Sikap yang menjadi tantangan para remaja dalam mengembangkan iman yang bersifat internal adalah

Keluarga adalah institusi terkecil yang membangun sebuah masyarakat, namun juga sekaligus yang mengalami tantangan yang paling besar seiring dengan perkembangan zaman. Secara global, regional, maupun nasional, angka kasus perceraian dan rumah tangga dengan orang tua tunggal terus meningkat. Hal ini semakin terlihat nyata di kota-kota besar dimana kohesifitas masyarakatnya relatif lebih rendah dibandingkan dengan di kota kecil atau bahkan di pedesaan. Kehidupan di kota besar yang begitu penuh dengan kesibukan dan persaingan yang semakin tinggi, menciptakan pribadi-pribadi yang semakin individualitis. Orang cenderung mencari kesenangan dan kebahagiaannya sendiri, sehingga ketika hal ini diperhadapkan dengan kehidupan di dalam pernikahan maka akan menimbulkan masalah yang cukup besar.

Peningkatan angka perceraian yang berakibat pada meningkatnya jumlah orang tua tunggal kemudian berdampak pada generasi penerus (anak-anak). Hilangnya figur ayah atau ibu pada anak yang dibesarkan oleh orang tua tunggal akan berefek pada perkembangan kepribadian dan psikologis anak. Tantangan ini bahkan menjadi semakin bertambah di dalam keluarga Kristen. Karena selain pergumulan untuk menjaga keutuhan dan keintiman, keluarga Kristen juga menghadapi tantangan untuk tetap menjaga nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan di tengah perubahan budaya dan gaya hidup modern saat ini. Kuatnya arus perubahan buadaya dan gaya hidup ini tanpa terasa mulai mengguncang nilai-nilai dan tujuan keluarga yang ditetapkan Allah pada mulanya. Sebagai contoh, pandangan relativisme yang berkembang di masyarakat modern akhir-akhir ini, secara perlahan mulai masuk ke dalam keluarga. Pandangan ini mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada hal yang absolut, termasuk nilai kebenaran Firman Tuhan. Hal ini adalah ancaman besar pada iman Kristen, terutama pada keluarga-keluarga Kristen.

Secara spesifik, kita akan melihat tantangan/ancaman apa saja yang dihadapi oleh keluarga Kristen di era modern ini dan bagaimana kita dapat meresponi hal ini.


Perceraian

Seperti sudah disampaikan sebelumnya bahwa peningkatan angka perceraian yang cukup fantastis akhir-akhir ini. Saat ini, keputusan untuk berpisah/bercerai mulai menjadi opsi yang dapat diterima, bahkan tidak jarang mendapatkan dukungan. Komitmen di dalam janji nikah bukan lagi dianggap sebagai sesuatu yang sakral, tapi lebih kepada seremonial.

Sikap masyarakat yang lebih permisif terhadap kasus perceraian, tidak berarti menghilangkan efek dari perceraian yang begitu merusak, baik bagi kedua belah pihak yang bercerai, maupun terhadap anak-anak mereka. Anak-anak dari orang tua yang bercerai memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengalami kegagalan dalam hal akademis dan menjadi anak yang bermasalah. Itu sebabnya ketika Yesus mengatakan, “Apa yang dipersatukan Allah, tidak dapat dipisahkan oleh manusia,” bukanlah suatu perintah yang tanpa alasan.

Sebagai orang percaya, kita harus selalu mengingat komitmen yang kita ucapkan di dalam janji nikah kita. Ini adalah sebuah komitmen yang mengandung perjanjian (covenant) yang kudus. Sadarilah bahwa pasangan kita adalah manusia biasa yang juga memiliki keterbatasan dalam hal-hal tertentu, dan seringkali keterbatasannya itu membuatnya gagal untuk mengatasi tekanan-tekanan yang dihadapinya.


Materialisme

Di zaman modern ini, kita seakan-akan digiring kepada kehidupan yang serba meteriaslistik. Hal ini sangat berbahaya bagi keluarga-keluarga Kristen. Mungkin orang tua hanya ingin memberikan kepada anak-anak mereka sesuatu yang mampu mereka berikan. Tetapi ketika hal ini mulai menjadi tidak terkendali, maka secara perlahan akan dapat menggeser fokus keluarga yang tadinya tertuju kepada Allah menjadi kepada materi.

