Pelajaran yang didapat dari teks bacaan Rumah belajar senen tempat anak jalanan temukan potensi diri

Fakta-fakta yang aku dapatkan dari artikel Sekolah Anak Jalanan, pembahasan kunci jawaban tema 8 kelas 6 halaman 29 31 32 33 35 36 39 tepatnya pada materi pembelajaran 4 Subtema 1 Perbedaan Waktu dan Pengaruhnya di buku tematik siswa kurikulum 2013 revisi 2018.

Pembahasan kali ini merupakan lanjutan tugas sebelumnya, di mana kalian telah mengerjakan soal Perkiraan Informasi Dari Artikel Koran Berjudul Sekolah Anak Jalanan di buku tematik siswa.

Sekolah Anak Jalanan

REPUBLIKA.CO.ID, Usia mereka boleh jadi tidak lebih dari 10 tahun. Namun, kulit mereka telah melegam terpanggang. Telapak kaki mereka mengeras dan terkelupas. Bermodalkan sandal jepit yang menipis, mereka melompat dari satu bus ke bus lain, dari satu angkot ke angkot berikut. Dengan menadahkan tangan seraya menyuguhkan wajah iba, mereka berharap mendapat sekeping Rp500,00 atau syukur-syukur selembar Rp2.000,00.

Mereka inilah yang sejak kecil telah berpredikat sebagai anak jalanan. Di usia dini, mereka telah melakoni profesinya masing-masing. Ada yang mengamen, memulung, hingga menyemir sepatu. Tidak inginkah mereka menikmati masa kecil dan belajar seperti anak-anak yang lain?

Jauh dari ingar bingar jalan raya dan tersembunyi di kawasan Plumpang, Rawa Badak, Jakarta Utara, anak-anak jalanan itu ternyata bersekolah. Salah satu lembaga sosial yang peduli terhadap nasib anak jalanan dan anak kurang mampu adalah Yayasan Himmata. Di yayasan ini, 400 lebih anak jalanan mengenyam pendidikan secara cuma-cuma.

Menurut Sarkono, Ketua Yayasan Himmata, yayasan terbentuk sejak tahun 2000 dan merupakan lembaga sosial masyarakat yang bersifat independen dan nirlaba. Pada 2004 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat [PKBM] Himmata yang terletak di tengah lingkungan masyarakat kumuh disahkan.

PKBM Himmata hampir serupa dengan sekolah formal. Tak hanya dari seragam, jam belajar pun hampir sama dengan sekolah formal kebanyakan dan berlangsung selama lima hari dalam seminggu. Karena PKBM Himmata hampir sama dengan sekolah formal, mereka membutuhkan pengajar yang tetap tidak hanya suka relawan. Saat ini PKBM Himmata memiliki sekitar 30 pengajar tetap dengan bayaran tak lebih dari Rp300 ribu, jauh dari kata sejahtera.

Namun, mendapatkan bayaran bukanlah tujuan utama menjadi pengajar di sini. Mohamad Anwar, misalnya, ia mengaku mau menjadi pengajar selama lebih dari 10 tahun karena tuntutan hati nurani untuk memberi ilmu kepada anak bangsa.

Mengajar anak jalanan itu susah-susah gampang. “Kalau didasari keikhlasan, bukan orientasi mengajarnya karena materi istilah susah itu nggak ada,” ujar Mohamad Anwar guru mata pelajaran Sosiologi dan Pendidikan Agama Islam.

Secara fisik, bangunan PKBM Himmata memang memenuhi syarat, namun nasib pengajar masih kurang perhatian dari donatur. “Kita ini manusiawi, memang perasaan itu ada, namun sumber rezeki tidak hanya di sini saja, tapi di luar masih ada. Yang penting terus tawakal,” kata dia.

Kunci Jawaban Tema 8 Kelas 6 Halaman 31

Setelah membaca artikel koran yang berjudul “ Sekolah Anak Jalanan”, lengkapi format di bawah ini dan bandingkan dengan format yang sebelumnya kamu isi sebelum membaca artikel. Apakah ada perbedaan? Jelaskan jawabanmu!

Jawaban :

Perkiraan informasi yang akan aku dapatkan dari artikel koran berjudul “Sekolah anak jalanan”: – Tentang kehidupan anak jalanan. – Tentang peran serta organisasi dalam memecahkan masalah pendidikan anak jalanan.

