[BeraniCerita #34] Demi Arin

November 4, 2013

“Tante, Teddy jatuh!”, Teriak Arin berusaha menggapai boneka kesayangannya, namun boneka beruang coklat berhiaskan pita merah yang tersemat rapi dilehernya itu telah terapung di air jernih.

“Kita beli yang baru saja ya” Tawarku pada Arin, aku ingat di tempat inilah Billy terjatuh dan tak dapat diselamatkan. Ketakutanku telah menenggelamkan keberanianku, segala rayuan pada Arin tak satupun berhasil, rengekan dan permintaannya semakin membuatku kesal, terpaksa aku harus memeriksa Teddy si beruang konyol itu.

“Baiklah, Arin mau menunggu disini?”, Arin menggeleng, ah..bodohnya aku, tidak mungkin aku meninggalkan anak berusia empat tahun menunggu sendirian di tepi jalan, sepi, dan asing baginya.

“Teddy bobok sama Alin” ucapnya sambil terbata – bata.

“Sabar ya sayang..Arin berani turun bersama tante?”,sejenak Arin memandang kebawah lalu menggangguk penuh keyakinan. Lalu aku? bagai bunuh diri jika harus menjelajahi tempat ini,Β  perlahan aku menginjak tanah becek sambil menggendong Arin, gemericik air sungai semakin membawa Teddy menjauh.Β  Arin memelukku erat kemudian tak kuasa aku meminta Arin melepaskan gendongannya, dan menyuruhnya menunggu agak menjauh dari tanah landai.

“Arin tunggu disini sebentar,tante ambil bonekanya dulu.” Arin mengangguk. Tanah landai lembab itu aku tapaki satu persatu, dedaunan dari pohon – pohon liar yang tumbuh tak beraturan hampir menutupi tembok gorong – gorong bagian atas, sebagian berlumut dan kehitaman terlihat gelap dan tak berbatas. Langkah kecilku basah oleh sejuknya air sungai, tanganku mulai berhasil menggapai – gapai Teddy, namun mataku tak lepas melihat ke dalam gelapnya gorong – gorong, entahlah sesuatu apa yang menarik kedalam. Teddy terlepas dan terbawa arus, aku mengejarnya.
“Hallo Vir.. ” alih-alih aku tercekat menatap bayangan yang tak asing lagi bagiku.

“Bill..” Sapaku pelan, Billy tersenyum lalu mendekat.

“Kau datang.Β  Aku sudah lama menunggumu” mataku mulai berkaca – kaca.

“Kau meninggalkan aku begitu saja” tatap Billy sambil memelukku, aku mulai terisak.

“maafkan aku, bukan maksudku mendorongmu pada saat itu, aku benar – benar tidak sengaja, aku tidak tahu kalau ada kulit pisang yang menyeretmu jatuh hingga terperosok ke dalam gorong – gorong ini”. Pelukan Billy semakin erat, bagai kukenal desah nafasnya mendekati bibirku.

“bukankah kita sudah berjanji tak akan terpisahkan apapun yang terjadi.”

Aku menatap kelam matanya semakin dalam, bibirku terkunci,kubiarkan sesaat bibir ini menyentuh bibirnya,

“tante Vilna!”. Arin! Pikirku! bayangan Billy menghilang, aku cepat – cepat keluar, Teddy sudah ditanganku, bajuku basah dan mulai kedinginan, dengan langkah pelan aku memberikan Teddy pada pemiliknya.

“Makasih tante Vilna.” Aku tersenyum senang melihat Arin bisa tersenyum lagi, “sekarang kita pulang yuk” ajakku sambil menggandeng tangan Arin.

“Tapi.. Tante kenapa ada kumis? kumisnya separuh,” ucap Arin polos.

Aku tak percaya dengan ucapan Arin, “tante kan cewek rin, gak punya kumis”.

“Tapi… Ini ada kumis.. Alin kasih tau ya”

Aku pun mengikuti kemauan Arin, duduk jongkok dihadapannya,

“nih…!”Β  Tunjuk Arin memakai telunjukku, aku pun terheran merasakan bulu kumis melekat dibagian kiri atas bibirku, cepat – cepat kuambil cermin dari dalam tas, dan aku melihat setengah wajahku adalah wajah Billy, spontan aku berteriak dan wajah separuh Billy pun ikut berteriak.

banner-BC#34

Catatan : 474 kata, belum tau cara pasang banner di tulisan ini, ide tulisan ini juga mendadak, sungguh tidak jelas ya ^ ^

0 People reacted on this

Leave a Reply