Apa yang dimaksud dengan kodifikasi hadis

  1. Home /
  2. Archives /
  3. Vol. 5 No. 1 [2020]: APRIL /
  4. Articles

Kodifikasi, hadith, Tabi’i Al-Tabi’in.
Masa Nabi Muhammad saw merupakan periode pertama sejarah dan perkembangan hadith. Masa ini cukup singkat, hanya 23 tahun lamanya dimulai sejak tahun 13 sebelum Hijriah atau bertepatan dengan 610 Masehi sampai dengan tahun 11 Hijriah atau bertepatan dengan 632 Masehi. Saat itu hadith diterima dengan mengandalkan hafalan para sahabat Nabi saw. Para sahabat pada masa itu belum merasa ada urgensi untuk melakukan penulisan hadith-hadith Nabi, mengingat Nabi saw masih mudah untuk dihubungi dan dimintai keterangan-keterangan tentang segala hal yang berhubungan dengan ‘ibadah dan mu'amalah keseharian umat Islam. Polemik dibolehkan tidaknya penulisan hadith timbul karena ada beberapa hadis yang mendukung, baik yang memperbolehkan penulisan hadith maupun yang melarang. Hadith pelarangan seringkali diangkat tanpa didampingi dengan hadith pembolehan, oleh sebab itu banyak orang yang salah paham dengan hanya mengkaji satu hadith saja. Polemik ini dapat mudah diselesaikan dengan mengkaji hikmah dibalik adanya pelarangan penulisan hadith-hadith Rasulullah saw. Untuk menganalisa pelarangan penulisan hadith pada zaman Rasulullah Saw, sebaiknya kita menilik kembali penyebaran hadith-hadith pada masa Rasulullah Saw. Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwasanya hadith-hadith Rasulullah Saw tersebar bersamaan dengan turunnya wahyu Ilahi kepada Rasulullah Saw sejak awal masa dakwah Islam dimulai. Sedangkan faktor-faktor yang mendukung tersebarnya sunah ke berbagai penjuru, antara lain, Kegigihan Rasulullah Saw dalam menyampaikan dakwah Islam, Kegigihan dan kemauan keras para sahabat dalam menuntut, menghafal dan menyampaikan ilmu, Para Ummul Mu'minin dan Sahabiyat, Para utusan Rasulullah Saw. Sementara itu, Rasulullah pada suatu kesempatan menyampaikan sutau ungkapan yang melarang penulisan hadis-hadis beliau, dan pada kesempatan lain Rasulullah saw memperbolehkan para sahabat menulis apa-apa yang disampaikan Rasulullah Saw. Kodifikasi hadith secara resmi dipelopori Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz [khalifah kedelapan pada masa Bani Umayyah yang memerintah tahun 99-101 H.]. Dia menginstruksikan kepada para Gubernur di semua wilayah Islam untuk menghimpun dan menulis hadis-hadis Nabi. Selain itu khalifah  juga memerintah Ibn Hazm dan Ibn Syihab al-Zuhri [50-124 H] untuk menghimpun hadith Nabi SAW.  Motif ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dalam mengkodifikasikan hadith  adalah Kekhawatiran akan hilang Hadis dari perbendaharaan masyarakat, sebab belum dibukukan, Untuk membersihkan dan memelihara Hadith dari hadith-hadith maudhu' [palsu] yang dibuat orang-orang untuk mempertahankan ideologi golongan dan mazhab, Tidak adanya kekhawatiran lagi akan tercampurnya al-Qur’an dan hadith,  keduanya sudah bisa dibedakan. al-Qur’an telah dikumpulkan dalam satu mushaf dan telah merata diseluruh umat Islam, ada kekhawatiran akan hilangnya hadith karena banyak ‘ulama hadith yang gugur dalam medan perang.

Oleh: Hanief Monady

PENDAHULUAN

Kajian-kajian ilmiah menunjukkan bahwa bangsa Arab telah mengenal tulisan sebelum kedatangan Islam. Mereka mencatat peristiwa penting di atas bebatuan. Penelitian-penelitian terhadap benda-benda purbakala memberikan bukti kuat akan hal tersebut, yang merujuk kepada abad III masehi. Sehingga dapat dikatakan bahwa ketika Islam datang, telah banyak mereka yang bisa menulis.

Tidak bisa diragukan lagi, bahwa tradisi tulis sudah tersebar pada masa nabi Muhammad SAW dalam cakupan yang lebih luas daripada masa pra Islam. Ini dapat dilihat dengan adanya bukti-bukti bahwa ketika nabi masih hidup, para sahabat banyak yang mencatat hal-hal yang didiktekan beliau kepada mereka. Ada juga sejumlah sahabat yang menyimpan surat-surat Nabi SAW atau salinannya. Ḥudzaifah RA menuturkan bahwa Nabi Muhammad SAW meminta untuk dituliskan nama orang-orang yang masuk agama Islam, maka Ḥudzaifah pun menuliskannya sebanyak 1.500 orang. Selain itu ada juga aturan registrasi nama orang-orang yang mengikuti perang. Selanjutnya, seperempat abad sesudah Nabi SAW wafat, di Madinah sudah terdapat gudang kertas yang berhimpitan dengan rumah ‘Utsmân bin ‘Affân. Lalu menjelang akhir abad pertama pemerintah pusat membagi-bagi kertas kepada para gubernur.

Jumlah penulis bertambah banyak setelah hijriah, tatkala pemerintahan Islam telah stabil. Sembilan masjid yang ada di Madinah, di samping masjid Rasul, menjadi pusat kegiatan kaum Muslim. Mereka mempelajari Al-Qur’an, ajaran-ajaran Islam, membaca dan menulis. Yang paling terkenal di antara pengajar-pengajar masa awal itu adalah Sa’ad bin Ar-Rabî’ Al-Khazrajî, Busyair bin Sa’ad bin Tsa’labah, Abbân bin Sa’îd bin Al-’Âsh, dan lainnya.

