Samaratungga (812-838m) merupakan raja terbesar dari dinasti syailendra. pada masanya ia berhasil …

Wangsa atau Dinasti Sailendra adalah dinasti yang berkuasa di Jawa khususnya pada Kerajaan Mataram Kuna Periode Jawa Tengah. Dinasti ini menurunkan raja-raja besar yang memerintahkan pembangunan candi-candi kerajaan berukuran besar seperti Candi Borobudur, Candi Sewu, Candi Kalasan, Candi Mendut, Candi Lumbung dan lain-lain.

Di Indonesia nama Åšailendravamsa dijumpai pertama kali di dalam Prasasti Kalasan dari tahun 778 M dengan sebuatan Åšailendragurubhis, ÅšailendrawaÅ„Å›atilakasya dan Åšailendrarajagurubhis. Pada prasasti lainnya Nama Sailendra juga ditemukan pada prasasti Kelurak dari tahun 782 M dengan sebutan ÅšailendrawaÅ„Å›atilakena, dalam prasasti Abhayagiriwihara dari tahun 792 M dharmmatuÅ„gadewasyaÅ›ailendra, prasasti Sojomerto dari sekitar tahun 700 M selendranamah dan prasasti KayumwuÅ„an dari tahun 824 M Å›ailendrawaÅ„Å›atilaka. Sementara itu, di luar Indonesia nama ini ditemukan dalam prasasti Ligor dari tahun 775 M dan prasasti Nalanda. Mengenai asal usul keluarga Åšailendra banyak dipersoalkan oleh beberapa sarjana. Berbagai pendapat telah dikemukakan oleh sejarawan dan arkeologis dari berbagai negara. Ada yang mengatakan bahwa keluarga Åšailendra berasal dari Sumatra, dari India, dan dari Funan.

Majumdar menyampaikan angapannya bahwa keluarga Åšailendra di Nusantara, baik di ÅšrÄ«wijaya (Sumatera) maupun di MdaÅ‹ (Jawa) berasal dari Kalingga(India Selatan). Pendapat yang sama dikemukakan juga oleh Nilakanta Sastri dan Moens. Moens menganggap bahwa keluarga Åšailendra berasal dari India yang menetap di Palembang sebelum kedatangan Dapunta Hyang. Pada tahun 683 Masehi, keluarga ini melarikan diri ke Jawa karena terdesak oleh Dapunta Hyang dengan bala tentaranya.

Menurut beberapa sejarawan, keluarga Åšailendra berasal dari Sumatera yang bermigrasi ke Jawa Tengah setelah Sriwijaya melakukan ekspansi ke tanah Jawa pada abad VII Masehi dengan menyerang kerajaan Tarumanagara dan Ho-ling di Jawa. Serangan Sriwijaya atas Jawa berdasarkan atas Prasasti Kota Kapur yang mencanangkan ekspansi atas Bhumi Jawa yang tidak mau berbhakti kepada Sriwijaya. Ia mengemukakan gagasannya itu didasarkan atas sebutan gelar Dapunta Selendra pada prasasti Sojomerto. Gelar ini ditemukan juga pada prasasti Kedukan Bukit pada nama Dapunta HiyaÅ‹. Prasasti Sojomerto dan prasasti Kedukan Bukit merupakan prasasti yang berbahasa Melayu Kuna.

