Apa yang harus dilakukan oleh seorang aktor agar dapat mendalami karakter yang diperankan

posted by Muhammad Saing 2 comments

Richard Boleslavsky dalam bukunya yang berjudul "the First Six Lessons" menjelaskan bahwa teater adalah keagungan, penciptaan, kemurnian, suatu keindahan, sesuatu yang lebih besar dari kehidupan. Bagi Boleslavsky, teater adalah misteri besar, suatu misteri dimana ada penggabungan antara dua gejala abadi, yaitu :


- Keinginan pada kesempurnaan,

- Keinginan pada keabadian.
Dalam sebuah teater kreatif, sasaran seorang aktor adalah sukma manusia. Berperan di atas pentas adalah memberikan bentuk lahir pada watak dan emosi aktor, baik dengan laku ataupun ucapan. Dalam watak tersebut ada tiga bagian yang harus nampak, yaitu watak tubuh, watak emosi, dan watak pikiran.

Berikut ini adalah cara mendalami karakter peran menurut Richard Boleslavsky :
Ajaran I : Konsentrasi
Aktor adalah orang yang mengorbanan diri. Ia menghilangkan dirinya demi menjadi orang lain sesuai peranannya. Hal pertama yang harus dia miliki untuk menjadi orang lain adalah, konsentrasi. Didalam konsentrasinya dia harus dapat memerintahkan panca indranya, dan seluruh organ dan bagian tubuhnya untuk bekerja sebagai orang lain.

Ajaran II : Ingatan EmosiAktor harus dapat mengingat segala emosi yang terpendam dari halaman-halaman sejarah yang telah silam. Semua itu pasti membantu akting seorang aktor, untuk mendapatkan takaran emosi yang tepat dalam berperan di atas panggung. Emosi yang dimaksud di sini bukanah semata-mata emosi yang pernah kita alami, tetapi bisa saja emosi yang kita dapati dari hasil observasi.

Ajaran III : Laku DramatisJika kita sudah mendapatkan emosi, barulah kita wujudkan semua itu dalam Laku Dramatis, yaitu perbuatan yang bersifat expresif. Inilah yang merupakan instrumen dalam seni teater. Aktor harus mewujudkan yang diutarakan oleh pengarang atau sutradara dengan kata-katanya di dalam laku dramatisnya. Di sini aktor bersifat reproduktif dan kreatif.

Ajaran IV : Pembangunan Watak Untuk mendapatkan wujud watak yang benar, kita harus melakukan berbagai pengkajian terhadap karakter yang akan diperankan dari naskah. Yang harus dilakukan adalah :1. Menelaah Struktur Psikis Peran2. Memberikan identifikasi3. Mencari hubungan antara naskah dan emosi4. Penguasaan Teknis

Ajaran V : Observasi atau pengamatanTugas seorang aktor selain bermain di atas pentas adalah untuk mengamati segala yang terjadi di sekitarnya. Mulai dari hal yang paling umum sampai hal yang paling detail. Kadang masih ada aktor yang melupakan observasi sebagai bagian dari tugasnya. Dan itulah yang membuat kualitas permainan seorang aktor menjadi rendah. Oleh karena itu observasi sangatlah penting, dimana kita bisa belajar untuk menjadi yang lain dari diri kita dan belajar bagaimana bertingkah laku. Dan semua ini pasti berguna di atas pentas.

Ajaran VI : IramaAgar sebuah lakon dapat menghanyutkan penikmatnya ke arah yang di tuju, maka permainan itu harus menggunakan irama. Dalam teater didapati istilah tempo, tetapi sebetulnya kata-kata ini tidak ada hubungannya dengan irama. Irama adalah perubahan-perubahan yang teratur dan dapat diukur dari segala macam unsur yang terkandung dalam sebuah hasil seni –dengan syarat bahwa semua perubahan secara berturut-turut merangsang perhatian penonton dan menuju ke tujuan akhir si seniman. Sebuah lakon mempunyai irama. Irama itu berjalan ke arah klimaks. Tanpa irama pasti akan membosankan penonton. Aktor harus mempunya kemahiran menunjukan irama. Ia harus berlatih memikat perhatian penonton.

Dari 6 ajaran diatas dapat ditarik kesimpulan, yaitu aktor bukanlah sebuah hobby, tapi bagian dari hidupnya.

Trim's

Salam budaya !!


- Penghayatan peran juga bisa berpengaruh pada kondisi mental aktor, loh!
- Ada yang bisa pulih dari depresinya, tapi ada yang terpuruk di masa tuanya bahkan ada yang meninggal!