Semakin lama dan berkembangnya agama Islam di dunia, maka mulai pula upaya untuk menulis dan membukukan hadis, atau juga disebut kodifikasi hadis. Yang dimaksud dengan kodifikasi hadis atau tadwîn hadis pada periode ini adalah kodifikasi secara resmi berdasarkan perintah kepala negara, dengan melibatkan beberapa sahabat yang ahli di bidangnya.

Pada abad pertama hijriah, yakni masa Rasulullah SAW, Khulafâ` Ar-Râsyidîn, dan sebagian besar masa Bani Umayyah hingga abad pertama hijriah, hadis-hadis terus berpindah dan disampaikan dari mulut ke mulut. Masing-masing perawi pada waktu itu meriwayatkan hadis berdasarkan kekuatan hapalannya. Hapalan mereka terkenal kuat hingga mampu mengeluarkan kembali hadis-hadis yang pernah di rekam dalam ingatannya. Ide penghimpunan hadis nabi secara tertulis untuk pertama kalinya dikemukakan oleh Khalifah ‘Umar bin Khaththâb. Namun ide tersebut tidak dilaksanakan oleh ‘Umar, karena khawatir bila umat Islam terganggu perhatiannya dalam mempelajari Al-Qur’an.

Untuk lebih jelas dalam memahami perihal kodifikasi hadis ini, maka pada makalah ini akan dibahas mengenai kodifikasi hadis, dan sejarah penulisan hadis serta pembukuannya.

SEJARAH PENULISAN HADIS

Berdasarkan data-data sejarah, sejumlah sahabat Nabi memiliki kumpulan tulisan mengenai hadis, yang terkadang disebut shaḥîfah atau nuskhah. Untuk lebih jelasnya, perbedaan yang paling mendasar antara shaḥîfah dan nuskhah terletak pada sanad-nya. Bila sanad-nya lebih dari satu, maka disebut nuskhah, sedang bila sanad-nya hanya satu walaupun hadisnya lebih dari satu dan temanya bermacam-macam disebut shaḥîfah. Shaḥîfah sendiri berarti lembaran yang berisikan tulisan.

Segala ucapan perbuatan dan kelakuan Rasulullah SAW – yang kita kenal sabagai hadits – akan menjadi uswah bagi para Sahabat dan mereka akan berlomba-lomba mewujudkannya dalam kehidupan mereka. Tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua sahabat mendengar satu hadis secara bersamaan, sehingga ada sahabat yang menuliskan hadits dalam shaḥîfah agar tidak tercecer, seperti Shaḥîfah ‘Abd Allâh bin ‘Amru bin ‘Âsh.

Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, Banyak shaḥîfah yang berisi hadis Rasullah SAW seperti Shaḥîfah Sa’ad Ibnu Abû ‘Ubâdah, Shaḥîfah Jâbir Ibn ‘Abd Allâh, Samurah bin Jundab dan yang lainnya. Bahkan, Muhammad Mustafa A’zami menulis dalam disertasinya yang berjudul “Studies in Early Hadits Literature”, bahwa sejak awal pertama hijriah, buku-buku kecil berisi hadis telah beredar.

Ada beberapa nama sahabat Nabi Muhammad SAW yang memiliki shaḥîfah atau nuskhah, antara lain Abû Bakar, Anas bin Malik, dan ‘Â`isyah binti Abû Bakar. Bukan hal aneh bila dikatakan bahwa Abû Bakar pada masa hidup Nabi SAW telah menulis hadis. Bahkan, diperkirakan bahwa ia memiliki kumpulan shaḥîfah berisi kurang lebih 500 hadis. Walaupun pada akhirnya kumpulan itu dibakar. Anas bin Malik termasuk salah seorang sahabat Nabi SAW yang memiliki tulisan indah dan ia telah menulis hadis-hadis Nabi. Bahkan ia sangat menekankan kepada anak-anaknya untuk menulis hadis agar tidak sampai musnah begitu saja. Oleh sebab itu, banyak sekali perawi yang meriwayatkan hadis darinya.

Pasca wafat Rasulullah SAW, ‘Â`isyah binti Abû Bakar memiliki posisi yang cukup penting dalam pemerintahan. Ia oleh pemerintah, diajukan sebagai sumber rujukan bagi berbagai macam permasalahan agama, baik hukum, tafsir atau selainnya. Ia sendiri memberikan perhatian yang sangat besar dalam masalah penukilan hadis. Ia sering menyampaikan hadis dan kemudian ditulis dan disebarkan. Zi`âd bin Abî Shafyân, ‘Urwah bin Zubair dan Muâwiyah bin Abî Shafyân merupakan orang-orang yang banyak menulis hadis dari ‘Â`isyah. ‘Urwah bin Zubair sendiri saja hanya dalam bab tafsir meriwayatkan tidak kurang dari 92 hadis dari ‘Â`isyah. Selain tiga nama yang disebutkan di atas, Muḥammad Mahdi Rad dalam penelitiannya menyebutkan, bahwa sekitar 45 nama sahabat lain yang menulis hadis di zaman Rasulullah SAW.

Walaupun ada shaḥîfah berisi hadis-hadis Rasulullah SAW, penulisan hadits ini tidak dilakukan secara formal seperti halnya Al-Qur’an sampai abad pertama Hijriah berlalu. Padahal bisa saja para sahabat mengumpulkan hadis-hadis shaḥîḥ dan mensarikannya dalam sebuah kitab.

Adapun dalam perkembangan penulisan hadits, telah dikelompokkan ke dalam beberapa periode, seperti yang dirumuskan oleh M. Hasbi Ash Shiddeqy. Beliau membaginya ke dalam beberaa periode pada masa Nabi SAW dan sahabat, yaitu pada abad pertama, M Hasbi Asyiddiqi membagi menjadi tiga periode.

Periode Pertama [Masa Rasulullah SAW]

Pada periode pertama, para sahabat langsung mendengarkan dari Rasulullah SAW atau dari sahabat lain, karena para sahabat tersebar di penjuru negeri, ada yang di desa, dan ada yang di kota. Adakalanya diterangkan oleh istri-istri Rasul SAW seperti dalam masalah kewanitaan dan Rasulullah SAW juga memerintahkan para sahabat untuk menghapal dan menyebarkan hadis-hadisnya.