Firman Tuhan mengajarkan kita untuk memberi. Ini bukanlah sebuah pilihan, tetapi sebuah perintah yang harus dijalani oleh setiap orang percaya. Ajarkan anak-anak untuk mengembalikan perpuluhan mereka sejak dini. Jangan lihat jumlahnya yang mungkin terasa tidak seberapa, tetapi efek dari mengembalikan perpuluhan ini akan membentuk kebiasaan memberi pada diri anak-anak Anda. Memberi adalah obat penawar yang paling ampuh bagi materialisme. Sebagai orang tua, demonstrasikan kebiasaan Anda untuk memberi di hadapan anak-anak Anda dan ajarkan kepada mereka untuk itu. Saat anak Anda mengalami sukacita dalam memberi, maka Anda sudah membebaskan anak Anda dari cengkeraman materialisme.


Pengaruh Media

Masalah yang di hadapi oleh keluarga karena pengaruh media bukan hanya karena secara moral apa yang ditayangkan di media saat ini lebih buruk dari masa-masa sebelumnya. Lebih daripada itu, media saat ini lebih menggambarkan karakter dan tindakan moral yang rusak itu justru sebagai pahlawan. Media menggambarkan pelanggaran hukum justru layak untuk dilakukan.

Pengaruh ini bisa mengendap-endap masuk ke dalam kehidupan keluarga Kristen, secara perlahan menggerogoti landasan iman, kebenaran dan moral yang ditetapkan Allah bagi hidup orang percaya. Itu sebabnya, penting bagi kita untuk memiliki mezbah keluarga. Waktu dimana setiap anggota keluarga bukan hanya sekedar membaca Firman, tetapi juga merenungkan dan mendiskusikannya, agar keluarga kita dapat memiliki dasar yang semakin kuat di dalam Kristus. Ini bukan berarti kita tidak boleh menonton acara televisi favorit atau film kesukaan kita. Tetapi sebelum kita melakukannya, pastikan kita memiliki pemahaman dan iman yang teguh pada kebenaran Firman Allah sehingga tidak akan hanyut terbawa arus perubahan budaya yang ditawarkan melalui media saat ini.


Budaya Anti-Kekristenan

Budaya dimana kita hidup sekarang ini sebagai orang percaya adalah budaya yang sama sekali tidak bersahabat. Di era milenial ini, kemerosotan moral semakin nyata, ketidakpedulian antar sesama semakin mendekati titik nadir, kebahagiaan dan kesenangan diri sendiri menjadi hal yang utama dalam kehidupan manusia. Hal ini adalah kekuatan penghancur yang dapat menggilas habis keluarga-keluarga Kristen.

Firman Tuhan mengajarkan keluarga adalah tentang kasih, tentang komitmen dan saling memahami; bukan tentang kesenangan diri sendiri. Dengan menempatkan Tuhan sebagai yang terutama di dalam hidup kita, itu berarti kita membangun hubungan secara vertikal dengan Allah yang kemudian akan berefek pada hubungan secara horisontal di antara anggota keluarga. Kita belajar untuk hidup bersama dengan kerendahan hati dan saling mengasihi.

Masih banyak hal-hal lain lagi yang sedang mengintai banyak pernikahan dan keluarga Kristen saat ini. Itu sebabnya, penting bagi kita untuk selalu hidup melekat kepada Tuhan, Sang Pokok Anggur itu, agar keluarga kita dapat menjadi keluarga yang tumbuh dengan baik dalam kebenaran Firman Tuhan serta menghasilkan buah. Kita perlu memiliki kerelaan untuk dibentuk dan dibersihkan oleh Tuhan sebagai sebuah keluarga. Mungkin ada hal-hal yang selama ini perlu Anda buang dari hidup Anda, atau sebaliknya, bisa juga ada hal-hal yang justru perlu Anda bangun dan kembangkan di dalam diri Anda agar kehidupan pernikahan dan keluarga Anda semakin kuat berakar di dalam kebenaran Firman Tuhan.