Popularitas dan kemewahan seakan enggak bisa lepas dari kehidupan para aktor. Kehidupan mereka mungkin terlihat menyenangkan. Namun, enggak banyak yang tahu bahwa ada pengorbanan besar yang dilakukan para aktor hingga mereka bisa meraihnya, termasuk pengorbanan mereka dalam menampilkan akting yang totalitas dan berkualitas.

Bukan rahasia lagi bahwa beberapa aktor berani melakukan hal ekstrem saat dituntut untuk memerankan suatu karakter. Ada yang rela mengubah berat badannya secara drastis hingga mengasingkan diri dari orang-orang di sekitarnya. Semua itu mereka lakukan untuk bisa mendalami dan menyatu dengan karakter yang akan mereka perankan.

Sayangnya, hal-hal ekstrem yang dilakukan para aktor malah bisa memengaruhi kesehatan mental mereka. Saking mendalaminya, mereka seakan enggak bisa lepas dari suatu karakter bahkan di saat proses syutingnya telah berakhir. Lalu, bagaimana akting bisa memengaruhi kesehatan mental aktor? Yuk, simak ulasan KINCIR!

Mengapa aktor tertarik memerankan karakter yang menantang?

Pernah mendapatkan penghargaan atau proyek film sukses enggak menjamin seorang aktor dapat terus mempertahankan eksistensinya dalam waktu lama. Lihat saja Taylor Lautner yang begitu sukses memerankan Jacob Black di The Twilight Saga. Setelah The Twilight Saga berakhir, kariernya seakan lenyap. Bahkan, Lautner sama sekali enggak mendapatkan proyek film sejak 2017.

Taylor Lautner dalam Twilight Saga. Via Istimewa

Persaingan di industri perfilman memang keras. Mendapatkan popularitas sesaat memang mudah, namun mempertahankan eksistensi aktor bukanlah perkara mudah. Aktor yang pernah sukses besar pun harus pintar-pintar memilih film yang dapat membuat karier mereka terus bertahan.

Heath Ledger, misalnya, sadar dia harus berhati-hati dalam memilih peran ketika film Hollywood pertamanya, 10 Things I Hate About You (1999), sukses melambungkan namanya. Dalam wawancaranya bersama The New York Times, aktor asal Australia ini mengungkapkan bahwa dia sampai menolak tawaran pekerjaan selama setahun karena peran yang ditawarkan mirip dengan karakternya di 10 Things I Hate About You.

Heath Ledger dan Julia Stiles Via Istimewa

Untuk mempertahankan kariernya, Ledger menolak untuk mengambil peran yang “itu-itu aja” sepanjang kariernya. Dia enggak mau terjebak pada karakter cowok pencuri perhatian seperti perannya di film yang memasangkan dia dengan Julia Stiles. Ledger merasa membuang-buang waktu jika dia harus memerankan karakter yang serupa di film yang berbeda.

Langkah untuk menghindari peran yang “itu-itu aja” juga dilakukan oleh Anne Hathaway. Seperti halnya Ledger, nama Hathaway langsung melesat setelah dia membintangi film Hollywood pertamanya, yaitu The Princess Diaries (2001). Bedanya, Hathaway sempat terjebak di peran princess lewat dua film selanjutnya, yaitu Ella Enchanted (2004) dan The Princess Diaries 2: Royal Engagement (2004).

Anne Hathaway Via Istimewa

Hathaway pun sadar jika langganan menjadi peran princess bukanlah alasannya terjun di dunia akting. Setelah berakting di The Princess Diaries 2: Royal Engagement, Hathaway memutuskan untuk melepaskan citra princess-nya dengan mengambil peran dewasa. Setahun setelahnya, Hathaway muncul di film drama kriminal berjudul Havoc (2005). Bahkan, Hathaway berani tampil telanjang di film tersebut.

Kita bisa lihat bahwa aktor Hollywood enggak serta-merta mencari aman, yang penting dapat pekerjaan, dibayar, dan menjalankan kewajibannya. Mereka tentunya terus menantang diri sendiri dengan mengambil karakter yang berbeda dan terbilang sulit di setiap filmnya. Jika sukses, karakter sulit tersebut dapat menjadi ajang pembuktian kepada khalayak.

Sebagai orang yang bertanggung jawab besar terhadap kesuksesan sebuah film, sutradara tentunya punya harapan kepada aktor yang berperan di film garapannya. Di saat penampilan aktor enggak sesuai yang diharapkan, sutradara bakal turun tangan menatar para aktornya agar bisa mengeluarkan penampilan terbaiknya.

