Naskah proklamasi dirumuskan di rumah seorang tentara Jepang yang bernama?

Laksamana Muda Tadashi Maeda (前田 精, Maeda Tadashi, 3 Maret 189813 Desember 1977) adalah seorang perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di Hindia Belanda pada masa Perang Pasifik. Selama pendudukan Indonesia di bawah Jepang, ia menjabat sebagai Kepala Penghubung Angkatan Laut dan Angkatan Darat Tentara Kekaisaran Jepang.

Maeda Tadashi
前田 精
Maeda (baris depan, kedua dari kiri) difoto selama kunjungan Sukarno ke Makassar, 1945

Saat Jepang menyerbu Hindia Belanda, Maeda ditugaskan untuk mengatur operasi-operasi AL di wilayah Irian Jaya.[5] Setelah invasi usai dan pemerintah kolonial Belanda jatuh, Maeda ditugaskan ke Batavia/Jakarta sebagai penghubung antara AL Jepang dan Angkatan Darat ke-16 Jepang.[1] Sepanjang masa Jepang, Maeda mengijinkan kapal selam Jerman Nazi untuk beroperasi dan transit di pelabuhan-pelabuhan di Indonesia.[6] Seusai diutarakannya janji Koiso yang menjanjikan kemerdekaan Indonesia oleh perdana menteri Jepang Kuniaki Koiso, Maeda membentuk Asrama Indonesia Merdeka pada bulan Oktober 1944. Maksud asrama ini adalah untuk menciptakan pemimpin-pemimpin untuk negara Indonesia yang merdeka.[7]

Setelah Jepang dibom atom Sekutu pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, Kekalahan Jepang semakin dekat. Hal ini membangkitkan semangat pemuda Indonesia untuk segera mencapai kemerdekaan. Pada tanggal 12 Agustus 1945, tiga tokoh Indonesia yakni Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat dipanggil oleh Panglima Tertinggi Jepang di Asia Tenggara, Marsekal Terauchi di markas besarnya di Dalat (sekarang Ho Chi Minh ) di Vietnam. Dalam pertemuan itu, Terauchi berjanji akan memberi bangsa Indonesia kemerdekaan pada tanggal 24 Agustus 1945.

Pada tanggal 15 Agustus 1945, Radio Asia Raya mengumumkan kekalahan Jepang. Kaisar Jepang, Hirohito menyerah kepada Sekutu. Berita ini kemudian tersebar luas di seluruh kalangan pemuda dan rakyat Indonesia. Mereka ingin pelaksanaan kemerdekaan dilakukan secepat mungkin. Mereka itulah yang termasuk golongan muda. Tetapi disisi lain, golongan tua ingin agar kemerdekaan dilaksanakan sesuai janji Jepang agar menghindari adanya pertumpahan darah.

Akhirnya pada tanggal 16 Agustus 1945, golongan muda seperti Sukarni dan Chaerul Saleh menculik Soekarno dan Muhammad Hatta ke Rengasdengklok dan mendesak mereka segera membacakan proklamasi. Setelah melalui pembicaraan yang panjang, akhirnya semua setuju proklamasi dibacakan diluar janji Jepang yakni 24 Agustus.

Di hari yang sama, para pemuda mengantarkan Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta untuk segera merumuskan naskah proklamasi. Namun ketika tiba dari Rengasdengklok ke Jakarta, hari sudah larut. Pada pukul 22.00, rombongan tiba di Hotel Des Indes. Mereka akan memesan ruangan untuk dijadikan tempat merumuskan naskah proklamasi. Sayangnya tempat itu sudah tutup. Para pemuda tidak kehabisan akal. Mereka lalu menghubungi seorang perwira Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang bersimpati terhadap perjuangan bangsa Indonesia, Laksamana Maeda. Ia pun mengizinkan rumahnya, yang sekarang beralamat di Jalan Imam Bonjol no.1 untuk dijadikan tempat perumusan naskah proklamasi dan menjamin keamanan selama rapat karena Maeda merupakan Kepala Perwakilan Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang) sehingga rumahnya merupakan extra territorial dan harus dihormati oleh Rikugun (Angkatan darat kekaisaran Jepang / Kempetai) maka rumah Maeda dianggap aman.Rumah Maeda tersebut kini berubah menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d Anderson 2006, hlm.427.
  2. ^ The Encyclopedia of Indonesia in the Pacific War: In cooperation with the Netherlands Institute for War Documentation (dalam bahasa Inggris). BRILL. 2009. hlm.544545. ISBN9789004190177.
  3. ^ Chapman, John (6 April 2011). Ultranationalism in German-Japanese Relations, 1930-1945: From Wenneker to Sasakawa (dalam bahasa Inggris). Global Oriental. hlm.208. ISBN978-90-04-21278-7.
  4. ^ De Jong, Louis (1969). Het Koninkrijk der Nederlanden in de Tweede Wereldoorlog, Deel 2: Neutraal (dalam bahasa Belanda). Amsterdam: Rijksinstituut voor Oorlogsdocumentatie. hlm.254.
  5. ^ Poulgrain 1999, hlm.210.
  6. ^ "Tokoh Ini Lindungi Masuknya Kapal Nazi ke Jakarta". Tempo. 12 Desember 2014. Diakses tanggal 3 Oktober 2021.
  7. ^ Anderson 2006, hlm.44.

Daftar pustakaSunting

  • Anderson, Benedict (2006). Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944-1946 (dalam bahasa Inggris). Equinox Publishing. ISBN9789793780146.
  • Poulgrain, Greg (1999). "Delaying the 'Discovery' of Oil in West New Guinea". The Journal of Pacific History. 34 (2): 205218. doi:10.1080/00223349908572903. ISSN0022-3344. JSTOR25161079.
  • Achmad Soebardjo.(1970). Lahirnja Republik Indonesia. Jakarta Times. Jakarta.
  • Genzo Oku. Tranlated.(1973). Achmad Soebardjo. Indonesia No Dokuritsu To Kakumei. Ryukeishosha. Tokyo.
  • Kemendikbud.(2017).Sejarah Indonesia SMA/MA/SMK/MAK Kelas 11 Semester 2.Kemendikbud.Jakarta


Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Maeda_Tadashi&oldid=19211001"