Bagaimanakah seharusnya sikap seorang anak ketika orang tuanya sedang sakit

Namun, jangan khawatir, karena tidak hanya yang buruk-buruk, anak juga meniru perbuatan baik yang dilakukan oleh orangtuanya. Dengan menjadi orangtua yang ramah dan penuh toleransi, Anda dapat memberikan contoh bagi anak untuk melakukan tindakan yang sama. Menurut psikolog dari Harvard, memberikan model untuk berperilaku bagi anak dapat memberikan anak satu acuan tentang apa yang baik dan tidak. Dengan begitu, orangtua perlu untuk menunjukkan banyak perilaku ramah dan hangat kepada orang lain dengan harapan anak dapat menerapkannya juga.

Satu tindakan yang mudah namun hangat dan baik adalah kebiasaan untuk bilang “terima kasih” setiap kali mendapatkan bantuan. Tanpa sadar, seorang anak akan meniru tindakan tersebut dari orangtuanya. Selalu berikan apresiasi bagi anak untuk apapun yang mereka lakukan, walaupun hal tersebut adalah hal yang kecil. Dengan memberikan mereka pengertian mengenai sisi lain dari setiap kisah juga dapat membuat anak menjadi lebih toleran.

Apa yang dilihat anak dapat menjadi dasar anak untuk bertingkah laku. Walaupun pada dasarnya pembentukan tingkah laku adalah hasil dari proses yang rumit, antara biologis dan lingkungan yang bukan hanya lingkungan keluarga. Anak juga cenderung meniru perilaku yang mereka lihat tidak hanya dari tingkah laku orangtua, namun apa yang mereka tonton, teman-teman mereka, dan guru mereka di sekolah. Diperlukan peran orangtua dalam membentuk karakter awal dari anak-anak mereka dengan cara memberikan contoh yang baik agar anak dapat tumbuh menjadi anak yang dapat berfungsi secara sosial dengan baik.

BACA JUGA:

Jakarta -

Ada sebuah kisah tentang Uwais al Qarni yang kerap dijadikan contoh bagaimana seorang anak harus berbakti kepada orang tua. Di dalam Al Quran dan hadits pun juga banyak disebutkan berbagai cara berbakti kepada orang tua dalam Islam. Berbakti kepada orang tua sudah semestinya dilakukan seorang anak. Keutamaan berbakti kepada orang tua dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir (2/298). Di situ disebutkan bahwa menghormati orang tua merupakan hal yang penting dilakukan. Sebab, anak bisa lahir ke dunia karena kedua orang tua.

Allah SWT juga menempatkan kalimat kedua orang tua (walidain) setelah kata perintah keesaan kepada Allah, seperti Quran surat Luqman ayat 14Arab: وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُLatin: wa waṣṣainal-insāna biwālidaīh, ḥamalat-hu ummuhụ wahnan 'alā wahniw wa fiṣāluhụ fī 'āmaini anisykur lī wa liwālidaīk, ilayyal-maṣīrArtinya: Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.Lalu, bagaimana cara berbakti kepada orang tua?Dalam Quran Surat An Nisa ayat 36, Allah SWT berfirman tentang cara berbakti kepada orang tuaArab: وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙLatin: wa'budullāha wa lā tusyrikụ bihī syai`aw wa bil-wālidaini iḥsānaw wa biżil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīni wal-jāri żil-qurbā wal-jāril-junubi waṣ-ṣāḥibi bil-jambi wabnis-sabīli wa mā malakat aimānukum, innallāha lā yuḥibbu mang kāna mukhtālan fakhụrāArtinya: Dan sembah lah Allah dan jangan lah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.

Cara berbakti kepada orang tua lainnya dengan bertutur kata sopan. Seorang anak harus memberikan manfaat kepada orang tuanya bila mana ditakdirkan menjumpai orang tua dalam keadaan tua renta, pikun, atau daya kecerdasan otaknya menurun.

Dalam Quran surat Al Isra ayat 23, Allah SWT berfirman mengenai larangan anak berkata kasar, melainkan harus bertutur kata mulia kepada orang tua.Arab: عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًاLatin: wa qaḍā rabbuka allā ta'budū illā iyyāhu wa bil-wālidaini iḥsānā, immā yabluganna 'indakal-kibara aḥaduhumā au kilāhumā fa lā taqul lahumā uffiw wa lā tan-har-humā wa qul lahumā qaulang karīmāArtinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.Terakhir, cara berbakti kepada orang tua dengan mendoakan kebaikan-kebaikan yang melimpah. Pasalnya, hal itu akan bermanfaat kepada orang tua kelak setelah meninggal dunia.Dalam sebuah hadits diriwayatkan, Nabi Muhammad bersabda bahwa ada tiga amal yang tak akan terputus setelah meninggal, yakni sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.