Hal tersebut dialami aktris lawas, Shelley Duvall, saat syuting film The Shining (1980). Di film horor legendaris tersebut, ada adegan yang memperlihatkan karakter yang diperankan Duvall memegang tongkat bisbol sambil ketakutan terhadap suaminya sendiri. Untuk menampilkan adegan tersebut dengan sempurna, sang sutradara, Stanley Kubrick, sampai membuat Duvall dan Jack Nicholson mengulang adegan hingga 127 kali.

Martin Sheen bisa dibilang punya nasib yang lebih baik daripada Duvall. Untuk salah satu adegannya di Apocalypse Now (1979), sutradara Francis Ford Coppola membiarkan Sheen mabuk selama dua hari dan mengurungnya di kamar. Hasilnya, secara mengejutkan, Sheen melakukan improvisasi dengan memecahkan cermin yang ada di lokasi adegan.

Apa yang dialami aktor The Shining dan Apocalypse Now adalah contoh pendalaman karakter yang dilakukan saat syuting berlangsung. Sebelum ada sentuhan tangan sutradara dalam mengarahkan akting di lokasi syuting, aktor tentunya punya persiapan tertentu yang mereka lakukan sebelum proses syuting dimulai, termasuk persiapan fisik.

Persiapan fisik enggak selalu tentang aktor yang melakukan olahraga intensif untuk mendapatkan postur yang bugar dan kekar. Demi suatu karakter, aktor juga dituntut mengubah penampilan dengan menurunkan atau menaikkan berat badan. Metode ini juga pernah dilakukan Hathaway ketika mendapatkan peran Fantine di Les Miserables (2012).

Anne Hathaway di film Les Miserables. Via Istimewa

Demi Les Miserables, Hathaway melakukan diet ketat untuk mengurangi berat badannya hingga 12 kg. Enggak hanya diet ekstrem, Hathaway harus merelakan rambut indahnya dipotong untuk keperluan adegan Fantine yang menjual rambutnya.

Meski demikian, enggak selamanya pendalaman karakter dilakukan karena tuntutan sutradara ataupun tuntutan peran. Misalnya saja usaha yang dilakukan Ledger untuk The Dark Knight (2008). Demi mendapatkan Joker yang tepat, Ledger berinisiatif mengurung diri selama sebulan di sebuah kamar hotel.

Heath Ledger di film The Dark Knight. Via Istimewa

Selama mengurung diri, Ledger bereksperimen menemukan suara Joker yang tepat. Dia juga mencari berbagai inspirasi dan menuangkannya lewat sebuah diari. Selain membebaskan Ledger dalam mencari inspirasi untuk Joker, sutradara The Dark Knight, Christopher Nolan, juga mengizinkan aktor asal Australia tersebut mengarahkan sendiri adegan video ancaman Joker terhadap Batman.

Mencurahkan seluruh pikiran dan raga untuk memerankan suatu karakter nyatanya dapat berdampak pada psikologis sang aktor. Terlebih saat mereka harus mengulang-ulang adegan, seperti Shelley Duvall yang harus melakukan adegannya sampai 127 kali. Untuk karakternya di The Shining, Duvall juga harus dituntut untuk selalu menangis, bahkan dia pernah menangis selama 12 jam untuk perannya di film ini.

Saking stresnya karena mendapatkan tekanan dari sutradara, Duvall mengaku sampai mengalami kerontokan parah saat syuting berlangsung. Kabarnya, Kubrick memang sengaja berperilaku kejam supaya meningkatkan kegelisahan yang dibutuhkan untuk karakternya Duvall. Parahnya lagi, Kubrick juga memerintahkan kru filmnya agar sama sekali enggak bersimpati kepada Duvall.

Tekanan yang didapatkan Duvall pun enggak hanya berasal dari sutradara. Usaha kerasnya untuk membintangi The Shining malah diganjar nominasi “Worst Actress” di Razzies Awards. Duvall pun merasa semakin tertekan karena usahanya seakan sia-sia dan enggak pernah dianggap. Apalagi, Kubrick sama sekali enggak memberikan pembelaan terhadap nominasi buruk yang diterima Duvall.

Shelley Duvall di film The Shinning. Via Istimewa

Berbeda dengan Duvall, walau enggak mengalami tekanan dari sutradara, Hathaway turut merasa tertekan saat syuting Les Miserables. Fantine diceritakan sebagai seorang pekerja pabrik yang akhirnya terjebak dalam pelacuran. Sejak awal kemunculan hingga kematiannya, Fantine digambarkan sebagai karakter yang benar-benar menderita.

