Dapat bertukar pikiran antara anggota kelompok

Merdeka.com - Setiap orang pasti pernah melakukan percakapan dengan dua orang atau lebih. Tak jarang percakapan ini sering dijadikan ajang untuk bertukar pikiran atau mencari solusi bersama. Percakapan yang melibatkan dua orang lebih untuk menemukan gagasan atau memecahkan masalah itulah yang disebut diskusi.

Secara umum, diskusi merupakan pertukaran pikiran, gagasan serta pendapat yang melibatkan dua orang atau lebih. Biasanya diskusi dilakukan untuk mencari kesepakatan pendapat. Namun tidak semua percakapan disebut diskusi, sebab diskusi merupakan suatu proses bertukar pendapat atau gagasan yang terarah, sehingga dapat mencapai kesepakatan bersama.

Saat melakukan diskusi, biasanya juga ada tema atau topik yang dibahas oleh orang-orang atau kelompok yang terlibat. Kemudian hasil dari tema tersebut menghasilkan suatu pemahaman yang telah dibicarakan secara bersama.

2 dari 4 halaman

©2018 Merdeka.com/Pixabay

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], diskusi merupakan pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran mengenai suatu masalah. Diskusi dilakukan oleh sekelompok orang yang membahas topik tertentu dan memberikan kesempatan para anggota untuk bertanya dan memberikan pendapat.

Biasanya sebelum melakukan diskusi, kelompok tersebut telah menyiapkan tema yang akan dibahas. Sehingga saat pertemuan berlangsung, para anggota diberi kesempatan untuk memberikan pendapatnya serta bertanya sesuai dengan tema yang menjadi pembahasan. Adapun pengertian diskusi menurut para ahli ialah sebagai berikut:

1. Killen

Menurut Killen, diskusi merupakan metode pembelajaran yang menghadapkan seseorang pada suatu permasalahan. Hal ini dilakukan untuk memecahkan masalah, menjawab pertanyaan, menambah, serta memahami pengetahuan seseorang untuk membuat suatu keputusan.

2. Armai Arief

Diskusi adalah suatu proses yang melibatkan dua individu atau lebih yang berintegrasi secara verbal dan saling berhadapan atau saling tukar informasi. Selain itu, diskusi juga dimaksudkan untuk saling mempertahankan pendapat memecahkan suatu masalah.

3. Moh Surya

Diskusi merupakan suatu proses di mana siswa atau orang-orang yang berdiskusi akan mendapat suatu kesempatan untuk berkontribusi dari pengalaman mereka. Selain itu, diskusi juga harus bertanggung jawab akan hasilnya serta harga diri setiap orang yang terlibat di dalamnya.

3 dari 4 halaman

Diskusi biasanya dilakukan oleh sekelompok orang untuk membahas sebuah tema yang telah ditentukan. Secara umum, diskusi dibagi menjadi dua jenis, yaitu diskusi resmi [formal] dan diskusi tidak resmi [non formal]. Masing-masing jenis memiliki ciri serta cara yang berbeda-beda, adapun penjelasannya sebagai berikut:

1. Diskusi Resmi

Diskusi resmi merupakan jenis komunikasi verbal di mana pertukaran informasi dilakukan sesuai jalur atau cara yang telah ditentukan. Adapun contoh dari jenis diskusi ini antara lain seminar, simposium, diskusi panel, konferensi, dan diskusi pleno.

2. Diskusi Tidak Resmi

Diskusi tidak resmi atau disebut diskusi non formal merupakan jenis komunikasi di mana pertukaran informasi tidak mengikuti saluran atau aturan jelas, sehingga memungkinkan komunikasi yang terbentang ke semua arah. Selain itu diskusi tidak resmi juga bisa terjadi secara spontan, seperti kelompok studi, kelompok pembentuk kebijaksanaan, dan pertemuan di tempat tertentu tanpa rencana.

4 dari 4 halaman

©boldksy.com

Diskusi dilakukan secara kelompok untuk membahas tema tertentu, kemudian mencari kesepakatan bersama dari pembahasan yang telah dilakukan. Selain itu, diskusi juga memiliki beberapa tujuan sebagai berikut:

1. Tujuan diskusi yang pertama ialah untuk menyelesaikan atau memecahkan sebuah permasalahan yang sedang dihadapi.

2. Diskusi bertujuan untuk menambah wawasan, ilmu pengetahuan, serta pemahaman terhadap realitas tertentu.

3. Tujuan diskusi berikutnya yaitu melatih seseorang untuk berbicara di hadapan kelompok dan belajar menjadi pendengar yang baik.

