Mengapa thaharah itu penting jelaskan

Home Gaya Hidup Gaya Lainnya

Tim | CNN Indonesia

Selasa, 08 Dec 2020 10:33 WIB

Tak setiap yang bersih pasti sudah suci. Berikut pengertian thaharah dan pembagiannya menurut syara'. (Foto: iStockphoto/Wavebreakmedia)

Jakarta, CNN Indonesia --

Thaharah merupakan perintah agama untuk bersuci dari hadas dan najis. Kedudukan bersuci dalam hukum Islam termasuk amalan yang penting lantaran salah satu syarat sah salat adalah diwajibkan suci dari hadas dan najis.

Thaharah tak sekadar bersih-bersih badan. Tak setiap yang bersih pun pasti sudah suci. Lebih dari itu, suci dari hadas adalah melakukannya dengan berwudu, mandi, ataupun tayamum.

Sementara suci dari najis yaitu menghilangkan kotoran yang ada di badan, pakaian, dan tempat.


Agar ibadah dapat diterima oleh Allah SWT sekaligus terhindar dari berbagai penyakit, simak pengertian thaharah dan pembagiannya menurut syara' atau peraturan Allah.

Hukum thaharah itu sendiri wajib dan telah disampaikan oleh Allah melalui firmanNya:

"Hai orang-orang beriman, apabila kalian hendak melaksanakan salat, maka basuhlah muka dan tangan kalian sampai siku, dan sapulah kepala kalian, kemudian basuh kaki sampai kedua mata kaki." (Al-Maidah:6).

"Dan, pakaianmu bersihkanlah." (Al-Muddatstsir:4).

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri." (Al-Baqarah:222).

Macam-macam Thaharah atau Bersuci

Foto: iStockphoto/travenian
Ilustrasi. Macam-macam thaharah adalah Ma'nawiyah dan Hissiyah

Thaharah pun terbagi menjadi dua bagian seperti berikut:

A. Thaharah Ma'nawiyah

Thaharah ma'nawiyah merupakan bersuci rohani misalnya membersihkan segala penyakit hati yaitu iri, dengki, riya dan lainnya.

Pasalnya, thaharah ma'nawiyah ini penting dilakukan sebelum melakukan thaharah hissiyah, karena ketika bersuci harus dalam keadaan bersih dari sifat-sifat sirik tersebut.

B. Thaharah Hissiyah

Thaharah hissiyah adalah bersuci jasmani, atau membersihkan bagian tubuh dari sesuatu yang terkena najis (segala jenis kotoran) maupun hadas (kecil dan besar).

Untuk membersihkan dari najis dan hadas ini, bisa dilakukan dengan menggunakan air seperti berwudu, mandi wajib, serta tayamum (bila dalam kondisi tidak ada air).

Akan tetapi, air yang boleh dipakai untuk bersuci juga bukan sembarang air. Penjelasnnya adalah di bawah ini:

1. Jenis Air untuk Thaharah

Air yang dapat digunakan untuk bersuci adalah air bersih (suci dan mensucikan) yang turun dari langit atau keluar dari bumi dan belum pernah dipakai bersuci, di antaranya:

  • Air hujan
  • Air sumur
  • Air laut
  • Air sungai
  • Air salju
  • Air telaga
  • Air embun

2. Pembagian Air untuk Thaharah

Pengertian thaharah dan pembagiannya juga ditinjau dari segi hukum Islam dengan mengelompokkan jenis air yang diperbolehkan maupun tidak dalam bersuci.

Air tersebut dibagi menjadi empat yaitu:

  1. Air suci dan menyucikan, yaitu air mutlak atau masih murni dapat digunakan untuk bersuci dengan tidak makruh (digunakan sewajarnya tidak berlebihan).
  2. Air suci dan dapat menyucikan, yaitu air musyammas (air yang dipanaskan dengan matahari) di tempat logam yang bukan emas.
  3. Air suci tapi tidak menyucikan, yaitu air musta'mal (telah digunakan untuk bersuci) menghilangkan hadas atau najis walau tidak berubah rupa, rasa dan baunya.
  4. Air mutanajis, yaitu air yang kena najis (kemasukan najis), sedangkan jumlahnya kurang, maka tidak dapat menyucikan.
  5. Air haram, yaitu air yang diperoleh dengan cara mencuri (ghashab), atau mengambil tanpa izin, sehingga air itu tidak dapat menyucikan.

Tata Cara Thaharah

Foto: PublicDomainPictures/Pixabay
Ilustrasi. Mandi wajib merupakan syarat mutlak thaharah.