Keluarga Kristen dituntut bukan hanya untuk memiliki standar yang berbeda dengan dunia, tetapi lebih daripada itu, keluarga Kristen dituntut untuk memiliki standar yang lebih tinggi, yaitu standar kebenaran Allah. Menerapkan prinsip-prinsip Firman Allah di dalam keluarga akan menolong kita untuk menghadapi tantangan-tantangan di era milenial ini. Ingatlah bahwa Allah ingin kita hidup bahagia dan juga memiliki keluarga yang bahagia. Amin. (HS)

559 views TANTANGAN INTERNAL DALAM PENGINJILAN Di tulis Oleh : Nelson Martogi Panjaitan, M.Th. Alumni Pasca Sarjana STT LETS      

PENDAHULUAN

Sudah setahun pandemi Corona virus desease (covid-19) terjadi di seluruh dunia namun sampai hari ini belum juga reda. Berdasarkan catatan Worldometers pertanggal 15 Februari 2021 virus corona telah menginfeksi 109.380.243 orang di seluruh dunia dimana 2.410.904 orang meninggal dunia dan 81.460.562 pasien dinyatakan sembuh. Dampaknya bukan hanya ancaman kematian pada manusia tetapi juga munculnya gejolak sosial yang buruk sebagai akibat krisis ekonomi berkepanjangan. Krisis ini membuat banyak orang stres dan depresi karena tingginya beban ekonomi, hilangnya pekerjaan, meningkatnya kekerasan rumah tangga sampai tindakan bunuh diri. Melansir Reuters pada Sabtu, 16 Februari 2021, studi dari para peneliti di Universitas Hongkong dan Institut Gerontologi Tokyo Metropolitan menunjukkan tingkat bunuh diri pada Juli-Oktober 2020 meningkat 16% dari periode yang sama pada 2019.

Di sisi lain pembatasan sosial (physical distancing) pun wajib dilakukan guna memutuskan mata rantai penyebaran. Pertemuan ibadah dibatasi bahkan ditiadakan sehingga ibadah kebaktian di gereja-gereja pun dilakukan secara online atau live-streaming. Jemaat, para pelayan gereja dan gembala dengan terpaksa terpisah secara fisik. Bagaimana dengan kebutuhan rohani jemaat? Bagaimana dengan misi penginjilan? Bagaimana dengan kelangsungan pemuridan? Sebagai makhluk sosial (homo sapiens) manusia akan selalu berupaya membangun hubungan dengan sesamanya. Syukurlah di era teknologi tinggi ini upaya tersebut dapat dilakukan, setiap orang bisa tetap melakukan aktifitas sosial melalui media-media sosial seperti whatsapp, facebook, instagram, dan media lainnya. Sebagai makhluk pembelajar, setiap orang juga tetap bisa belajar jarak jauh secara online (daring) melalui aplikasi seperti Zoom, Go To Meeting, Streamyard, dan lain sebagainya. Kanal youtube menjadi media paling banyak ditonton orang karena bisa dipakai sebagai media belajar, hiburan, diskusi bahkan debat. Bayangkan saja jika pandemi ini terjadi ketika semua media sosial diatas belum ada, maka semua orang sangat sulit untuk membangun kehidupan sosial. Sebab itulah visi Amanat Agung melalui misi penginjilan dan pemuridan tetap bisa dilakukan. Kecemasan, stres dan depresi yang melanda seluruh dunia tentunya menjadi kesempatan yang baik untuk memberitakan Kabar Baik. Semua aplikasi media sosial membuat pelayanan lebih mudah menjangkau orang banyak, kapan saja dan dimana saja. Mengambil istilah ekonomi dan bisnis, penginjilan di masa pandemi ini dapat digambarkan dengan sudah tersedianya: pasar sangat besar jumlahnya (seluruh populasi dunia), permintaan atau demand yang tinggi (banyaknya orang yang cemas yang tentu membutuhkan Kabar Baik), dan kendaraan pun sudah tersedia dengan berbagai macam media komunikasi. Namun sekali pun ketiganya sudah ada, yang paling penting adalah siapakah yang mengerjakannya penginjilan tersebut? Seberapa baik mereka mengerjakannya? Apa saja kendalanya? Satu hal yang luar biasa adalah munculnya begitu banyak youtuber Kristen yang menjadi penginjil dan apologetis. Kanal-kanal youtube tumbuh subur mulai dari pewartaan Kabar Baik melalui khotbah-khotbah rutin setiap hari bahkan sampai ajang debat dengan youtuber-youtuber muslim.