Perlu diketahui bahwa dalam menyampaikan hadits dilakukan dengan dua cara:

  1. Dengan lafadz asli, yakni menurut lafadz yang mereka dengar dari Rasulullah SAW.
  2. Dengan makna saja, yakni hadis tersebut disampaikan dengan mengemukakan makna saja, tidak menurut lafadz seperti yang diucapkan Nabi SAW.

Kecuali, pada masa Rasulullah SAW sudah ada catatan hadis-hadis beliau seperti ‘Abd Allâh bin ‘Amr, dan pernah suatu waktu Rasulullah SAW berkhutbah, setelah seorang dari Yaman datang dan berkata, “Ya Rasulullah tuliskanlah untukku”, Rasul menjawab, “Tulislah Abû Syah ini”.

Kembali kepada pelarangan Rasulullah SAW dalam penulisan hadis. Tujuan Rasulullah SAW adalah agar Al-Qur’an tidak bercampur dengan apapun, termasuk perkataan beliau sendiri. Ketika menemukan ternyata ada shaḥîfah–shaḥîfah berisi hadis pada masa Rasulullah SAW, maka tidak akan berani dikatakan bahwa para sahabat menghiraukan perintah Rasulullah SAW.

Periode Kedua [Masa Khulafâ` Ar-Râsyidîn]

Pada masa perintahan Abû Bakar RA dan ‘Umar bin Khaththâb RA, pengembangan hadits tidak begitu pesat, hal ini disebabkan kebijakan kedua khalifah ini dalam masalah hadis, mereka menginstruksikan agar berhati-hati dalam meriwayatkan hadis. Bahkan khalifah ‘Umar bin Khaththâb RA dengan tegas melarang memperbanyak periwayatan hadis. Hal ini dimaksudkan agar Al-Qur’an terpelihara kemudiannya dan umat Islam memfokuskan diri dalam pengkajian Al-Qur’an dan penyebarannya.

Lain halnya pada masa khalifah ‘Utsmân bin ‘Affân RA dan ‘Alî bin Abî Thâlib RA, mereka sedikit memberi kelonggaran dalam mengembangkan hadis tetapi mereka masih sangat berhati-hati agar tidak bercampur dengan Al-Qur’an, Khalifah ‘Alî bin Abî Thâlib RA melarang penulisan selain Al-Qur’an, sesungguhnya hanya ditujukan untuk orang-orang awam, karena beliau sendiri memiliki shaḥîfah yang berisi kumpulan hadis.

Periode Ketiga [Masa Sahabat Kecil dan Tâbi’în Besar]

Setelah berakhirnya masa pemerintahan ‘Alî bin Abî Thâlib RA, umat Islam dilanda fitnah besar, di mana mereka terpecah menjadi tiga golongan: [1] Golongan pendukung ‘Alî [Syi’ah], [2] Golongan pendukung Muâwiyah dan [3] Golongan Khawârij.

Dalam perkembangannya golongan-golongan ini mulai memalsukan hadis dengan tujuan membenarkan golongan mereka dan menjatuhkan golongan yang lain. Hal ini mendorong para sahabat dan tâbi’în lebih berhati-hati dalam meriwayatkan dan mengumpulkan hadis. Tapi, bagaimanapun belum ada kodifikasi secara formal.

Pada abad pertama hijriah, yakni masa Rasulullah SAW, Khulafâ` Ar-Râsyidin, dan sebagian besar masa Bani Umayyah hingga abad pertama hijriah, hadis-hadis terus berpindah dan disampaikan dari mulut ke mulut. Masing-masing perawi pada waktu itu meriwayatkan hadis berdasarkan kekuatan hapalannya. Hapalan mereka terkenal kuat hingga mampu mengeluarkan kembali hadis-hadis yang pernah direkam dalam ingatannya. Ide penghimpunan hadis nabi secara tertulis untuk pertama kalinya dikemukakan oleh Khalifah ‘Umar bin Khaththâb. Namun ide tersebut tidak dilaksanakan oleh ‘Umar, karena khawatir bila umat Islam terganggu perhatiannya dalam mempelajari Al-Qur’an. Sehingga kemudian, pada masa bani Umaiyah, khalifah ‘Umar bin Abd’ Al-‘Azîz yang mendorong adanya kodifikasi hadis secara resmi. Maka selanjutnya akan dibahas mengenai sejarah pembukuan hadis.

SEJARAH PEMBUKUAN HADIS

Pada masa pemerintahan Khalifah ‘Umar bin ‘Abd Al-’Azîz, datang dukungan untuk melestarikan hadis. ‘Umar bin ‘Abd Al-’Azîz terkenal sebagai seorang khalifah dari Bani Umayyah yang adil dan warâ’ sehingga dipandang sebagai Khalîfah Ar-Râsyidîn yang kelima.

Beliau sangat waspada dan sadar bahwa para perawi hadis yang menghapal hadis-hadis tersebut dalam ingatannya semakin sedikit jumlahnya. Beliau khawatir apabila tidak segera dikumpulkan dan dibukukan dalam buku-buku hadis dari para perawinya, mungkin hadis-hadis itu akan lenyap bersama lenyapnya para penghapalnya. Tergerak hati Khalifah untuk mengumpulkan hadis nabi dari para penghapal yang masih hidup.

Sekurang-kurangnya, ada dua hal pokok alasan yang mendorong ‘Umar bin ‘Abd Al-‘Azîz untuk mengambil sikap seperti ini. Pertama, ia khawatir hilangnya hadis dengan meninggalnya para ulama di medan perang. Kedua, ia khawatir akan tercampurnya antara hadis yang shahih dengan hadis yang palsu.

Pengkodifikasian hadis dapat dibagi ke dalam tiga periode, yaitu periode at-tâbi’în, periode tâbi’ at-tâbi’în, dan periode setelah tâbi’ at-tâbi’în.

Periode At-Tâbi’în

Pada tahun 100 H, Khalifah ‘Umar bin ‘Abd Al-’Azîz memerintahkan kepada Gubernur Madinah, Abû Bakar bin Muḥammad bin Amîr bin Ḥazm untuk membukukan hadis-hadis nabi dari para penghapal.