1. Mandi Wajib

Mandi atau ghusl merupakan syarat mutlak ketika bersuci, istilah mandi wajib dalam thaharah yaitu mengalirkan air ke seluruh tubuh dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Mandi wajib ini harus dibarengi dengan membaca niat yang menyucikan diri dari hadas kecil dan besar seperti kutipan dari NU Online yaitu:

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ اْلحَدَثِ اْلأَكْبَرِ مِنَ اْلِجنَابَةِ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى

"Nawaitul ghusla liraf'il-hadatsil-akbari fardhal lillaahi ta'aala."

Artinya: Aku niat mandi untuk menghilangkan hadats besar dari janabah, fardhu karena Allah ta'ala."

Menurut madzhab Syafi'i, saat pertama membaca niat harus dibarengi dengan menyiram tubuh dengan air secara merata.

Kedua, mengguyur seluruh bagian luar badan, tak terkecuali rambut dan bulu-bulunya. Sedangkan bagian tubuh yang berbulu atau berambut harus dengan air mengalir.

2. Berwudu

Sementara itu, thaharah dengan berwudu menurut syara' adalah untuk menghilangkan hadas kecil ketika akan salat.

Orang yang hendak melaksanakan salat sudah wajib hukumnya melakukan wudu, karena berwudu merupakan syarat sahnya salat.

Thaharah berwudu juga sama halnya dengan mandi wajib yang diawali dengan membaca niat wudu seperti ini:

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَصْغَرِ فَرْضًاِللهِ تَعَالَى

"Nawaitul wudhuu'a liraf'il-hadatsil-ashghari fardhal lillaahi ta'aalaa."

Artinya: Aku niat berwudu untuk menghilangkan hadas kecil karena Allah.

Kemudian melaksanankan fardu wudu enam perkara, di antaranya:

  • Niat
  • Membasuh seluruh muka
  • Membasuh kedua tangan sampai siku-siku
  • Mengusap sebagian rambut kepala
  • Membasuh kedua belah kaki sampai mata kaki
  • Tertib, artinya mendahulukan mana yang harus dahulu dan mengakhirkan yang harus diakhiri.

3. Tayamum

Thaharah tayamum ini merupakan cara yang menggantikan mandi dan wudu, apabila dalam kondisi tidak ada air.

Syarat tayamum adalah menggunakan tanah yang suci tidak tercampur benda lain. Lalu diawali niat


نَوَيْتُ التَّيَمُّمَ لاِسْتِبَاحَةِ الصَّلاَةِ فَرْضً ِللهِ تَعَالَى

"Nawaitut tayammuma lisstibaahatishsholaati fardhol lillaahi taala."

Artinya: Saya niat tayamum agar diperbolehkan melakukan fardu karena Allah.

Setelah membaca niat, dilanjut dengan meletakkan dua belah tangan ke atas debu misalnya debu pada kaca atau tembok dan usapkan ke muka sebanyak dua kali.

Dilanjut mengusap dua belah tangan hingga siku sebanyak dua kali juga, dan memindahkan debu kepada anggota tubuh yang diusap.

Yang dimaksud mengusap bukan sebagaimana menggunakan air dalam berwudu, tatapi cukup menyapukan saja bukan mengoles-oles seperti memakai air.

Dengan begitu pengertian thaharah dan pembagiannya ini wajib dipahami sebagai mana mestinya, karena sewaktu-waktu sudah pasti diperlukan.

(avd/fef)

Saksikan Video di Bawah Ini:

Materi Pendidikan Agama kelas 7 SMP halaman 44, mengapa Taharah itu penting? //freepik/

RINGTIMES BANYUWANGI – Simak mengapa Taharah itu penting, materi Pendidikan Agama kelas 7 SMP halaman 44.

Pada halaman 44 buku paket Pendidikan Agama kelas 7 SMP, disebutkan mengapa Taharah itu penting yang berhubungan juga dengan menyucikan diri dari hadas.

1. Taharah penting karena tanpa thaharah, amalan seseorang tidak akan diterima atau tidak sah, misalnya: sholat tidak sah jika tidak wudhu.

Baca Juga: Menentukan Unsur Instrinsik Cerita Anika, Tamika, Cika, Materi Bahasa Indonesia Kelas 7 SMP Halaman 58

2. Perbedaan antara hadas dan najis adalah hadas merupakan keadaan dari orangnya, sementara najis adalah bendanya.

>

3. Macam-macam najis dan contohnya adalah Najis Mukhaffafah, contohnya air kencing bayi laki-laki yang masih menyusui, Najis Mutawassithah, contohnya darah haid, Najis Mughallazhah contohnya air liur anjing.

