perbedaan total football dan tiki-taka

Total Football (Belanda) ke Tiki-taka (Spanyol). Colak-colek (Indonesia U-19)..?

13 Oktober 2013 16:23 |
Diperbarui: 24 Juni 2015 06:35

Olahraga. Sumber ilustrasi: FREEPIK

Siapa yang tidak kenal nama Sepak Bola? Ya, sudah pasti hampir diseluruh penjuru belahan bumi tidak asing lagi dengan Sepak Bola. meski dengan nama yang berbeda-beda, Amerika misalanya (notabene basketball sebagai olah raga populer) olah raga ini disebut dengan istilah Soccer walaupun pada umumnya lebih dikenal dengan FOOTBALL (mengacu pada induk organisasinya, FIFA).

"Atmosfer dan gairah dalam pertandingan sepak bola sangat berbeda dengan basket. Perbedaan tersebut muncul karena sepak bola layaknya sebuah agama", Kobe Bryant.

Tidaklah salah juga pernyataan tersebut mengingat betapa fanatik, kreatif dan masivnya para suporter bila mendukung dan membela Tim kesayangannya baik secara langsung (ke Stadion), melalu TV dan yang tak kala terorganisir juga melalui komunitas-komunitas Online (Fanpage). tak terkecuali TIMNAS INDONSEIA.

Perkembangan persepakbolaan dunia dari tahun-ketahun kian maju (semoga di Indonesia juga :D) baik dari segi Infrastruktur, Teknologi, Peraturan (FIFA), dan Strategi. Disini penulis tidak dalam kapasitas untuk mengulas lebih detil perkembangan Infrastruktur, Teknologi, Peraturan (FIFA) dari tahun-ketahun diberbagai Negara-Negara yang Sepak Bolanya telah berevolusi menjadi sebuah Industri tapi lebih kepada bagaimana sebuah Strategi itu diciptakan, diberinama dan kemudian mengalami perkembangan (Modifikasi) taktikal, Misalanya:

ITALY dengan Catenaccio

Asal-muasal Taktik ini dipengaruhi dari sebuah sistem/pola permainan yang disebut Verrou ("doorbolt atau rantai" dalam bahasa Perancis) yang diusung oleh Timnas Swiss di Era 1930-an dan 1940-an yang dilatih oleh pelatih berkebangsaan Austria Karl Rappan. Pada tahun 1950, Nereo Rocco mulai merintis sistem ini di Italia saat menangani Padova. Sampai pada dekade 1960-an, Oleh Franco Helenio Herrera (Argentina) pelatih Internazionale Milan dikembangkan lagi menjadi 'La Grande Inter atau yang lebih kita kenal dengan sebutan Catenaccio.

Total Football (Belanda) ke Tiki Taka (Spanyol)

Pelatih berkebangsaan Belanda Rinus Michels lah yang "membidani" lahirnya Total Football (DNA dariTiki Taka) ketika melatih Ajax Amsterdam pada Era 19651971 dan Barcelona (19711975). Melalui polesan "tangan dingin" Rinus Michels pula, De Oranje (Julukan Timnas Belanda) dibawanya melaju hingga Partai puncak Piala Dunia 1974 di Munich. Ketika itu Johan Cruyff dkk harus harus takluk dari Jerman Barat dengan Skor 2-1. Singkatnya, pada tahun 19881996 Johan Cruyff (sebagai Pelatih) kembali membawa gaya Total Football ke Barcelona. Sejak awal bergabungnya hingga Empat tahun masa kepelatihan di Barcelona, dengan Skuad "Dream Team"-nya, Johan Cruyff berhasil memengani supremasi tertinggi kejuaraan antar Klub se-Eropa, Liga Champion 1992 (Pertama bagi Barcelona). Gaya ini terus dikembangkan di bawah pelatih-pelatih asal Belanda lainnya yang pernah menangani Barcelona, Louis van Gaal (19972000 dan 20022003) Frank Rijkaard (20032008) dan dibawah polesan Pep Guardiola (20082012), lebih mengukuhkan identitas Tiki Taka itu. Meski istilah Tiki Taka baru tercetus saat Timnas Spanyol berpartisipasi pada gelaran Piala Dunia 2006 tapi tetap saja tidak melunturkan esensinya bahwa Ruhnya adalahTotal Football.

Colak-Colek (Indonesia U-19)..?

Dibawah asuhan Indra Sjafri (Pelatih Timnas Indonesia U-19), melihat pola permainan saat mengalahkan Korea Selatan U-19 dengan Skor 1-2, ada sebuah ekspektasi besar terhadap masa depan Timnas U-19 (khususnya) dan Sepak Bola Indonesia (umumnya) untuk lebih berprestasi lg. Pola-pola permainan "kaki ke Kaki/Satu Dua Sentuhan/Colak-Colek " dengan determinasi tinggi yang diramu Pelatih Indra Sjafri membawa kita pada pola permainan Barcelona. Dengan postur tubuh yang dimiliki orang Indonesia yang rata-rata tidak sebegitu menjulang a.k.a mungil (skala Internasional) dan kecepatan yang dimiliki, Pola permainan "One Two Touch" dan sekali-sekali dikombinasi dengan memanfaatkan kecepatan Sprint akan lebih cocok ketimbang mengandalkan pola lama "Long Passing".

Dengan mengadopsi pola "Colak-Colek" ( <<TikiTaka << Total Football) bukan tidak mungkin Indonesia bisa menggapai kesuksesan seperti apa yang telah dilakukan Timnas Spanyol dan Barcelona. yang harus dilakukan oleh Timnas Indonesia adalah mencoba. Ya, mencoba, terus mencoba dan mengembangkan pola "Colak-Colek" yang sejauh ini masih sangat efektif. Bukankah Indonesia juga pernah punya Wim Rijsbergen seperti halnya Barcelona dengan Johan Cruyff, yang sama-sama Alumnus Piala Dunia 1974.

Halaman Selanjutnya