انْظُرُوا حديثَ رسولِ اللهِ صلَّى الله عليه وَ سلَّم فَاجْمَعُوهُ

Artinya: “Lihatlah Hadis Rasulullah kemudian himpunlah ia.”

Selain kepada gubernur Madinah, Khalifah juga menulis surat kepada gubernur lain agar mengusahakan pembukuan hadis. Khalifah juga secara khusus menulis surat kepada Abû Bakar Muḥammad bin Muslim bin ‘Ubaidillâh bin Syihâb Az-Zuhrî. Kemudian, Syihâb Az-Zuhrî mulai melaksanakan perintah khalifah tersebut sehingga menjadi salah satu ulama yang pertama kali membukukan hadis.

Setelah generasi Az-Zuhrî [w. 124 H], pembukuan hadis dilanjutkan oleh Ibnu Juraij [w. 150 H], Ar-Rabî’ah bin Shâbih [w. 160 H], dan masih banyak lagi ulama lainnya. Sebagaimana telah disebutkan bahwa pembukuan hadis dimulai sejak akhir masa pemerintahan Bani Umayyah, tetapi belum begitu sempurna.

Pada masa pemerintahan bani Abbasiyah, yaitu pada pertengahan abad II H, dilakukan upaya penyempurnaan. Sejak saat itu, tampak gerakan secara aktif untuk membukukan ilmu pengetahuan, termasuk pembukukan dan penulisan hadis Rasul SAW. Kitab-kitab yang terkenal pada waktu itu yang ada hingga sekarang dan sampai kepada pembaca, antara lain Al-Muwaththâ` oleh Imâm Malik dan Al-Musnad oleh Imâm Asy-Syâfi’î.

Periode Tâbi’ At-Tâbi’în

Periode Tâbi’ At-Tâbi’în artinya periode pengikut Tâbi’în yakni pada abad III dan IV Hijriah. Pada periode abad 3 H ini disebut masa kejayaan sunnah, karena pada masa ini kegiatan rihlah mencari ilmu dan sunnah serta pembukuannya mengalami puncak keberhasilan yang luar biasa.

Pembukuan hadis itu dilanjutkan secara lebih teliti oleh imam-imam ahli hadis, seperti Bukhârî, Muslim, Tirmidzî, Nasâ`î, Abû Dâwud, Ibnu Mâjah, dan lain-lain.

Dari mereka, dikenal Kutub As-Sittah [kitab yang enam], seperti Shaḥîḥ Al-Bukhârî, Shaḥîḥ Muslim, Sunan An-Nasâ`î, dan Sunan At-Tirmidzî.

Periode Setelah Tâbi’ At-Tâbi’în

Pada periode ini disebut penghimpunan dan penertiban, atau Al-Jâmi’ wa At-Tartîb. Ulama yang hidup pada abad 4 H dan berikutnya disebut ulama muta`akhkhirîn atau khalaf [modern] sedang yang hidup sebelum abad ini disebut ulama mutaqaddimîn atau ulama salaf [klasik].

Perbedaan mereka dalam periwayatan dan kodifikasi hadis, adalah ulama mutaqaddimîn menghimpun hadis Nabi dengan cara langsung mendengar dari guru-gurunya kemudian mengadakan penelitian sendiri baik matan dan sanad-nya. Sedang ulama muta`akhkhirîn mengutip dan mereferensikan periwayatannya dari kitab-kitab mutaqaddimîn. Oleh karena itu, tidak banyak penambahan hadis pada abad ini dan berikutnya kecuali hanya sedikit. Namun, dari segi teknik pembukuan, lebih sistematik dari pada masa-masa sebelumnya.

Di antara kegiatan pengkodifikasian hadis pada periode ini adalah dalam bentuk mu’jam, shaḥîḥ, mustadrak, sunan, al-jam’u, ikhtishâr, istikhrâj, dan syaraḥ. Selanjutnya akan dibahas mengenai metode-metode penulisan dan pembukuan hadis yang ada sejak masa sahabat nabi SAW masih hidup, sampai masa setelah tâbi at-tâbi’în.

METODE PENULISAN DAN PEMBUKUAN HADIS

Para penulis kitab hadis mempunyai beberapa metode dalam penyusunan hadis. Metode yang digunakan oleh para ulama tersebut adalah:

Metode Shaḥîfah

Shaḥîfah berasal dari kata shaḥf atau bisa diartikan lembaran-lembaran. Ada beberapa sahabat yang menulis beberapa hadis nabi SAW, atas izin dari beliau sendiri. Shaḥîfah berisikan beberapa hadis nabi yang para sahabat catat.

Namun saat ini tidak bisa diketahui semua isi shaḥîfah itu, karena sebagian sahabat dan tâbi’în telah membakar atau menghapus shaḥîfah yang ada pada mereka sebelum wafat. Sebagian juga ada yang mewasiatkan shaḥîfah-nya kepada orang-orang yang mereka percaya. Mereka melakukan itu karena mengkhawatirkan shaḥîfah itu akan jatuh ke tangan orang-orang yang tidak ahlinya.

Salah satu shaḥîfah yang ditemukan antara lain Shaḥîfah Amîr Al-Mukminîn ‘Alî bin Abî Thâlib yang beliau gantungkan pada pedang yang berisi keterangan tentang umur-umur unta, beberapa hal tentang luka-luka, keharaman Madinah dan tentang seorang muslim tidak boleh dibunuh karena membunuh seorang kafir.

Metode Masânid

Al-Masânid, jamak dari sanad, yakni buku-buku yang berisi tentang kumpulan hadis dari setiap sahabat secara tersendiri, baik hadis shaḥîḥ, ḥasan, atau dha’îf.

Urutan nama para sahabat di dalam musnad terkadang berdasarkan huruf hijaiyah atau alfabet Arab, dan ini paling mudah untuk dipahami, serta terkadang juga berdasarkan pada kabilah dan suku, atau berdasarkan yang paling dahulu masuk Islam, atau berdasarkan negara tempat tinggal.

Pada sebagian musnad, terkadang hanya terdapat kumpulan hadis salah seorang sahabat saja atau hadis sekelompok para sahabat seperti sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk Surga.