Nah, semoga kita selalu mengamalkan cara berbakti kepada orang tua ya!

(pay/erd)

(Edisi Khusus Memperingati Hari Ibu)

Minggu 22 Desember 2019 M/ 24 Robi’ul Akhir 1441 H.

Oleh :A. Hasanuddin. HR.

“Ibu! Jasamu Tak Mungkin Dapat Kami Balas

Disebutkan, bahwasanya seorang anak laki-laki datang menjumpai Nabi SAWW

Diapun berkata: “Wahai Rosulullah! Sesungguhnya ibuku yang telah kacau pikirannya karena telah berusia tua (pikun), ada bersamaku. Dan aku memberinya makan dengan tanganku, dan aku memberinya minum, dan aku membersihkannya (memandikannya), dan aku menggendongnya dipundakku. Maka apakah aku telah membalas (jasa-jasa) nya?  Nabi SAWW

pun menjawab: “Belum”, bahkan belum satu (jasa) pun dari seratus (jasa). Tetapi kamu telah berbuat kebaikan dan Allah akan membalas (kebaikan) mu yang sedikit dengan (balasan) yang banyak.” (Dikutip dari kitab Tanbihul Ghofilin. hal. 44).

Dikatakan:

Ada 10 kewajiban seorang anak terhadap kedua orang tuanya:

1). Apabila salah satu dari keduanya membutuhkan makanan, maka dia memberinya makan.

2). Apabila salah satu dari keduanya membutuhkan pakaian, maka dia memberinya pakaian jika mampu.

3). Apabila salah satu dari keduanya membutuhkan pelayanannya, maka dia melayaninya.

4). Apabila salah satu dari keduanya memanggilnya, maka dia memenuhi panggilannya dan mendatanginya.

5). Apabila salah satu dari keduanya memberikan perintah, maka dia melaksanakannya selagi hal itu bukan perbuatan ma’siyat.

6). Berbicara dengannya dengan penuh kelembutan, tidak dengan perkataan yang keras dan kasar.

7) Jangan memanggilnya dengan namanya (secara langsung).

8) Berjalan di belakangnya( sebagai bentuk penghormatan).

9). Menyukai untuk nya apa-apa yang dia sukai untuk dirinya dan tidak menyukai untuknya apa-apa yang tidak disukai untuk dirinya.

10). Selalu mendo’akannya dengan ampunan ketika dia berdo’a untuk dirinya. (Dikutip dari kitab Tanbihul Ghofilin. hal. 45)

Sahabat-Sahabat

Mungkin kita tidak mampu untuk membalas jasa-jasa ibu kita, tapi mari kita selalu berusaha untuk berbakti kepadanya. Nabi SAWW telah bersabda:

“Siapa orang yang berbakti kepada kedua orangtua nya, maka kebahagiaanlah baginya dan Allah akan menambahkan (keberkahan) pada umurnya.” (HR. Hakim dari Mu’adz bin Annas)

Jangan sampai kita menjadi anak yang tidak berbakti kepadanya. Nabi SAWW telah bersabda:

“Wahai golongan kaum muslimin, ingatlah! Siapa orang yang masih memiliki seorang ibu dan dia tidak berbakti kepadanya, maka dia akan keluar dari dunia (meninggal) atas keadan tidak ber-Syahadat.” (Dikutip dari kitab Tanqihul Qoul. hal. 50)

“Ya Allah! Ampunilah dosa-dosa kami, dan dosa-dosa kedua orang tua kami, dan sayangilah keduanya sebagaimana keduanya  mengasuh kami ketika masih kecil. Jauhkanlah mereka dari segala bentuk fitnah dan mushibah, sehatkanlah mereka dan berkahilah kehidupannya

Selamat Hari Ibu!