4. Tujuan diskusi juga untuk melatih individu untuk saling menghargai pendapat satu sama lain.

5. Diskusi juga merupakan suatu upaya untuk meningkatkan tradisi intelektual.

6. Meningkatkan atau menumbuhkan kepedulian serta kepekaan terhadap suatu masalah di lingkungan sosial.

7. Tujuan diskusi lainnya yaitu untuk menyamakan visi dan misi serta melatih keberanian dalam mengambil sebuah keputusan.

.

Bekerja sama dalam kelompok bukan hal yang mudah bagi siswa sekolah dasar. Mendisiplinkan siswa dalam kelompok untuk bekerja sama dan saling bertukar pendapat perlu dilatihkan sejak dini. Kurikulum 2013 [Kurtilas] mengamanatkan adanya pembiasaan untuk bekerja sama. Siswa perlu diberikan pemahaman tentang berbagi ilmu dan bagaimana membantu teman lain yang kurang dapat mengikuti pelajaran. Konsep yang belum banyak diterapkan selama kurikulum sebelumnya. Belajar bersama dalam kelompok tidak hanya sekedar berbagi ilmu, namun lebih pada bagaimana seorang siswa dapat menerima dan menghargai orang lain. Kesempatan untuk menerapkan konsep ini diberikan kepada mahasiswa P2TK angkatan 2014 pada semester 3. Mahasiswa melakukan praktik mengajar di sekolah dasar yang telah menerapkan Kurikulum 2013. Praktik mengajar merupakan program wajib yang harus dilaksanakan oleh mahasiswa dalam mata kuliah Praktik Pembelajaran SD yang diampu oleh Dr. Ali Mustadi, M.Pd.

Penulis mendapat kesempatan untuk praktik di SD Grogol. SD Grogol  berada di Dusun Ngambah, Kelurahan Mulyodadi, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul. Saat ini SD Grogol dikepalai oleh bapak Wanuri, M.Pd. SD Grogol merupakan sekolah yang memiliki banyak prestasi, baik lokal maupun nasional. Tidak salah jika SD Grogol menjadi salah satu sekolah dasar yang menerapkan Kurtilas sebagai pilot project. Melihat kondisi sekolah yang sangat bagus, penulis sebagai salah satu praktikan berusaha mengobservasi karakteristik siswa yang akan digunakan untuk praktik. Salah satu hal yang akan dilakukan adalah membentuk kelas belajar dengan memaksimalkan kerja kelompok. Mendisiplinkan siswa dengan kerja kelompok membutuhkan persiapan dan lembar kerja yang sesuai agar siswa dalam kelompok dapat bekerja sama.

Penulis mendapat kesempatan didampingi guru pamong bernama Ibu Maryati. Ibu Maryati adalah wali kelas 5C. Beliau adalah guru muda yang sangat energik dan ramah. Beliau selalu mengatakan kita belajar bersama. Hal ini yang membuat praktikan merasa nyaman berdiskusi mengenai pembelajaran dengan Ibu Maryati. Selain itu berdasarkan pengalaman teman sebelumnya yang melakukan praktik di kelas yang sama, banyak sekali catatan-catatan tentang pembelajaran yang harus dibenahi. Kelas yang digunakan untuk praktik  adalah kelas 2A dan 5C. Berdasarkan hasil diskusi dengan teman untuk mengajar di kelas 2A harus menggunakan teknik yang menyenangkan. Kelas tidak dapat dibentuk menjadi kelompok diskusi dengan jumlah siswa yang banyak. Maka praktikan memilih membentuk kelas menjadi kelompok-kelompok kecil.

Pembentukan kelompok kecil ini membutuhkan persiapan yang tepat. Materi yang akan diajarkan berkaitan dengan pengenalan sila-sila dalam Pancasila. Pembelajaran disusun agar siswa dapat bekerja sama dalam kelompok kecil. Selain itu dibuat permainan yang membutuhkan kerja sama kelompok. Ada satu siswa yang tidak dapat menulis, maka guru meminta teman sebangkunya untuk membantu. Bukan membantu menuliskan namun membantu mendiktekan huruf-huruf penyusun kalimat yang dimaksud. Cara ini terbilang efektif membantu siswa tersebut belajar menulis. Dalam mendisiplinkan siswa bekerja dalam kelompok, LKS dibuat beragam menyeseuaikan kebutuhan. Anggota kelompok juga dibentuk dalam kelompok heterogen agar tidak ada kelompok yang paling cepat selesai. Guru sering mengingatkan agar setiap anggota kelompok menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.