4. Hal-hal yang menyebabkan orang berhadas besar adalah mimpi basah dan keluarnya sperma, berhubungan suami istri.

Baca Juga: Kunci Jawaban PJOK Kelas 5 SD MI Halaman 143, Esai 1 sampai 5

5. Perempuan yang sedang haid tidak boleh melaksanakan sholat dan puasa karena sedang dalam keadaan tidak suci.

Sumber: Buku Sekolah Elektronik

Thaharah juga memiliki kedudukan yang paling utama dalam ibadah.

Republika/Putra M. Akbar

Jamaah mengambil air wudhu untuk melaksanakan ibadah Shalat Dzuhur di Mushola Truck Al - Hijrah yang terparkir di kawasan Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu (27/12).

Rep: Zahrotul Oktaviani Red: Agung Sasongko

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Thaharah secara bahasa berarti bersuci atau bersih dan membebaskan diri dari kotoran dan najis. Sementara, menurut isti lah (syarak), thaharah berarti meng hi lang kan hukum hadas untuk menunai kan shalat atau ibadah lainnya yang mensyaratkan untuk bersuci dengan air atau pengganti air, tayamum.

Secara umum, thaharah berarti menghilangkan kotoran dan najis yang dapat mencegah sahnya shalat, baik najis maupun kotoran yang menempel di badan dan pakaian. Men jaga kebersihan dalam sebuah hadis disebut sebagian dari iman.

Thaharah juga memiliki kedudukan yang paling utama dalam ibadah. Apabila seseorang sudah memahami dan menjalankan dengan baik, ibadahnya akan berjalan dengan lebih baik. Sementara bagi yang belum paham, ibadahnya bisa jadi tidak sah.

Kewajiban untuk membersihkan diri ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam su rah al-Maidah ayat 6. Dalam surah itu Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman apabila kamu hendak mengerjakan shalat, basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan basuhlah kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu ju nub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau me nyentuh perempuan, lalu kamu tidak mem peroleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan ka mu, tetapi Dia (Allah) hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nik mat-Nya bagimu, supaya kamu ber syukur."

Dalam QS al-Baqarah ayat 222, Allah SWT kembali menegaskan perihal pentingnya menyucikan diri ini. Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyu kai orang-orang yang menyucikan diri." Bersuci ini lebih lanjut dibagi menjadi dua, lahiriah (fisik) dan batiniah (hati). Thaharah ma'nawiyah atau thaharah hati, yaitu bersuci dari syirik dan maksiat. Segala perbuatan dosa atau maksiat yang berhubungan dengan hati, seperti sombong, angkuh, takabur, dendam, dan iri harus dihilangkan.

Cara menghilangkannya dengan ber tauhid dan beramal saleh. Umat diharapkan bisa bertaubat, berjanji tidak mengulangi lagi, dan memperbanyak ibadah seperti berzikir, membaca Alquran, dan shalat malam atau Tahajud. Thaharah la hiriah dinilai tidak akan terlaksana tanpa bersihnya hati seseorang. Dalam surah at-Taubah ayat 28 Allah berfirman, "Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis." Selanjutnya dalam surah al-Ma idah ayat 41 Allah juga berkata, "Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar."

Wajib bagi seorang Muslim yang ber akal untuk menyucikan dirinya dari syirik, penyakit hati, dan keraguan kepada Allah. Thaharah kedua, yaitu yang bersifat fisik. Menyucikan diri dari hadas dan anjis adalah bagian dari iman kedua. Allah men syariatkan thaharah badan ini de ngan wudhu dan mandi wajib. Penghi langan najis dan kotoran ini tidak hanya fisik manusia, tetapi juga yang melekat seperti pakaian hingga tempat ibadah.

Dalam surah al-Maidah ayat 6 Allah berfirman, "Hai orang-orang yang ber iman, apabila kamu hendak mengerja kan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan sapulah (usaplah) kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau salah seorang dari kamu kembali dari tempat buang air (WC/kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu, Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat- Nya bagimu, supaya kamu bersyukur."

Menyucikan diri ini dibagi menjadi tiga jenis. Cara pertama menyucikan najis menggunakan air hingga hilang bekas najis itu baik bentuk, warna, mau pun rasanya. Cara kedua membersihkan hadas kecil dengan berwudhu. Dan cara terakhir membersihkan hadas besar dengan mandi wajib. n zahrotul oktaviani

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...