Semoga Bermanfa’at. Editor #Hasan *69

BAGI kebanyakan orang yang telah berkeluarga, gesekan pemikiran dan perbedaan pendapat merupakan satu hal biasa yang tetap harus dinikmati. Namun, menjadi tidak sederhana ketika gesekan itu antara orangtua dan anak. Benturan yang terkadang dilematis itu timbul dan melanda diantaranya para aktivis, relawan, serta yang berkecimpung di dunia kemanusiaan. Dibilang dilematis, sebab, rutinitas yang berkaitan dengan masyarakat luas sudah barang tentu sangat menyita waktu. Apalagi hubungannya mengurusi banyak hal yang berkaitan dengan orang lain dan tanggung jawab atas amanah yang diemban. Kondisi tersebut tentu saja menuntut adanya pilihan dengan demarkasi yang jelas dan tegas. Jika keliru membuat keputusan, bisa saja kondisinya semakin runyam. Bahkan kadangkala, ketika ada dua kepentingan saling bersamaan dan dianggap sama-sama prioritas, mereka akan sulit menentukan apa yang harus dilakukan. Misalnya ketika orangtua sakit, namun berfikir amanah tetap harus dijalankan. Rasa menyesal kemudian mencuat karena tak bisa mendampingi karena harus tetap menjalankan amanah. Sebaliknya, jika tak teguh pendirian, situasi semacam ini akan menumbuhkan rasa bersalah dan beban berat manakala merasa ada tanggung jawab yang diabaikan karena lebih memilih mendampingi orangtua. Disinilah diperlukan keteguhan dan ketegasan sikap tentang apa yang harus dilakukan seorang anak ketika orangtua membutuhkannya di sisinya. Seorang anak harus mampu menentukan skala prioritas. Sekalipun sebenarnya orangtua rela saja "diabaikan" si anak karena lebih memilih sibuk bekerja yang menjadi kewajibannya di kantor, misalnya. Namun, keinginan orangtua agar diperhatikan dikala ia sedang dalam masa-masa sulit pun tidak bisa dikesampingkan. Walau bagaimanapun, apa yang terjadi di masa sekarang, adalah doa, air mata, dan berkat darah orangtua di masa lalu.

Dalam ajaran agama, ada sebuah anjuran dan etika moral yang harus diperhatikan oleh setiap anak terhadap orangtua yang telah melahirkan dan membesarkannya. Etika itu disebut "birrul walidain".

Birrul walidain dalam defenisinya adalah tindakan berbakti kepada kedua orangtua yang wajib dilakukan meskipun seandainya orangtuanya berbeda keyakinan. Pada level tertentu, nilai-nilai dalam etika tersebut mengandung prinsip dasar sebagai bentuk silaturahim yang paling utama.

Anjuran Birrul Walidain tidak semata menekankan harus menghormati kedua orangtua saja, akan tetapi ada akhlak yang mengharuskan orang yang lebih muda untuk menghargai orang yang lebih tua usianya dan yang tua harus menyayangi yang muda.

Berbicara masalah keluarga memang sukar tidak mengaitkannya dengan ajaran dan kaidah-kaidah agama yang dianut. Sebab agamalah yang menuntun setiap kita dalam membangun ketahanan keluarga sebagi komunitas terkecil dari sebuah bangsa. Dalam ajaran Islam, misalnya, pada kasus tertentu seorang anak bahkan harus mendahulukan panggilan orangtuanya ketimbang melakukan ibadah sunnah. Ini sebagaimana dinukil Imam al-Nawawi dalam Syarah-nya (penjelasannya) atas (kitab) Shahih Muslim tentang kisah Juraij. Melayani manusia atau orang lain dalam kerja-kerja sebuah kemanusiaan di belahan dunia manapun, namun jika seorang anak diminta pulang oleh orangtua, maka usahakan pulanglah. Layani dan perhatikan orangtua kita tanpa mengesampingkan amanah yang dibebankan kepada kita di kantor atau tempat dimana kita mencari penghasilan. Sungguh sangat pentingnya membangun budaya penghormatan dan bakti kepada orangtua, sebab ini adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Urusan pekerjaan rutin bisa saja diwakili terlebih dahulu oleh rekan sepekerjaan. Tapi bakti pada orang tua, tidak ada yang bisa mewakilinya. Betapa sedihnya orangtua, saat sakit tak ada yang mengurusi. Memberi kabar pada anak dan dijawab nanti ketika masa libur baru dapat pulang kembali.

Lalu ketika libur, amanah yang lain menanti, tak jadi penuhi janji. Dengar kabar, orangtua telah tiada. Hancur hati, dipenuhi sesal yang tak selesai. (RIZKY N. DYAH)

komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE

  • Ketika Orangtua Minta Perhatian, Bagaimana Seharusnya Sikap Anak