Banyak ahli beranggapan bahwa kerajaan Medang dianggap diperintah oleh dua wangsa yaitu Wangsa Sailendra yang beragama Buddha dan Wangsa Sanjayayang beragama Hindhu Siwa, pendapat ini pertama kali diperkenalkan oleh Bosch. Pada awal era Medang atau Mataram Kuno, wangsa Sailendra cukup dominan di Jawa Tengah. Menurut para ahli sejarah, wangsa Sanjaya awalnya berada di bawah pengaruh kekuasaan wangsa Sailendra. Mengenai persaingan kekuasaan tersebut tidak diketahui secara pasti, akan tetapi kedua-duanya sama-sama berkuasa di Jawa Tengah. Sementara Poerbatjaraka menolak anggapan Bosch mengenai adanya dua wangsa kembar berbeda agama yang saling bersaing ini. Menurutnya hanya ada satu wangsa dan satu kerajaan, yaitu wangsa Sailendra dan Kerajaan Medang. Sanjaya dan keturunannya adalah anggota Sailendra juga. Menurut Boechari, melalui penafsirannya atas Prasasti Sojomerto bahwa wangsa Sailendra pada mulanya memuja Siwa, sebelum Panangkaran beralih keyakinan menjadi penganut Buddha Mahayana. Raja-raja yang berkuasa dari keluarga Sailendra tertera dalam prasasti Ligor, prasasti Nalanda maupun prasasti Kelurak, sedangkan raja-raja dari keluarga Sanjaya tertera dalam prasasti Canggal dan prasasti Mantyasih.

Salah satu Maharaja pada Dinasti Sailendra adalah Raja Indra. Pada masa pemerintahan Raja Indra (782-812 M) putera Raja Indra bernama Samaratungga, dinikahkan dengan Dewi Tara, puteri Dharmasetu, Maharaja Sriwijaya. Prasasti Kalasan (778 M) memberikan penjelasan bahwa candi tersebut dibangun untuk menghormati Dewi Tara sebagai Bodhisattva wanita. Pada tahun 790, dikabarkan Sailendra menyerang dan mengalahkan Chenla (Kamboja Selatan), kemudian sempat berkuasa di sana selama beberapa tahun. Candi Borobudur selesai dibangun pada masa pemerintahan raja Samaratungga (812-833 M). Dari hasil pernikahannya dengan Dewi Tara, Samaratungga memiliki putri bernama Pramodhawardhani dan putra bernama Balaputradewa. Balaputra kemudian memerintah di Sriwijaya, maka selain pernah berkuasa di Medang, wangsa Sailendra juga berkuasa di Sriwijaya.

Loading Preview

Sorry, preview is currently unavailable. You can download the paper by clicking the button above.

tirto.id - Keputusan Maharaja Samaratungga lengser keprabon pada 833 Masehi itu memantik pergolakan di Kerajaan Medang atau yang juga dikenal sebagai Kerajaan Mataram Kuno. Samaratungga sebenarnya sudah menunjuk penggantinya, namun ada yang tidak terima dan merasa lebih berhak melanjutkan takhta kerajaan terbesar di Jawa tersebut.Pramodhawardani lah yang ditetapkan sebagai putri mahkota Mataram. Nantinya, sang putri berhasil memenangkan persaingan berkat bantuan suaminya yang berbeda agama, Rakai Pikatan. Duet keduanya menghasilkan toleransi beragama antara Buddha dan Hindu di tanah Jawa, meski harmonisasi itu tidak berlangsung lama.

Berebut Takhta Samaratungga

Orang yang tidak terima dengan pengangkatan Pramodhawardani sebagai penerus singgasana Samaratungga adalah Balaputradewa. Ada dua teori mengenai tokoh ini. Teori pertama menyebutkan, Balaputradewa dan Pramodhawardani merupakan adik-kakak (Masatoshi Iguchi, Java Essay: The History and Culture of a Southern Country, 2017: 214).

Samaratungga menetapkan anak pertamanya, Pramodhawardani, sebagai penerusnya. Penunjukan ini ditentang Balaputradewa yang merasa lebih berhak menjadi raja karena ia seorang laki-laki meskipun bukan anak tertua sehingga terjadilah perang saudara untuk memperebutkan takhta Medang/Mataram Kuno.