Al-Masânid yang dibuat oleh para ulama hadis jumlahnya banyak. Al-Kittani dalam kitabnya Ar-Risâlah Al-Mustathrafah menyebutkan jumlahnya sebanyak 82 musnad, kemudian ia mengatakan bahwa musnad itu jumlahnya banyak selain yang telah ia sebutkan.

Adapun musnad-musnad yang paling terkenal adalah:

  1. Musnad Abû Dâwud Sulaimân bin Dâwud Ath-Thayâlisî [w. 204 H]
  2. Musnad Abû Bakar ‘Abd Allâh bin Az-Zubair Al-Ḥumaidî [w. 219 H]
  3. Musnad Imâm Aḥmad bin Ḥanbal [w. 241 H]
  4. Musnad Abû Bakar Aḥmad bin ‘Amr Al-Bazzâr [w. 292 H]
  5. Musnad Abû Ya’lâ Aḥmad bin ‘Alî Al-Mutsannâ Al-Mushilî [w. 307 H].

Al–Ma’âjim

Al–Ma’âjim adalah jamak dari mu’jam. Menurut istilah para ahli hadis, Al–Ma’âjim adalah buku yang berisi kumpulan hadis yang berurutan berdasarkan nama-nama sahabat, atau guru-guru penyusun, atau negeri, sesuai dengan huruf hijaiyah.

Kitab-kitab mu’jam yang terkenal, antara lain:

  1. Al-Mu’jam Al-Kabîr karya Abû Al-Qâsim Sulaimân bin Aḥmad Ath-Thabrânî [w. 360 H]
  2. Al-Mu’jam Al-Awsath karya Abû Al-Qâsim Sulaimân bin Aḥmad Ath-Thabrânî
  3. Al-Mu’jam Ash-Shaghîr karya Ath-Thabrânî
  4. Mu’jam Al-Buldân karya Abû Ya’lâ Aḥmad bin `Alî Al-Mushilî [w. 307 H].

Pengumpulan Hadis Berdasarkan Semua Bab Pembahasan Agama

Al-Jawâmi’ adalah jamak dari jâmi’. Jawâmi’ dalam karya hadis adalah yang disusun dan dibukukan pengarangnya terhadap semua pembahasan agama. Dalam kitab ini, akan ditemukan bab tentang iman [akidah], thahârah, ibadah, mu’ammalah, pernikahan, sirah, riwayat hidup, tafsir, adab, penyucian jiwa, fitnah, dan sebagainya.

Kitab-kitab jâmi’ yang terkenal adalah:

  1. Al-Jâmi’ Ash-Shaḥîḥ karya Imâm Abû ‘Abd Allâh Muḥammad bin Ismâ’îl Al-Bukhârî [w. 256 H]
  2. Al-Jâmi’ Ash-Shaḥîḥ karya Imâm Abû Al-Ḥusain Muslim bin Hajjâj Al-Qusyairî An-Naisabûrî [w. 261]
  3. Al-Jâmi’ Ash-Shaḥîḥ karya Imâm Abû ‘Îsâ Muḥammad bin ‘Îsâ At-Tirmidzî [w. 279 H].

Penulisan Hadis Berdasarkan Pembahasan Fiqh

Karya ini tidak mencakup semua pembahasan agama, tetapi sebagian besarnya saja, khususnya masalah fiqh. Metode yang dipakai dalam penyusunan kitab ini adalah dengan menyebutkan bab-bab fiqh secara berurutan, dimulai dengan kitab thahârah, kemudian kitab shalat, ibadah, mu’ammalah, dan seluruh bab yang berkenaan dengan hukum dan fiqh. Terkadang ada pula judul yang tidak berkaitan dengan masalah fiqh, seperti kitab iman atau adab.

Karya-karya yang terkenal dengan metode ini adalah:

As–Sunan

As–Sunan adalah kitab-kitab yang disusun berdasarkan bab-bab tentang fiqh, dan hanya memuat hadis yang marfû’ agar dijadikan sebagai sumber bagi para fuqaha dalam mengambil kesimpulan hukum. As-Sunan berbeda dengan Al-Jawâmi’. Dalam As-Sunan tidak terdapat pembahasan tentang akidah, sirah, manakib, dan sebagainya, tetapi terbatas pada masalah fiqh dan hadis-hadis hukum.

Kitab-kitab As-Sunan yang terkenal adalah:

  1. Sunan Abî Dâwud karya Sulaimân bin Asy’ats As-Sijistânî [w. 275 H]
  2. Sunan An-Nasâ`î yang dinamakan dengan Al-Mujtaba karya ‘Abd Al-Raḥmân Aḥmad bin Syu’aib An-Nasâ`î [w. 303 H]
  3. Sunan Ibnu Mâjah karya Muḥammad bin Yazîd bin Mâjah Al-Qazwinî [w. 275 H]
  4. Sunan Asy-Syâfi’î karya Imâm Muḥammad bin Idrîs Asy-Syâfi’î [w. 204 H]
  5. Sunan Ad-Dârimî karya ‘Abd Allâh bin ‘Abd Ar-Raḥmân Ad-Dârimî [w. 255 H]
  6. Sunan Ad-Dâruquthnî karya ‘Alî bin ‘Umar Ad-Dâruquthnî [w. 385 H]
  7. Sunan Al-Baihaqî karya Abû Bakar Aḥmad bin Ḥusain Al-Baihaqî [458 H].

Al-Mushannafât

Al-Mushannafât merupakan jamak dari mushannaf. Al-Mushannafât adalah sebuah kitab yang disusun berdasarkan urutan bab-bab tentang fiqh, yang meliputi hadis marfû’, mauquf, dan maqthû’, atau di dalamnya terdapat hadis-hadis nabi, perkataan sahabat, fatwa tâbi’în, dan terkadang fatwa tâbi’ at-tâbi’în.

Perbedaan antara mushannaf dengan sunan adalah mushannaf mencakup hadis-hadis marfû’, mauqûf, dan maqthû’, sedangkan kitab sunan tidak mencakup, selain hadis yang marfû’, kecuali sedikit sekali.