Penderitaan Fantine ternyata memengaruhi pikiran Hathaway di kehidupan nyatanya. Hathaway mengaku menjadi pribadi yang temperamental, bahkan pernah bertengkar dengan suaminya karena perubahan sikapnya dari efek memerankan Fantine.

Saat melihat keseluruhan penampilannya di hasil akhir Les Miserables, Hathaway mengaku menangis karena masih merasa terhubung dengan penderitaannya Fantine. Bahkan, Hathaway mengaku sama sekali enggak bahagia ketika menerima Oscar lewat penampilannya di Les Miserables. Dia merasa bersalah karena memenangkan penghargaan dari karakter yang penuh kesakitan dan penderitaan.

Anne Hathaway di film Les Miserables. Via Istimewa

Hal senada juga pernah disampaikan Ledger di masa hidupnya. Dia mengaku bahwa Joker adalah peran yang menguras fisik dan mentalnya. Dia mengaku pernah kesulitan tidur karena otaknya enggak berhenti berpikir. Kesulitan tidur membuatnya nekat meminum dua butir obat tidur sekaligus. Yap, Ledger memang berhasil tidur hanya dalam waktu satu jam. Dia kembali bangun dari tidurnya karena pikirannya enggak berhenti bekerja.

Tragisnya, Ledger meninggal tepat enam bulan sebelum The Dark Knight dirilis. Kematiannya disebabkan oleh overdosis obat resep yang dikonsumsinya untuk mengatasi kesulitan tidur dan kecemasan. Yang mengejutkan lagi, Ledger pernah menuliskan “bye bye” di diarinya tepat sebelum dia mengakhiri syuting The Dark Knight.

Via istimewa

Apa yang dialami Duvall, Hathaway, dan Ledger ternyata selaras dengan hasil studi yang dirilis oleh University of Adelaide. Alison Robb, pemimpin studi ini, mengatakan bahwa aktor rentan mengalami trauma dari pengalaman akting mereka.

Jika sudah terlalu terikat dengan karakternya secara emosional dan fisik, peran mereka di film bisa terbawa dan sulit dihilangkan saat aktor harus menghadapi dunia nyata. Enggak heran jika aktor dapat mengalami mimpi buruk dan pikiran mengganggu yang berhubungan dengan peran mereka.

Melihat fenomena aktor yang sulit berpisah dari perannya, psikolog Charlotte Armitage menyarankan agar aktor mencari terapi setelah menjalani peran yang menguras fisik dan psikisnya. Seorang aktor tentunya butuh orang lain untuk membantunya lepas dari peran yang begitu melekat padanya.

Pada 2016, Duvall mengejutkan publik dengan muncul di acara Dr. Phil. Dengan penampilan yang sangat berbeda dengan masa jayanya, Duvall menceritakan segala keluh kesahnya setelah membintangi The Shining. Setelah muncul di Dr. Phil, The Actors Fund of America memberikan bantuan dengan membiayai terapi Duvall.

Sementara itu, Adam Shulman, suami Hathaway, punya peran besar terhadap kepulihan mentalnya setelah Les Miserables. Hathaway bersyukur karena suaminya mengerti dengan apa yang sedang dia alami dan selalu mendukungnya. Hathaway pun butuh waktu berminggu-minggu untuk pulih seperti sedia kala.

***

Popularitas dan kehidupan glamor yang didapatkan para aktor mungkin terlihat menggiurkan. Namun, di balik itu semua, mereka mesti mengorbankan fisik, psikis, bahkan nyawa. Sebagai penikmat film, kalian mungkin bisa meringankan beban mereka dengan enggak mem-bully para aktor hanya karena kesalahan minor. Dukungan dan kritik yang membangun tentunya dapat membuat aktor merasa lebih baik setelah menjalani peran yang cukup berat.

Menghindari nonton film bajakan tentu saja bisa menjadi cara untuk mendukung para aktor, loh. Dengan menonton film secara legal, kita bisa menghargai kerja keras para aktor, termasuk aktor dalam negeri.

Bagaimana menurut kalian tentang totalitas para aktor yang malah berdampak pada kesehatan mental mereka? Lalu, siapakah aktor yang kalian kagumi totalitasnya dalam memerankan sebuah karakter? Jangan lupa ikuti terus KINCIR buat dapatin berbagai informasi seputar film lainnya, ya!

Video yang berhubungan