Pada tulisan ini penulis lebih menekankan tantangan internal dalam kekristenan, khususnya para pelayan Tuhan (gembala, penginjil dan pengajar) untuk menjadikan semua bangsa menjadi murid Kristus serta mengajarkan segala sesuatu yang Yesus perintahkan (Matius 28:19-20). Bukan rahasia lagi satu bulan setelah kasus pertama covid-19 baru saja terdeteksi di Depok, tiba-tiba jagad raya kekristenan berguncang karena tokoh Kristen tersohor, Pdt. Stephen Tong, memberi komentar keras dan pedas atas khotbah Pdt. Nico Njotorahardjo yang juga pendeta terkenal di Indonesia. Tentu saja kedua pendeta besar ini berkhotbah pada kebaktian live streaming yang bisa ditonton seluruh dunia. Sontak para pendukung kedua belah pihak saling menyerang dan menyudutkan satu sama lain, bukan hanya jemaat namun para pendeta dan teolog pun turut memperbesar api perseteruan ini. Peristiwa serupa bukan saja terjadi pada pemimpin-pemimpin terkenal, para youtuber Kristen pun berselisih tajam dan sibuk berdebat menyampaikan pemahaman dan doktrin masing-masing. Youtuber muslim pun mentertawakan perdebatan sengit antar sesama Kristiani. Misi Pekabaran Injil kembali menghadapi tantangan, bukan karena tidak tersedianya market, demand, media transport and other utilities, melainkan manusia sebagai pelaku misi tersebut. Satu quote yang menarik dari seorang pendeta yang mendedikasikan hidupnya memperjuangkan hak-hak sipil dan berbagai aktifis pergerakan internasioanl lainnya, Reverend William Sloane Coffin Jr. Mengatakan ha; menarik mengenai perbedaan: “Diversity may be the hardest thing for a society to live with, and perhaps the most dangerous thing for a society to be without.” Keberagaman mungkin menjadi hal tersulit bagi masyarakat untuk hidup bersama, dan mungkin hal yang paling berbahaya untuk hidup tanpanya.

POKOK PEMBAHASAN

Misi menyelamatkan manusia dari virus corona adalah sesuatu yang penting, namun misi menyelamatkan manusia dari “virus dosa” adalah hal yang jauh lebih penting. Musuh utama adalah egoisme. Di saat kecemasan tinggi melanda dunia, para pemimpin dunia terutama Amerika Serikat dan China justru berseteru. Di Indonesia pun pandemi covid-19 dijadikan amunisi baru oleh kelompok anti pemerintah untuk menjatuhkan wibawa pemerintah. Politik memang tidak akan lepas dari kepentingan (ego politik). Menurut KBBI kata “egoisme” memiliki arti: “tingkah laku yang didasarkan atas dorongan untuk keuntungan diri sendiri daripada untuk kesejahteraan orang lain.” Jadi seorang yang egosentris akan selalu memusatkan diri kepada keuntungan diri sendiri atau kelompok dan tidak peduli kepada pihak lain. Beberapa hal yang alam rangka menyelamatkan jiwa-jiwa dari “virus dosa” :

Kelahiran Baru, Peristiwa Salib dan Penggarapan Roh Kudus.