Karya-karya yang terkenal dalam model ini adalah:

  1. Al-Mushannaf karya Abû Bakar ‘Abd Ar-Razzâq bin Hammâm Ash-Shan’ânî [w. 211 H]
  2. Al-Mushannaf karya Abû Bakar ‘Abd Allâh bin Muḥammad bin Abî Syaibah Al-Kûfî [w. 235 H]
  3. Al-Mushannaf karya Baqî Ad-Dîn Mukhallad Al-Qurthubî [w. 276 H].

Al-Muwaththa’ât

Al-Muwaththâ’at merupakan jamak dari muwaththâ’. Menurut istilah, Al-Muwaththa’ât adalah sebuah kitab yang tersusun berdasarkan urutan bab-bab fiqh dan mencakup hadis-hadis marfû’, mauqûf, dan maqthû’, sama seperti mushannaf, meskipun namanya berbeda.

Karya-karya muwaththa’ât yang terkenal adalah:

  1. Al-Muwaththâ’ karya Imâm Malik bin Anas Al-Madânî [w. 179 H]
  2. Al-Muwaththâ’ karya Ibnu Abî Dzi’b Muḥammad bin ‘Abd Ar-Raḥmân Al-Madânî [w. 158 H]
  3. Al-Muwaththâ’ karya Abû Muḥammad ‘Abd Allâh bin Muḥammad Al-Marwazî [w. 293 H].

Kitab-kitab yang Penyusunnya Hanya Menuliskan Hadis-hadis yang Shaḥîḥ

Selain metode-metode penyusunan yang telah disebutkan di atas, sebagian ulama tetap berkomitmen menyusun kitab-kitab shaḥîḥ, di antaranya Shaḥîḥ Al-Bukhârî, Shaḥîḥ Muslim, Al-Muwaththâ’ karya Imâm Malik, dan Al-Mustadrak karya Al-Ḥâkim. Selain kitab-kitab ini, ada beberapa kitab yang disusun dengan kriteria shaḥîḥ oleh penulisnya, yaitu:

  1. Shaḥîḥ Ibnu Khuzaimah karya Abî ‘Abd Allâh Muḥammad bin Isḥaq bin Khuzaimah bin Al-Mughîrah As-Sulâmî An-Naisabûrî, guru Ibnu Ḥibbân [w. 311 H]
  2. Shaḥîḥ Ibnu Ḥibbân karya Abû Ḥâtim Muḥammad bin Ḥibbân [w. 354 H].

Karya Tematik

Sebagian ahli hadis menyusun karya-karya tematik yang terbatas pada hadis-hadis tertentu berkaitan dengan tema tertentu, di antaranya sebagai berikut:

At-Targhîb wa At-Tarhîb

At-Targhîb wa At-Tarhîb adalah kitab-kitab hadis yang berisi kumpulan hadis tentang targhîb [motivasi] terhadap perintah agama, atau tarhîb [ancaman] terhadap larangannya, seperti targhîb untuk birr al–wâlidain [anjuran taat kepada kedua orang tua] dan tarhîb untuk tidak durhaka kepada keduanya. Karya-karya tentang ini antara lain:

  1. At-Targhîb wa At-Tarhîb karya Zakî Ad-Dîn ‘Abd Al-‘Azhîm bin ‘Abd Al-Qawî Al-Mundzirî [w. 656 H]
  2. At-Targhîb wa At-Tarhîb karya Abî Ḥafsh ‘Umar bin Aḥmad, atau lebih dikenal dengan nama Ibnu Syâhin [w. 385 H].

Buku tentang kezuhudan, keutamaan amal, adab, dan akhlak

Kitab-kitab yang ditulis dengan metode ini, antara lain:

  1. Az-Zuhd karya Imâm Aḥmad bin Ḥanbal [w. 241 H]
  2. Az-Zuhd karya ‘Abd Allâh bin Al-Mubârak [w. 181 H]
  3. Akhlâq An-Nabî karya Abî Syeikh Abî Muḥammad ‘Abd Allâh bin Muḥammad Al-Ashbahânî [w. 369 H]
  4. Riyâdh Ash-Shâliḥîn min Kalâm Sayyid Al-Mursalîn karya Abî Zakarîyâ Yaḥyâ bin Syarf An-Nawâwî [w. 676 H].

Kumpulan Hadis Hukum Fiqh [Kutub Al-Aḥkâm]

Kutub Al-Aḥkâm adalah buku-buku yang memuat tentang hadis-hadis hukum fiqh saja, di antaranya yang terkenal adalah:

  1. Al-Aḥkâm karya ‘Abd Al-Ghânî bin ‘Abd Al-Wâḥid Al-Maqdisî [w. 600 H]
  2. ‘Umdah Al-Aḥkâm ‘an Sayyid Al-Anâm karya Al-Maqdisî
  3. Al-Imâm fî Ḥadîts Al-Aḥkâm karya Muḥammad bin ‘Alî, atau lebih dikenal dengan nama Ibnu Daqîq Al-‘Îd [w. 702 H]
  4. Al-Ilmâm bi Aḥâdits Al-Aḥkâm karya Ibnu Daqîq Al-‘Îd
  5. Ringkasan dari kitab Al-Imâm, Al-Muntaqâ fî Al-Aḥkâm karya ‘Abd As-Salâm bin ‘Abd Allâh bin Taimîyah Al-Harrânî [w. 652 H]
  6. Bulûgh Al-Marâm min Adillah Al-Aḥkâm karya Al-Ḥâfizh Aḥmad bin ‘Alî bin Ḥajar Al-’Asqalânî [w. 852 H].

Merangkaikan Al-Majâmi’

Al-Majâmi’ adalah jamak dari Majma’, yaitu setiap kitab yang berisi kumpulan beberapa mushannaf dan disusun berdasarkan urutan mushannaf yang telah dikumpulkan tersebut. Di antara majâmi’ yang terkenal adalah:

  1. Jâmi’ Al-Ushûl min Aḥâdits Ar-Rasûl karya Abû As-Sa’âdât, dikenal dengan sebutan Ibnu Al-Atsîr [w. 606 H]
  2. Majma’ Az-Zawâ’id wa Manba’u Al-Fawâ’id karya Al-Ḥâfizh ‘Alî bin Abû Bakar Al-Haitsâmî [w. 807 H]
  3. Jam’u Al-Fawâ’id min Jâmi’ Al-Ushûl wa Majma’ Al-Zawâ’id karya Muḥammad bin Muḥammad bin Sulaimân Al-Maghribî [w. 1094 H].