– Tentang pendidik atau guru sekolah anak jalanan.

Anak-anak dan beberapa volunter di Rumah Belajar Senen.
[NN/Dok.Pribadi]

HIDUPKATOLIK.com – Di sini, ditemani para volunter, mereka ingin melepaskan diri dari dunia yang berusaha merenggut masa depan mereka.

Suara kereta berdesing setiap kali melewati pintu rel kereta api Senen, Jakarta Pusat. Tidak jauh dari situ, berjejer gubuk-gubuk kumuh, terbuat dari kardus-kardus, plastik dan karung-karung bekas. Sebagian besar penghuninya merupakan pemulung, pengemis, dan pengamen.

Beberapa bocah bermain di pinggir rel seakan tidak menghiraukan setiap kereta yang lewat. Sekitar 200 meter dari pintu kereta tepat di Jalan Dahlia, Kramat, Senen, berdiri sebuah kontrakan yang merupakan Rumah Belajar Senen [RBS]. Frater Willebrord Yudistira SX, seorang relawan dari Wisma Xaverian, menjelaskan, rumah tersebut sengaja dikontrakkan agar menjadi rumah belajar bagi anak-anak jalanan. Mereka berkumpul dari hari Jumat hingga hari Minggu.

Lebih lanjut Frater Yudis, begitu disapa, menjelaskan, meski di tengah kebisingan kota, RBS menjadi tempat yang nyaman bagi mereka untuk belajar dan berbagi bersama. Ini merupakan keprihatinan terhadap anak-anak jalanan dan tidak mengenyam pendidikan yang layak.

Nomaden
Terbentuknya RBS melalui proses yang panjang dan berliku. Bermula dari kegiatan Jambore Anak Marginal yang diadakan pada bulan Juli 2005 silam. Saat itu beberapa tenaga volunter dari pemuda dan pemudi Gereja Kristen Indonesia [GKI] Kwitang, merasa tersentuh melihat kondisi anak-anak di sekitar Stasiun Senen.

Sebagaimana dijelaskan Ketua RBS Samuel Juliando, Pemuda GKI menginginkan agar perhatian terhadap anak jalanan tidak terhenti. Mereka mau mengumpulkan anak jalanan untuk belajar bersama. Setelah berembuk, mereka memutuskan mengumpulkan anak-anak sekitar daerah Senen.

Setelah berhasil mengumpulkan beberapa anak, mereka mulai kegiatan belajar di Taman Gunung Agung [daerah Kwitang]. Namun, mendampingi mereka belajar, tidak semudah seperti yang mereka pikirkan. Pertama soal tempat. Mereka harus rela berpindah-pindah lokasi belajar. “Itu dikarenakan kurang adanya dukungan dan perizinan oleh Satuan Polisi Pamong Praja [Satpol PP]. Ada pula kecurigaan bahwa kegiatan tersebut bernuansa keagamaan,” bebernya.

Demi anak jalanan tersebut, para relawan pantang menyerah. RBS sering berpindah-pindah seperti di Monas dan di halaman SD PSKD Kwitang Jakarta Pusat. Setelah mengalami nomaden dengan bantuan dari Komunitas Sahabat Anak dan Diakonia GKI Kwitang, RBS menyewa sebuah rumah di Jalan Kaca Piring selama setahun. Di rumah ini, kegiatan belajar mengajar mulai dijalankan sekali seminggu. Setelah dua tahun vakum, tahun 2009, RBS memutuskan mandiri dan tidak lagi bergantung pada Komunitas Sahabat Anak.

Sebagaimana pengakuan Samuel, mereka berusaha mengumpulkan dana yang didapatkan dari sumbangan. Mereka menggunakan lapangan badminton yang sudah tidak digunakan di sekitar Jalan Kaca Piring. Kegiatan belajar mengajar dilakukan setiap hari Sabtu sore pukul 16.00 – 18.00 WIB. Setelah lebih mantap, RBS mengontrak sebuah rumah di Jalan Dahlia, pintu rel kereta api. Di rumah itulah kegiatan belajar mengajar dilanjutkan sampai saat ini.