Guru banyak mendampingi siswa yang membutuhkan perhatian khusus. Misalnya ada dua siswa yang jika mereka didudukan dalam satu kelompok akan kacau. Yang satu pandai namun konsentrasi sering pecah, yang satu jahil dan tidak bisa diam. Maka dua anak ini duduknya harus dipisah. Dengan rancangan kelompok dan LKS yang tepat maka pembelajaran di kelas 2A dapat dilakukan berbasis kelompok.Di sini praktikan menjadi yakin jika kelas rendah sekalipun jika sering dibiasakan belajar dalam kelompok-kelompok kecil maka mereka akan terbiasa bekerja sama. Guru mendampingi siswa yang menjadi penguasa, sehingga anggota kelompok tidak mau diterima pendapatnya. Siswa yang seperti ini perlu dibiasakan untuk mengurangi sifat penguasanya dengan cara mau mendengarkan pendapat anggota kelompoknya.

Pengalaman mengajar di kelas tinggi, dilaksanakan di kelas 5C. Kelas ini terdiri dari 22 siswa, satu dari siswa tersebut pernah mengalami benturan keras pada bagian kepala sehingga menyebabkan siswa tersebut lambat dalam belajar. Karena berbagai hal, siswa yang bersangkutan sering tidak diterima dalam kelompok. Siswa itu sendiri lebih banyak menyendiri dan tidak mau bergaul. Dalam kegiatan kelompok pada akhirnya siswa yang tersisih itu dapat diterima dalam kelompok, namun tetap saja menyendiri. Strategi yang selanjutnya dilakukan adalah LKS disusun untuk menampung seluruh pendapat dari setiap anggota kelompok, dan dalam presentasi seluruh anggota kelompok wajib maju presentasi mengungkapkan gagasannya. Dengan cara ini siswa yang tersisih itu terdengar suaranya.

Di kelas 5C ada juga siswa yang suka mengerjakan tugas sendiri. Jika diberi LKS diskusi, siswa itu inginnya mengerjakan semua tugas sendiri. Kebiasaan ini perlu dikurangi dengan cara meyakinkan jika pekerjaan yang dilakukan sendiri akan lama selesainya dibandingkan dengan bekerja sama dalam anggota kelompok. Tugas-tugas kelompok wajib diselesaikan oleh semua anggota kelompok. Guru memberikan tanda bintang dan penghargaan yang lain bagi kelompok yang semua anggotanya dapat memahami materi yang dipelajari. Maka siswa berlomba-lomba untuk menjelaskan konsep pada anggota kelompok yang belum paham. Cara ini terbilang efektif karena siswa menjadi mudah untuk dikendalikan dan dapat mengajari teman yang belum paham terhadap materi.

Pembelajaran dirancang agar siswa dapat menemukan sendiri konsep yang akan dipelajari, meskipun masih dengan panduan guru. Karena siswa sekolah dasar belum dapat menemukan konsep secara benar-benar mandiri seperti orang dewasa. Panduan guru lebih pada persiapan LKS, sumber belajar, alat dan media untuk belajar. Guru pernah membawa kamus untuk menemukan kosakata yang belum diketahui. Siswa sangat antusias dalam menemukan makna kata yang ditanyakan. Ketika mengajarkan tentang konsep rangkaian listrik, siswa juga saling bekerja sama dalam menyusun rangkaian listrik agar lampu dapat menyala. Meskipun kegiatan-kegiatan itu sederhana, yang paling penting adalah tentang kerja sama yang dapat dilakukan oleh siswa dalam bekerja kelompok.

Guru pamong banyak memberikan masukan terkait dengan pembelajaran yang dilakukan. Teman sesama praktikan juga sering berbagi pegalaman setelah mengajar di kelas yang sama. Masukan dan pengalaman itu kemudian dijadikan bahan revisi pembelajaran selanjutnya. Terkait dengan tematik integratif, penulis juga banyak belajar dari guru pamong. Menerapkan pembelajaran tematik integratif memang tidak mudah, maka penulis menyimpulkan kegiatan praktik pembelajaran dalam mata kuliah Praktik Pembelajaran di SD sangat penting dilakukan. [Sartini, P2TK Dikdas 2014]

Video yang berhubungan

Bài mới nhất

Chủ Đề