Al-Ajzâ`

Al-Ajzâ` merupakan jamak dari jûz, yaitu setiap kitab kecil yang berisi kumpulan riwayat seorang perawi hadis, atau yang berkaitan dengan satu permasalahan secara terperinci, seperti:

  1. Juz`u Mâ Rawâhu Abû Ḥanîfah ‘an Ash-Shaḥâbah karya Ustâdz Abû Ma’syar ‘Abd Al-Karîm bin ‘Abd Ash-Shamad Ath-Thabârî
  2. Juz`u Raf’ Al-Yadain fî Ash-Shalâh karya Al-Bukhârî.

Al-Athrâf

Al-Athrâf yaitu setiap kitab yang hanya menyebutkan sebagian hadis yang dimaksud, kemudian mengumpulkan seluruh sanad-nya, baik sanad satu kitab ataupun sanad dari beberapa kitab. Para penulis biasanya menyusun urutannya berdasarkan musnad para shahabat dengan susunan nama sesuai huruf-huruf hijaiyah, lalu menyebutkan pangkal hadis yang dapat menunjukkan ujungnya, seperti hadis “Kullukum râ’in…”, “Buniya Al-Islâm ‘alâ Khamsin…”, dan “Al-Îmânu bidh’un wa sab’ûna syu’batan…”, demikian seterusnya.

Kitab-kitab athrâf yang terkenal adalah:

  1. Athrâf Ash-Shaḥîḥain karya Muḥammad Khalaf bin Muḥammad Al-Wâsithî [w. 401 H]
  2. Al-Isyrâf ‘Alâ Ma’rifati Al-Athrâf, atau Athrâf As-Sunan Al-Arba’ah karya Al-Ḥâfizh Abû Al-Qâsim ‘Alî bin Ḥasan, dikenal dengan sebutan Ibnu Asâkir [w. 571 H]
  3. Tuḥfah Al-Asyrâf bi Ma’rifah Al-Athrâf, atau Athrâf Al-Kutub As-Sittah karya Al-Ḥâfizh Abû Al-Ḥajjâj Yûsuf bin ‘Abd Ar-Raḥmân Al-Mizzî [w. 742 H]
  4. Itḥâf Al-Mahârah bi Athrâf Al-‘Asyarah karya Al-Ḥâfizh Aḥmad bin ‘Alî Ibnu Ḥajar Al-’Asqalânî [w. 852 H]
  5. Athrâf Al-Masânid Al-‘Asyarah karya Abû Al-‘Abbâs Aḥmad bin Muḥammad Al-Buwaishirî [w. 840 H]
  6. Dzakâ`ir Al-Mawârits fî Ad-Dalâlah ‘Alâ Mawâdhî’ Al-Ḥadîts, karya ‘Abd Al-Ghânî An-Nabulsî [w. 1143 H].

Kumpulan Hadis yang Masyhur Diucapkan secara lisan atau Tematik

Pada beberapa kurun waktu, para ulama banyak memerhatikan penulisan hadis-hadis yang masyhur diucapkan di kalangan masyarakat, lalu mereka menjelaskan derajat hadis tersebut dari segi dha’îf atau maudhû’-nya; atau yang tidak jelas asalnya, meskipun sudah sedemikian masyhur. di antara ulama, ada juga yang memerhatikan penulisan hadis palsu secara khusus.

Buku-buku yang terkenal dalam hal ini antara lain:

  1. Al-La’âlî’ Al-Mantsûrah fî Al-Aḥâdits Al-Musytaharah min Mâ Allafahu Ath-Thab’u wa Laisa Lahu Ashlun fî Asy-Syar’î karya Al-Ḥâfizh Ibnu Ḥajar [w. 852 H]
  2. Al-Maqâshid Al-Ḥasânah fî Bayâni Katsîrin min Al-Aḥâdits Al-Musytaharah ‘Alâ Al-Alsinah karya Muḥammad bin ‘Abd Ar-Raḥmah As-Sakhâwî [w. 902 H]
  3. Ad-Durar Al-Muntatsîrah fî Al-Aḥâdits Al-Musytaharah karya Jalâl Ad-Dîn As-Suyûthî [w. 911 H]
  4. Tamyîz Ath-Thayyib min Al-Khabîts fî Mâ Yadhurru ‘Alâ Alsinah An-Nâs min Al-Ḥadîts karya ‘Abd Ar-Raḥmân bin ‘Alî Syaibânî [w. 944 H]
  5. Kasyf Al-Khafâ’ wa Muzil Al-Ilbâs ‘Amma Isytahara min Al-Aḥâdits ‘Alâ Alsinah An-Nâs karya ‘Ismâ’îl bin Muḥammad Al-Ajlûnî [w. 1162 H]
  6. Asnâ Al-Mathâlin fî Aḥâdits Mukhtalif Al-Marâtib karya Muḥammad bin Darwisî, yang terkenal dengan nama Al-Hut Al-Bairûnî [w. 1276 H]
  7. Al-Maudhû’ât karya Ibnu Al-Jauzî [w. 597 H]
  8. Al-Manâr Al-Munîf fî Ash-Shaḥîḥ wa Adh-Dha’îf karya Ibnu Qayyim Al-Jauzîyah [w. 751 H]
  9. Al-La’âli Al-Mashnû’ah fî Al-Aḥâdits Al-Maudhû’ah karya Jalal Ad-Dîn As-Suyûthî [w. 911 H]
  10. Al-Mashnû’ fî Ma’rifah Al-Ḥadîts Al-Maudhû’ karya Nûr Ad-Dîn ‘Alî bin Muḥammad, atau lebih dikenal dengan nama Al-Mullâ ‘Alî Al-Qâri’ Al-Harâwî [w. 1014 H]
  11. Al-Asrâr Al-Marfû’ah fî Al-Akhbâr Al-Maudhû’ah, atau juga disebut Al-Maudhû’ât Al-Kubrâ karya Al-Mullâ ‘Alî Al-Qâri’
  12. Al-Fawâ`id Al-Majmû’ah fî Al-Aḥâdits Al-Maudhû’ah karya Asy-Syaukânî [w. 125 H]
  13. Silsilah Al-Aḥâdits Adh-Dha’îfah karya Syaikh Nashîr Ad-Dîn Albânî.

