individu akan menentukan pertumbuhan ekonomi, namun karena rendahnya produktifitas akan menjadikan suatu kelemahan. Rasulullah saw senantiasa berdo'a agar dirinya terlindung kelemahan, dalam sabdanya, " Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas." ( Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Bukhari ). Dalam hadis lainnya beliau melarang kita bersikap lemah, "
Berlindunglah kepada Allah, dan janganlah engkau bersikap lemah." ( Diriwayatkan Muslim ). " Sesungguhnya Allah mencela orang yang lemah, akan tetapi hendaklah engkau cerdas." ( Diriwayatkan Abu Daud ).

Dari ketiga hadis tersebut, sikap lemah dan malas selalu Rasulullah hindari dan beliau berharap individu muslim termasuk golongan orang-orang yang cerdas.

Oleh karenanya bagi negara-negara muslim yang lemah jika bertekad bersatu, sehingga tidak melakukan segala sesuatu ( pemenuhan kebutuhan ) secara sendirian. Langkah ini akan memunculkan suatu kekuatan yang tangguh. Maka hidupkanlah ruh saling melengkapi dan saling memberikan pertolongan.

Aunur Rofiq

Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi

(erd/erd)

pada 31 Mei 2018, 21:40 WIB

Diperbarui 31 Mei 2018, 21:40 WIB

Perbesar

Juru Kunci Merapi menggelar doa bersama warga. Foto: (Switzy Sabandar/Liputan6.com)

Jakarta Ketika kita sedang dipusingkan dengan pelbagai urusan, sering kali ada orang memberi saran, " Semangat! Jangan putus asa!" Atau dengan kalimat lain seperti, " Pasti bisa! Jangan menyerah!"

Kalimat-kalimat di atas sebenarnya merupakan sugesti agar kita tidak menjadi lemah menghadapi berbagai persoalan. Artinya, jangan sampai kita menjadi putus asa dan menyerah.

Saran demikian juga kerap kita dapatkan dari para ustaz. Kita diharuskan untuk tidak berputus asa dalam segala hal, terutama soal agama.

Lantas, bagaimana sebenarnya ajaran Islam memandang putus asa?

Dikutip dari laman Islami.co, dalam bahasa Arab putus asa dikenal dengan istilah al ya's. Di dalam Alquran, al ya's memiliki dua makna yaitu al qunuth atau frustasi.

Hal ini seperti tercantum dalam Surat Yusuf ayat 87.

"Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir."

Sedangkan makna ke dua dari al ya's adalah mengetahui. Ini seperti dijelaskan dalam Surat Ar Ra'd ayat 31.

"Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah Al Quran itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya."

Sementara terkait hukum berputus asa, Ahmad Abduh 'Iwad dalam kitab La Tayasu min Ruhillah dengan mengutip pendapat Ibnu Hajar Al Asqalani, menjelaskan putus asa termasuk dalam dosa besar. Dasarnya adalah Surat Yusuf di atas.

Ibnu Hajar menyinggung hal ini mengingat adanya ancaman begitu pedih bagi orang yang berputus asa. Sebab putus asa dapat mengarahkan manusia ke dalam kebiasaan-kebiasaan buruk.

Pendapat ini diperkuat dengan pandangan Imam Al Qurthubi dalam kitab tafsir Al Jami' li Ahkamil Qur'an. Dalam kitab tersebut, Imam Al Qurthubi menerangkan seorang Muslim selalu mengharapkan jalan keluar atas segala masalahnya dari Allah dan tidak pernah berputus asa.

Sumber: Dream.co.id

Reporter : Ahmad Baiquni

Ternyata, putus asa bisa menjerumuskan manusia kepada perbuatan-perbuatan buruk.

Dream - Ketika kita sedang dipusingkan dengan pelbagai urusan, sering kali ada orang memberi saran, " Semangat! Jangan putus asa!" Atau dengan kalimat lain seperti, " Pasti bisa! Jangan menyerah!"

Kalimat-kalimat di atas sebenarnya merupakan sugesti agar kita tidak menjadi lemah menghadapi berbagai persoalan. Artinya, jangan sampai kita menjadi putus asa dan menyerah.

Saran demikian juga kerap kita dapatkan dari para ustaz. Kita diharuskan untuk tidak berputus asa dalam segala hal, terutama soal agama.

Lantas, bagaimana sebenarnya ajaran Islam memandang putus asa?

Dikutip dari laman Islami.co, dalam bahasa Arab putus asa dikenal dengan istilah al ya's. Di dalam Alquran, al ya's memiliki dua makna yaitu al qunuth atau frustasi.

© Dream

Hal ini seperti tercantum dalam Surat Yusuf ayat 87.

" Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir."

Sedangkan makna ke dua dari al ya's adalah mengetahui. Ini seperti dijelaskan dalam Surat Ar Ra'd ayat 31.

" Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah Al Quran itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya."

Sementara terkait hukum berputus asa, Ahmad Abduh 'Iwad dalam kitab La Tayasu min Ruhillah dengan mengutip pendapat Ibnu Hajar Al Asqalani, menjelaskan putus asa termasuk dalam dosa besar. Dasarnya adalah Surat Yusuf di atas.

Ibnu Hajar menyinggung hal ini mengingat adanya ancaman begitu pedih bagi orang yang berputus asa. Sebab putus asa dapat mengarahkan manusia ke dalam kebiasaan-kebiasaan buruk.

Pendapat ini diperkuat dengan pandangan Imam Al Qurthubi dalam kitab tafsir Al Jami' li Ahkamil Qur'an. Dalam kitab tersebut, Imam Al Qurthubi menerangkan seorang Muslim selalu mengharapkan jalan keluar atas segala masalahnya dari Allah dan tidak pernah berputus asa.

Selengkapnya baca di sini...