Kini kegiatan di RBS diadakan tiga kali seminggu, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Saat ini sudah ada juga jadwal khusus dan materi pembelajaran. Hari Jumat, anak-anak belajar perkalian dan berhitung. Hari Sabtu giliran anak-anak usia Taman Kanak-Kanak. Anak kelas 2 SD hingga 3 SMP mempelajari IPA, IPS, Matematika, dan Bahasa Indonesia. Hari Minggu merupakan kesempatan belajar Bahasa Inggris.

Tidak Padam
Samuel menjelaskan, anak-anak yang dibimbing di RBS saat ini sekitar 80 anak. “Grafiknya selalu naik setiap tahun, apalagi beberapa tahun belakangan ini. Tahun-tahun sebelumnya masih berada pada angka 20 hingga 40 anak. Sebagian besar SD,” ujarnya.

Menurut Samuel, hal itu sangat wajar, mengingat tahun-tahun awal dibentuknya RBS isu agama sangat sensitif. Selain itu, ada streotipe terhadap anak jalanan sebagai kriminal. Akibatnya, pada awal dimulai, RBS pernah ditolak warga bahkan dikejar-kejar oleh Satpol PP.

Untuk mengatasi hal tersebut, beberapa pengurus RBS melakukan pendekatan khusus terutama kepada warga. Pendekatan pertama dilakukan dengan menyambangi Ketua Rukun Tetangga [RT] dan Ketua Rukun Warga [RW]. Beberapa relawan menyampaikan tujuan kegiatan yang dimaksudkan. Dengan begitu, tidak ada lagi kesalahpahaman. Sedangkan urusan dengan Satpol PP berakhir setelah mendapat kontrakan sebagai tempat belajar.

Pendekatan yang tidak kalah penting juga juga dilakukan kepada orangtua anak-anak yang belajar di RBS karena sebagian anak sudah membantu orangtua mencari uang dengan menjadi pengamen, pemintaminta, dan main ondel-ondel. “Anakanak seringkali dilarang oleh orangtua untuk mengikuti kegiatan belajar, karena memotong waktu mencari uang. Kami berusaha menjelaskan kepada orangtua mereka, meski kebanyakan dari mereka sulit menerima penjelasan kami,” tutur Samuel.

Relawan RBS lain, Bayu Tri Ongko Anaka mengetengahkan, setelah menghadapi sekelumit persoalan tersebut, RBS juga mendapat tantangan dari dalam. Ada perubahan jumlah volunter dan pengurus. Menariknya, di tengah melonjaknya jumlah anak-anak, malah jumlah volunter dan pengurus semakin berkurang. “Ini berbanding terbalik dengan keadaan awal di mana jumlah volunter dan pengurus banyak akan tetapi jumlah anak-anak sedikit,” paparnya.

Bayu mengatakan, dalam menghadapi persoalan ini, RBS membuka pendaftaran online untuk mendapat lebih banyak volunter. Hasilnya lumayan, beberapa pemuda dan mahasiswa tertarik terlibat dalam RBS. “Meskipun pengurus dan volunter sedikit, akan tetapi semangat mereka tidak pernah padam. Terbukti jam belajar malah ditambah dari sekali menjadi tiga kali seminggu,” tambahnya.

Semangat Kemanusiaan
Dalam perkembangannya RBS terbuka bagi siapapun. Hingga saat ini mereka bekerjasama dengan siapa saja yang mempunyai kepedulian terhadap anak jalanan. Menurut Samuel, anak jalanan bukanlah kepentingan kelompok tertentu saja melainkan kepentingan semua umat manusia.

Senada dengan itu, Frater Yudis menerangkan, anak-anak jalanan pada dasarnya adalah manusia bermartabat sehingga harus dirangkul. Dengan memberi sentuhan kepada mereka melalui pendidikan, mereka dapat merasakan fajar budi seperti manusia pada umumnya. “Jangan pernah menganggap mereka sebagai orang asing. Papahlah mereka sebagaimana adik-adik kita sendiri. Biarkan mereka belajar dengan sukaria. RBS rumah bersama anak-anak jalanan untuk melepaskan mereka dari dunia yang berusaha merenggut mereka,” tegas Frater Yudis.

Willy Matrona

HIDUP NO.17 2019, 28 April 2019

Video yang berhubungan

Bài mới nhất

Chủ Đề