Memang pada mulanya manusia dicipta dengan sempurna tanpa cela namun oleh karena kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat manusia sangat tercela dan menjadi makhluk lemah karena telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Dosa adalah Peristiwa Kejatuhan yang diawali kejatuhan malaikat Tuhan yang cemerlang bercahaya yakni Lucifer (Yesaya 14 ayat 12 disebut “bintang timur”). Dia adalah malaikat yang paling berkuasa yang oleh dosa berubah menjadi Iblis. Kemudian peristiwa kejatuhan ini berlanjut dimana Iblis mempengaruhi sepertiga malaikat lainnya di Sorga dan berubah menjadi roh-roh jahat. Hal serupa berlanjut dimana manusia pertama, Adam dan Hawa pun mengalami kejatuhan dalam dosa. Watchman Nee di dalam bukunya “Manusia Rohani” mengatakan: karena roh Allah sudah undur maka bagian dari diri manusia yang mengalami kejatuhan adalah jiwa sehingga jiwa manusia tidak lagi mau dituntun Roh Allah. Jiwa manusia berdosa telah berubah menjadi ego semata. Ketika seseorang mengalami kelahiran kembali tidaklah otomatis egoisme ini hilang namun tetap masih ada karena ego adalah “jiwa yang lama”. Watchman Nee mengatakan pekerjaan saliblah yang mampu menyingkirkan ego manusia sehingga kembali menjadi jiwa. Ini bukanlah sesuatu yang instan tetapi membutuhkan kerjasama antara manusia dan Allah. Pekerjaan salib bersifat desktruktif yang bertujuan untuk menghancurkan setiap egosentris yang ada pada manusia. Pekerjaan salib ini selalu satu paket dengan pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus bekerja konstruktif dan selalu bertujuan untuk membentuk dan membangun manusia rohani, manusia yang berelasi kuat dengan Allah. Kelahiran baru haruslah dilanjutkan dengan dua peristiwa yang sepaket, peristiwa salib Kristus dan pencurahan Roh Kudus. Tanpa keduanya ego akan terus mendominasi jiwa (Pikiran, Perasaan, Kehendak). Kelahiran baru adalah peristiwa awal yang penting ketika Allah “meng-injeksi” roh yang baru pada manusia lalu Roh Allah masuk dan berdiam di dalam batinnya (Yehezkiel 36: 26 -27). Alkitab mencatat pada kitab 2 Korintus 4 ayat 7 : “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.

Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan (1 Korintus 12:4-5)

Dalam mengerjakan misi penginjilan, setiap orang Kristen bukan saja berbeda denominasi gereja melainkan berbeda karunia dan bentuk-bentuk pelayanan. Setiap orang, setiap gereja, bahkan setiap pelayanan (ministry) pasti memiliki rupa-rupa karunia yang semuanya dipakai untuk kepentingan bersama yakni perluasan kerajaan Allah.

Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Rohuntuk kepentingan bersama.Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat,dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.Kepada yang seorang Roh memberikan kuasauntuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh.Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh,dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. (1 Korintus 12:7-10)

Setiap orang Kristen harus menyadari bahwa manusia berbeda-beda dalam banyak hal mulai dari hal-hal besar menyangkut suku bangsa bahkan pada tingkat individu. Setiap orang memiliki latar belakang, temperamen, karakter, kebiasaan. Hal ini pulalah yang membuat setiap orang memiliki pikiran dan perilaku yang berbeda. Florence Littauer dalam bukunya berjudul Personality Plus mengklasifikasikan manusia ke dalam 4 jenis tipe kepribadian: Sanguinis, Melankolis, Koleris, dan Phlegmatis. Setiap tipe kepribadian memiliki ciri positip dan negatip. Tidak boleh mengatakan tipe kepribadian tertentu lebih baik dari yang lain. Bidang-bidang pekerjaan atau profesi selalu membutuhkan tipe tertentu. Seorang piskolog, Dr. Willian Moulton mengembangkan teori dalam konsep pengembangan diri yang dikenal dengan DISC Model dengan membagi 4 faktor berbeda yakni Dominance (Dominan), Influence (Pengaruh), Steadiness (Stabil), dan Compliance (Patuh).  Model ini sangat diperlukan oleh perusahaan dalam rangka menempatkan karyawan agar bekerja efektif dan efisien. Keberagaman adalah suatu kekuatan apabila setiap pelayan Tuhan memahaminya. Perselisihan tokoh Kristen yang terkenal tidak akan terjadi apabila mau menguasai diri dan mau menerima perbedaan. Begitu juga dengan perbedaan antar denonimasi dan bentuk pelayanan.       

