Green Book kisah nyata tentang perjalanan sahabat sejati

July 14, 2019

Seperti biasa kalau ada film yang bikin aku sampai terbawa mimpi, artinya aku syuukkaa sekali film tersebut, apalagi kalau kisahnya diangkat dari kisah nyata jadi pengen juga cerita disini :).

Pinterest

Green Book sebenarnya film yang udah pernah tayang di bioskop Januari 2018, tapi sayangnya film ini gak lama udah ngilang gitu aja, entah kenapa aku juga gak tau, padahal film Green Book ini ceritanya bagus banget!. Tadinya aku kira akan bosan nonton film berlatar 1960an ini, ternyata aku salah, film ini banyak banget kasih pelajaran tentang arti bagaimana memanusiakan manusia, gak cuma sekedar tentang kisah komedi dan musik, tapi ada juga pelajaran tentang cara pandang rasialis, sosial ekonomi yang timpang, hidup yang gak adil, persahabatan sejati, saling menghargai perbedaan, dan hal sepele : gak boleh buang sampah sembarangan :).

Green book yang sebelumnya aku tebak hanya sebuah kiasan, ternyata memang berupa buku dengan sampul berwarna hijau, buku ini jadi semacam kamus untuk perjalanan Tur Shirley dan Tony ‘Lip’ Vallelonga selama 8 minggu. Green book sendiri sebenarnya berisi tentang informasi petunjuk wisata yang populer di kalangan kulit hitam (The Negro Motorist Green Book, dibikin oleh Victor Hugo Green). Jadi isi bukunya kurang lebih tentang penginapan, restauran, dan tempat – tempat yang bisa dilalui atau yang gak bisa dilalui Shirley yang berkulit hitam. Maklum aja di zaman tersebut beberapa tempat ada yang sangat rasis sehingga Shirley merasa terpojokkan, ya bayangin aja nih… Shirley pianist genius dengan tingkat pendidikan yang sama dengan kalangan kulit putih pada saat itu, tetap aja harus ‘merasakan perbedaan yang mencolok’, makan gak boleh di tempat yang sama dengan warga kulit putih, tapi terpisah di tempat yang kecil dan kotor, buang air kecil di toilet yang terpisah gelap, kotor, dan kecil. Gilak yaa.. zaman itu sampe niat lhoo rumah begitu mewahnya, bikin toilet yang jelek dan agak menjauh dari ruang mewah mereka, khusus bagi tamu mereka yang berkulit hitam, sampai segitunya..ck ck.. ck..

Pinterest.

Drama terjadi ketika Tonny memerlukan uang untuk kebutuhan hidup, di saat yang sama Shirley membutuhkan supir dan juga pelayan untuk dirinya. Tonny yang berkulit putih keturunan Italia awalnya gak mau jadi supir sekaligus pelayan untuk Shirley yang keturunan Afro, tapi Shirley memberikan bayaran yang besar sehingga Tonny menerima pekerjaan tersebut. Perjalanan mereka selama 8 minggu, perlahan membuat mereka jadi saling memahami satu sama lain. Tonny melihat Shirley bukan saja lebih berada secara materi, genius dalam bermusik, tapi juga sebenarnya Shirley lebih santun. Dari Shirley juga Tonny belajar menulis surat untuk istrinya dengan tutur kata yang lebih baik, bahkan terdengar lebih romantis. Shirley juga seorang yang teguh pada pendirian, mempunyai harga diri, dan moralitas. Tonny semakin dapat menghargai Shirley, ketika harus berhadapan dengan rasisme di suatu kota, Tonny gak segan melindungi Shirley. Shirley jadi banyak belajar juga dari Tonny, walaupun Tonny orangnya serampangan dan terkesan kasar, tapi Tonny seseorang yang setia dan rela berkorban. Karakter mereka jadi saling melengkapi.

Pokoknya nonton film ini bener – bener berkesan, wajar kalau film ini dapat penghargaan piala Oscar. Akhir filmnya penuh kebahagiaan, kekeluargaan yang kental. Sebuah kisah perjalanan persahabatan yang mengharukan, membahagiakan, bikin terheran – heran, ada sedihnya juga, pokoknya campur aduklah perasaan kalau udah nonton film ini, sampai terbawa mimpi hihihi.. :p

Leave a Reply