pertanyaan tentang aurat laki-laki

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Kamis, 18 Februari 2021

Tanya Nyai: Batasan Aurat Anak dan Orang Tua?

Pertanyaan (Fauziah, bukan nama sebenarnya):

Mana sajakah batasan aurat orang tua dengan anak? Lantas bagaimana jika orang tua mandi bersama dengan anak yang berusia balita? Karena kebanyakan orang tua berpikir bahwa mandi bersama anak adalah salah satu jalan untuk memberikan edukasi tentang bagian tubuh pada anak.

Jawaban (Ustadzah Nurun Sariyah, S.H.):

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita perlu membahas tentang batasan aurat dari kedua sisi terlebih dahulu. Di antaranya adalah aurat orang tua yang boleh dilihat oleh anak dan aurat anak yang boleh dilihat oleh orang tua.

Terlebih dahulu kita bahas soal batasan aurat ayah dan ibu sebagai orang tua. Mengenai aurat laki-laki, seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ.

Ya Rasulullah ﷺ, manakah aurat yang harus kami tutupi dan kami biarkan terbuka? tanya seorang sahabat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ

Jagalah auratmu kecuali dari istrimu atau budakmu.

Lalu bagaimana kalau dengan yang sejenis? tanya sahabat lagi.

Apabila kamu mampu, jagalah auratmu agar tidak ada seorang pun yang melihatnya, jawab Rasulullah ﷺ.

Lalu bagaimana kalau aku sedang sendirian? tanya sahabat memastikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

فَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ يُسْتَحْيَى مِنْهُ مِنَ النَّاسِ

Seharusnya kamu lebih layak untuk malu kepada Allah daripada kepada manusia (HR. Tirmidzi no. 2794; hadis hasan menurut Imam Tirmidzi).

Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ عَوْرَةٌ

Apa yang ada di antara pusar dan lutut adalah aurat (Mujam Thabarani Shaghir no. 1033; hadis sahih menurut Imam Suyuti).

Adapun mengenai aurat ibu sebagai perempuan, Allah berfirman:

وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat (QS. An-Nur [24]: 31).

Ibnu Abbas dan Sayyidah Aisyah ra. menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan aurat yang biasa tampak dalam ayat ini adalah wajah dan kedua telapak tangan. Kedua anggota ini bukan anggota tubuh yang wajib ditutupi, dan wajib hukumnya bagi perempuan menutupi seluruh tubuhnya selain kedua anggota ini.

Di dalam ayat di atas juga disebutkan bahwa ada pengecualian bagi orang-orang tertentu yang boleh melihat aurat perempuan, seperti ayah, suami, anak, dan sesama perempuan. Namun, kebolehan ini bukan terhadap aurat perempuan secara menyeluruh. Dalam hal ini, para ulama telah menentukan batasan-batasannya.

Aurat orang tua di hadapan anak

Berikut adalah keterangan dari ulama empat mazhab terkait batasan aurat orang tua yang boleh tampak di hadapan anak balitanya:

Pertama, keempat ulama mazhab (Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali) menyatakan bahwa seorang ayah tidak boleh menampakkan bagian tubuh antara pusar dan lututnya di hadapan anak balitanya baik laki-laki mupun perempuan.

Kedua, keempat ulama mazhab (Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali) menyatakan bahwa seorang ibu tidak boleh menampakkan bagian tubuh mulai dari dada, punggung hingga lututnya di hadapan anak balitanya yang berjenis kelamin laki-laki.

Ketiga, menurut ulama mazhab Maliki dan Syafii, seorang ibu tidak boleh menampakkan bagian tubuh antara pusar dan lututnya di hadapan anak balitanya yang berjenis kelamin perempuan.

Ketentuan ini berlaku juga bagi siapa pun yang masih dalam ikatan mahram (orang yang haram untuk dinikahi).

Sementara terkait dengan batasan aurat anak balita di hadapan orang tuanya, beberapa ulama mazhab berbeda pendapat:

Pertama, menurut mazhab Syafii, aurat anak kecil walaupun belum mumayyiz (bisa membedakan hal baik dan buruk) adalah seluruh tubuhnya. Oleh karena itu, haram hukumnya melihat aurat anak (laki-laki maupun perempuan) kecuali oleh orang yang mengasuhnya.

Kedua, menurut mazhab Maliki, seluruh tubuh anak balita laki-laki boleh dilihat dan disentuh oleh kedua orang tua, sementara aurat balita perempuan hanya boleh dilihat oleh orang tua lelaki (ayah) tanpa disentuh.

Ketiga, menurut mazhab Hanafi dan Hanbali, balita laki-laki dan perempuan tidak punya aurat. Oleh karena itu, seluruh tubuhnya boleh dilihat dan disentuh oleh kedua orang tua.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa boleh-boleh saja orang tua mandi bersama anak balitanya dengan catatan bahwa aurat orang tua tetap tertutup di hadapan si buah hati.

Bagi ayah, tetaplah menutup bagian pusar hingga lutut dengan mengenakan semisal celana pendek atau handuk. Dan bagi ibu, tetaplah menutup bagian dada hingga lutut dengan mengenakan semisal kemben (kain yang menutupi bagian dada sampai bawah lutut) atau handuk.

Sahabat KESAN yang budiman, mandi bersama yang diharapkan sebagai momen pembelajaran bagi anak untuk mengenal bagian tubuh hendaklah menjadi momen yang sempurna. Maka, mari kita jaga kesempurnaan momen ini dengan cara menutup aurat kita saat mandi bersama anak. Harapannya mereka juga dapat mengerti tentang rasa malu dan memahami aturan agama pada bagian-bagian tubuhnya.

Wallahu alam bi ash-shawabi.

Referensi: Shahih Muslim: 1/266; A-Mujam Ash-Shaghir li Ath-Thabrani: 2/205; Raddu Al-Muhtar ala Ad-Dari Al-Mukhtar: 1/404-408; Syarhu Mukhtashar Khalil li Al-Kharasyi: 1/246-248; Asna Al-Mathalib: 3/110; Tuhfatu Al-Muhtaj: 7/208; Al-Fiqhu Al-Islamiy wa Adillatuhu: 1/743-757; Al-Inshaf: 1/451-453; Al-Fiqhu ala Al-Madzahib Al-Arbaah: 1/175-176

###

*Jika artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. Download atau update aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan.

**Punya pertanyaan terkait Islam? Silakan kirim pertanyaanmu ke

Bagikan artikel ini