Baca juga: Musnahnya Cita-Cita Menyatukan Jawa


Slamet Muljana dalam Sriwijaya (2006) membantah teori pertama ini (hlm. 235). Berdasarkan penelusurannya, Balaputradewa bukanlah adik Pramodhawardani, melainkan saudara Samaratungga. Dengan kata lain, Balaputradewa adalah paman Pramodhawardani yang merasa lebih pantas mengambil-alih kekuasaan karena Samaratungga tidak punya anak laki-laki.Terlepas dari perbedaan versi atas dua teori tersebut, yang jelas terjadilah pertikaian sengit antara dua kubu itu. Dalam menghadapi Balaputradewa, Pramodhawardani dibantu suaminya yang bernama Rakai Pikatan.

Balaputradewa akhirnya kalah sehingga terpaksa menyingkir ke Sumatera. Ia kemudian mewarisi Kerajaan Sriwijaya dari kakeknya, Dharmasetu. Diyakini, Dharmasetu berputrakan Samaragrawira yang tidak lain adalah ayahanda Samaratungga dan Balaputradewa.


Bersatunya Dua Wangsa Beda Agama

Pernikahan Pramodhawardani-Rakai Pikatan cukup unik. Pasangan ini berbeda agama dan berasal dari dua dinasti besar di Jawa. Dalam Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia (1973), R. Soekmono menyebutkan, Pramodhawardhani dari wangsa Syailendra memeluk Buddha aliran Mahayana, sedangkan Rakai Pikatan adalah pangeran dari wangsa Sanjaya yang beragama Hindu aliran Syiwa (hlm. 44).

Boleh jadi, Pramodhawardani adalah ratu pertama yang tercatat dalam sejarah Indonesia melakukan perkawinan lintas agama. Baru tiga abad kemudian, Ken Arok, Raja Singhasari penganut Hindu, mengawini Ken Dedes yang beragama Buddha (Gatra, Volume 12, Masalah 29-32, 2006: ii).

Dinasti Sanjaya dan Syailendra sebenarnya saling bersaing. Wangsa Sanjaya pernah berkuasa di tanah Jawa dan harus berakhir pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran (770-792 M), yang kemudian beralih ke Wangsa Syailendra. Rakai Panangkaran adalah keturunan Ratu Shima (674-732 M), penguasa Jawa dari Kerajaan Kalingga.

Baca juga: Ketegasan Ratu Shima Penguasa Pantura


Perkawinan Pramodhawardani dengan Rakai Pikatan disebut-sebut sebagai momen bersatunya dua keluarga besar yang sebelumnya berseteru (Thomas Wendoris, Mengenal Candi-candi Nusantara, 2008: 18). Penyatuan dua wangsa ini tentu saja berdampak positif terhadap toleransi beragama antara pemeluk Buddha dan Hindu di Jawa kala itu.Agama Buddha masih lebih dominan pada dekade awal abad ke-7. Salah satu buktinya adalah Candi Borobudur. Kompleks candi besar di kawasan yang kini termasuk wilayah Kabupaten Magelang ini dibangun pada era Samaratungga. Namun, yang meresmikan Borobudur adalah putrinya, Pramodhawardani, tahun 824 M.Setelah Pramodhawardani resmi bertakhta sejak 833 M, didampingi Rakai Pikatan, nuansa toleransi beragama semakin terasa. Pramodhawardani mengizinkan sang suami merintis dibangunnya candi-candi Hindu di wilayah kekuasaan kerajaannya.

Sebaliknya, Rakai Pikatan pun tak segan-segan membantu pendirian candi-candi umat Buddha (Sukamto, Perjumpaan Antarpemeluk Agama di Nusantara, 2015: 146). Bahkan, ia turut menyumbang pembangunan candi-candhi Buddha tersebut, termasuk di wilayah Plaosan, dekat Prambanan (kini perbatasan antara Yogyakarta dan Kabupaten Klaten).

Candi-candi di Plaosan yang diperuntukkan bagi pemeluk Buddha didirikan secara gotong-royong antara para penganut agama Buddha dengan orang-orang beragama Hindu. Situasi ini menunjukkan betapa padu dan damainya pemeluk dua agama berbeda di bawah naungan Pramodhawardani sebagai Ratu Mataram (Kuno) saat itu.