Pengajaran akan Panggilan Tuhan (God’s Calling)

Misi Pekabaran Injil (Penginjilan) adalah perintah terakhir Yesus Kristus sebelum naik ke Sorga. Semua denominasi gereja sepakat bahwa Penginjilan adalah sesuatu yang penting yang diajarkan dalam Alkitab. Apakah semua orang Kristen terpanggil mengerjakan penginjilan? Tidak. Bahkan faktanya penginjilan justru mendapatkan tantangan perlawanan besar dari internal sendiri. Lembaga Riset The Pew Forum dari Amerika Serikat melaporkan bahwa tahun 2015, dari total sekitar 7,3 miliar populasi manusia di dunia ada sekitar 1,2 miliar atau 16% yang justru tidak ter-afiliasi (unaffiliated) ke agama manapun. Kelompok ini mengaku diri sebagai ateis, agnostik, dan yang tidak mengikuti agama yang umum dikenal. Populasi terbesar ketiga di dunia ini justru datang dari populasi Kristen di Amerika dan Eropa.

Gereja telah mengajarkan bahwa hal-hal prinsip terkait panggilan setiap orang Kristen seperti antara lain yang dikutip dari ayat-ayat Alkitab berikut ini:

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. (Yohanes 15:16)

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. (1 Petrus 2:9)

Tentunya banyak ayat-ayat lain yang menegaskan betapa pentingnya setiap orang Kristen menyadari dan mengerjakan panggilannya. Seharusnya pertambahan dan pertumbuhan murid Kristus meningkat, namun faktanya dari Laporan The Pew Forum melaporkan hal yang sebaliknya. Lantas, apa yang membuat demikian? Menurut Teori Etika sebagai cabang dari Ilmu Filsafat, disebutkan bahwa setiap manusia digerakkan melakukan segala sesuatu karena adanya hasrat atau keinginan. Teori ini dikenal sebagai teori Egoisme Psikologis. Selain itu ada juga teori yang disebut teori Egoisme Rasional yang mengatakan bahwa seseorang harus menganggap pemenuhan keinginan individu sebagai pusat dari kehidupan terbaik karena satu-satunya alasan yang masuk akal (rasional) dalam bertindak adalah karena seseorang tersebut menginginkannya. Kedua teori egoisme tersebut memang menekankan pada keinginan. Yang satu menempatkan keinginan (hasrat) sebagai landasan dalam bertindak sedangkan teori egoisme rasional menempatkan keinginan yang rasional (minat). Jadi teori ini bertitik tolak bukan pada hasrat, melainkan pada minat. Sebagai contoh seorang “perokok berat” yang sudah merasakan dampak buruk bagi kesehatannya menaruh minat untuk hidup sehat. Namun karena sudah lama kecanduan, maka suatu saat dia pasti akan merasakan dorongan yang kuat untuk kembali merokok. Ternyata dia mampu bertahan untuk tidak merokok lagi karena dia memiliki minat untuk menjaga kesehatannya. Demikianlah halnya dengan mengerjakan misi penginjilan sebagai panggilan. Orang Kristen tidak cukup hanya berhasrat ingin melakukan penginjilan. Orang Kristen harus berminat atau terbeban kuat melakukannya.

PENUTUP

            Misi penginjilan akan berjalan lebih baik dan menghasilkan tuaian yang lebih besar apabila setiap orang Kristen mau terbeban menjadi pelaku dimana pun mereka berada. Tantangan yang paling sering terjadi adalah egoisme yang belum mampu menerima perbedaan, baik dogma maupun panggilan. Perbedaan adalah keniscayaan, menolak perbedaan adalah menolak kehidupan. Keberagaman adalah suatu kekuatan apabila setiap gereja, denominasi, dan setiap individu mengerjakan pelayanannya sesuai dengan karunia-karunia, karakter, temperamen (kepribadian), serta DISC nya masing-masing. Tidak ada satu pun yang sempurna karena itulah dibutuhkan kerjasama yang diikat dalam satu kasih.

Referensi:

_ Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia, 2004

_ Watchman Nee, Manusia Rohani Vol.2, Yayasan Perpustakaan Injil Indonesia Surabaya, 2000

_ Gordon Graham, Teori-teori Etika, Penerbit Nusa Media Bandung, 2015

_ The Pew Forum Research https://www.pewforum.org/2017/04/05/the-changing-global-religious-landscape/ diunduh hari Senin 2 Maret 2020 pukul 09.00 Wib

_ Kamus Bahasa Indonesia, online