Az-Zawâ`id

Az-Zawâ’id adalah karya yang berisi kumpulan hadis tambahan terhadap hadis yang ada pada sebagian kitab yang lain. Karya yang terkenal dalam bidang ini, antara lain:

  1. Mishbâh Az-Zujâjah fî Zawâ`id Ibnu Mâjah karya Abû ‘Abbâs Aḥmad bin Muḥammad Al-Bushairî [w. 84 H]
  2. Itḥâf As-Sa’âdah Al-Mahârah Al-Khairah bi Zawâ`id Al-Masânid Al-’Asyarah karya Al-Bushairî
  3. Al-Mathâlib Al-’Âliyah bi Zawâ`id Al-Masânid Ats-Tsamanîyah karya Al-Ḥâfizh Aḥmad bin ‘Alî Ibnu Ḥajar Al-’Asqalânî [w. 852 H]
  4. Majma’ Az-Zawâ`id wa Manba’ Al-Fawâ`id karya Al-Haitsâmî.

Syaraḥ

Syaraḥ hadis adalah penjelasan hadis baik yang berkaitan dengan sanad atau matan, terutama maksud dan makna matan hadis atau pemecahannya jika terjadi kotradiksi dengan ayat atau dengan hadis lain. Kitab yang menggunakan metode ini antara lain:

  1. Syarḥ Ma’ânî Al-Atsar karya Ath-Thaḥâwî [w. 321 H]
  2. Syarḥ Musykil Al-Atsar karya Ath-Thaḥâwî.

Mustakhraj

Adalah metode yakni dengan mengeluarkan beberapa hadis dari sebuah buku hadis seperti yang diterima oleh gurunya sendiri dengan menggunakan sanad sendiri, misalnya:

  1. Mustakhraj Abî Bakar Al-Ismâ’îlî ‘Alâ Shaḥîḥ Al-Bukhârî karya Abû Bakar Al-Ismâ’îlî [w. 371 H]

KESIMPULAN

Dari serangkaian pembahasan pada makalah ini, maka penulis dapat memberikan beberapa kesimpulan. Pertama, tidak dilakukannya kodifikasi hadis nabi Muhammad SAW secara resmi pada masa nabi, lebih diutamakan karena masih adanya kekhawatiran terjadinya pencampur-adukkan antara hadis dengan Al-Qur’an, juga supaya pada masa itu, kaum muslimin sibuk dalam menghapalkan, dan menuliskan Al-Qur’an ketimbang menulis hadis nabi.

Kedua, pada masa sahabat, tâbi’în, dan tâbi at–tâbi’în, maupun generasi sesudahnya, diperbolehkan menuliskan hadis karena sebab-sebab pelarangannya dirasa telah hilang. Sebab-sebab itu antara lain kekhawatiran terjadinya campur aduk antara hadis dengan Al-Qur’an. Hingga tujuan mereka menjadi memelihara Al-Qur’an dan sunnah, sehingga ada garis pembeda antara keduanya.

Ketiga, kegelisahan Khalifah ‘Umar bin ‘Abd Al-‘Azîz akan lenyapnya sunnah dan menyusupnya pemalsuan terhadap sunnah itu. Sehingga beliau memerintahkan para ulama pada zaman itu untuk menghimpunnya dan memerintahkan kepada mereka yang berkuasa di berbagai wilayah Islam untuk memberikan perhatian serius terhadapnya.

Keempat, kodifikasi hadis telah terjadi sejak masa nabi Muhammad SAW, walau hanya secara individual. Lalu, pada awal abad 2 hijriah, penghimpun dan penulisan hadis beralih kepada penyusunan hadis ke dalam bab-bab, dan mengumpulkan satu bab dengan yang lainnya dalam satu kitab mushannaf atau jâmi’. Kemudian, pada zaman selanjutnya, muncul kitab-kitab seperti musnad dan shaḥîḥ. Di zaman itulah kodifikasi hadis telah berkembang melampaui berbagai tahap, sampai ke tangan pembacanya sampai sekarang. Wallâhu a’lam.

DAFTAR PUSTAKA

A’zamî, Muḥammad Musthafâ Al-. 1992. Dirâsât fî Al-Ḥadîts An-Nabawî wa Târîkh Tadwînuh. Beirut: Al-Maktabah Al-Islamî.

______. 2000. Studies in Early Hadith Literature, diterjemahkan oleh Ali Mustafa Ya’qub. Jakarta: Pustaka Firdaus.

______. 1996. Metodologi Kritik Hadits. Bandung: Pustaka Hidayah.

Amin, Ahmad. 1968. Fajrul Islam, diterjemahkan oleh Zaini Dahlan. Jakarta: Bulan Bintang.

Khatîb, Muḥammad ‘Ajâj Al-. 1981. As-Sunnah Dablat-Tadwin. Beirut: Dâr Al-Fikr.

______. 1989. Ushûl Al-Ḥadîts: ‘Ulûmuhu wa Musthalahuh. Damaskus: Dâr Al-Fikr.

______. 2013. Ushûl Al-Ḥadîts: ‘Ulûmuhu wa Mushthalahuhu, diterjemahkan Ushul Al-Hadits: Pokok-pokok Ilmu Hadits. Jakarta: Gaya Media Pratama.

Khon, Abdul Majid. 2008. Ulumul Hadis. Jakarta: Amzah.

Mudasir, H. 1999. Ilmu Hadis. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Shiddeqy, M. Hasby Ash-. 1998. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. Jakarta: Gramedia Press.

Solahudin, M. dan Suryadi, Agus. 2009. Ulumul Hadis. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Video yang berhubungan

Bài mới nhất

Chủ Đề