Pramodhawardani Diperdaya?

Seiring berjalannya waktu, Rakai Pikatan ternyata yang lebih berpengaruh dalam menjalankan pemerintahan dibandingkan istrinya, Pramodhawardani. Beberapa referensi bahkan menyebut bahwa sebenarnya Rakai Pikatan mengusung misi khusus dalam pernikahannya dengan Pramodhawardani.

Asmito (1992) dalam Sejarah Kebudayaan Indonesia, misalnya, menyebutkan bahwa Rakai Pikatan sejatinya ingin melenyapkan kekuasaan Sailendra. Untuk mencapai maksud tersebut, maka ia menikahi Pramodhawardani, juga akhirnya berhasil mendepak Balaputradewa (hlm. 90). Dua orang itu menjadi sasaran utama karena merupakan kandidat pewaris takhta Dinasti Syailendra.

Baca juga: Pakubuwana VIII, Raja Jawa Pertama yang Tidak Berpoligami

Setelah berhasil mengusir Balaputradewa dan memikat hati Pramodhawardani sekaligus turut memimpin kerajaan milik Wangsa Syailendra, Rakai Pikatan mulai menanamkan pengaruh dan sedikit demi sedikit mengambil-alih kendali kekuasaan, meskipun itu dilakukannya dengan sabar selama bertahun-tahun.Salah satu manuver Rakai Pikatan untuk menunjukkan bahwa pengaruhnya di Kerajaan Medang semakin kuat adalah dengan memindahkan pusat pemerintahan yang semula berada di Mataram (sekitar Yogyakarta) ke daerah Kedu (dekat Temanggung, Jawa Tengah). Selain itu, Rakai Pikatan juga memprakarsai pembangunan Candi Prambanan yang merupakan candi Hindu termegah di Jawa. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa tujuan dibangunnya Prambanan adalah untuk menandingi Borobudur yang merupakan simbol kebesaran agama Buddha.

Ahli epigrafi Jawa asal Belanda Johannes Gijsbertus de Casparis, misalnya, seperti dikutip dari Memuji Prambanan: Bunga Rampai Para Cendekiawan Belanda tentang Kompleks Percandian Loro Jonggrang karya Roy Jordan (2009), melihat bahwa pembangunan Candi Prambanan merupakan bentuk perebutan kekuasaan Dinasti Syailendra dan kebangkitan kembali Dinasti Sañjaya.

Tentang hal ini, de Casparis menulis: “Konsolidasi dinasti Rakai Pikatan menandai permulaan zaman baru, yang mesti diresmikan oleh pembangunan sebuah kompleks percandian besar” (hlm. 54). Percandian atau kompleks candi besar yang dimaksud adalah Candi Prambanan.Belum diketahui secara pasti kapan tepatnya Pramodhawardani meninggal dunia. Tapi diperkirakan pemerintahannya berakhir pada 856 M. Dan di tahun-tahun terakhirnya itu, kendali kekuasaan sudah beralih kepada Rakai Pikatan. Setelah era Rakai Pikatan, Dinasti Sanjaya memang berkuasa lagi, namun tidak pernah benar-benar mampu menjadi kerajaan besar karena banyak terjadi pemberontakan.Hingga akhirnya, usai era Rakai Bawa (924-929 M), keturunan Rakai Pikatan, Kerajaan Medang diperintah oleh menantunya, yakni Mpu Sindok. Ia lantas memindahkan pusat kerajaan ke Jawa bagian timur karena letusan dahsyat Gunung Merapi.

Baca juga: Akhir Cerita Antara Mbah Maridjan dan Merapi


Mpu Sindok kemudian mendeklarasikan dinasti baru bernama Isyana, sekaligus menutup riwayat wangsa Sanjaya. Dari sinilah nantinya lahir kerajaan-kerajaan besar di tanah Jawa, termasuk Majapahit hingga Mataram Islam, yang pada akhirnya terbelah menjadi dua pusat kekuasaan: Surakarta dan Yogyakarta.