Tanaman yang wajib ditanam pada masa sistem tanam paksa adalah dan

Seperti yang telah diketahui bahwa Indonesia merupakan surganya bagi setiap jenis tanaman, hal inilah yang membuat penjajah menduduki indonesia. Bahkan pada saat masa tanam paksa atau biasa dikenal dengan istilah culture stelsel, banyak sekali berbagai jenis tanaman yang harus ditanam oleh setiap petani lokal.

Namun sebelum anda mengetahui berbagai jenis tanaman yang di tanam pada masa tanam paksa tersebut. Ada baiknya juga anda mengetahui mengenai pengertian, tanaman utama yang ditanam dan tanaman lain yang harus ditanam di beberapa daerah di Indonesia Sebagai berikut.

Pengertian Tanam Paksa

Cultuur stelsel ataupun juga disebut dengan tanam paksa merupakan peraturan yang terjadi di masa penjajahan. Pada masa tersebut gubernur van den bosch mengeluarkan sebuah peraturan yang mana mewajibkan setiap desa untuk menyisihkan bagian tanahnya sekitar 20 persen.

Hal tersebut ditujukan untuk digunakan sebagai kebutuhannya yakni dengan menanami berbagai tanaman komoditi ekspor yang sangat laris di masa lalu. Ketahui juga cara Infus Tanaman dari Botol Bekas apabila anda hendak mengatur penyiraman air secara berskala

Ketentuan tanaman Paksa

Selain mengharuskan menyisihkan sebagian dari tanah desa sekitar 20 persen, ada ketentuan lain yang harus dipenuhi pada masa tanam paksa. Seperti halnya dengan mewajibkan setiap warga yang tidak memiliki tanah untuk bekerja selama 75 hari dalam setahun.

Setiap warga yang tidak memiliki tanah tersebut diharuskan bekerja di kebun milik pemerintah kolonial. Ada baiknya bila anda mencoba menanam Jenis Tanaman Akuarium bila memiliki akuarium di rumah.

Akan tetapi dalam kenyataannya peraturan yang telah dibuat ternyata tidak berarti karena bukan hanya 20 persen saja, bahkan seluruhnya wajib ditanami tanaman sesuai dengan kebutuhan dari pemerintah belanda.

Selain itu juga seluruh hasilnya pun harus diserahkan langsung pada pemerintah kolonial pada masa itu. Ketahui juga oleh anda beberapa alasan yang membuat Kenapa Tanaman Layu, supaya penanaman anda bisa maksimal

Tanaman Utama yang Ditanam

Pada masa pemerintahan kolonial sendiri ada banyak sekali jenis tanaman yang wajib ditanam, untuk kemudian di serahkan dan juga di jual pada pemerintahan kolonial tersebut. Harga yang didapatkan tentunya sesuai dengan harga yang dibuat dalam aturan pemerintah kolonial.

Adapun beberapa jenis tanaman utama yang harus ditanam diantaranya adalah seperti berikut :

  • Tanaman Kopi
  • Tebu
  • Indigo atau bahan pewarna

Jenis Tanaman Lain yang harus di Tanam Pada Beberapa Wilayah

Selain dengan tanaman yang wajib ditanam seperti halnya dengan tanaman kopi, tebu dan juga indigo ada beberapa tanaman lain yang juga harus ditanam. Jenis tanaman tersebut pun di sesuaikan dengan wilayah yang ada di Indonesia, secara umum tanaman yang harus ditanam adalah tanaman untuk komoditi ekspor.

Ketahui juga oleh anda Cara Stek Bunga Mawar bila anda hendak menanam bunga mawar.

Adapun beberapa wilayah yang tidak menggunakan komoditi ekspor tetap juga dikenakan pajak. Selain itu juga setiap warga yang tidak memiliki tanah tentunya wajib untuk bekerja bahkan sampai dengan setahun penuh, dan bekerja pada lahan pertanian yang tentunya menjadi milik pemerintah kolonial pada masa itu.

Adapun Beberapa tanaman yang juga harus ditanam dalam skala kecil diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Tembakau
  • Lada
  • Teh
  • Kayu manis
  • Cengkeh
  • Pala

Kerja Paksa di Wilayah lain di Luar Jawa

Selain di pulau Jawa sendiri sejak tahun 1822 penyebaran untuk tanam paksa diberlakukan sampai ke luar pulai jawa. Hal ini jelas dengan menyesuaikan beberapa jenis tanaman dengan kondisi daerah yang lain yang tentunya memiliki kondisi tanah yang berbeda.

Bahkan beberapa tanaman lain dengan skala lain juga diberlakukan. Ketahui juga oleh anda berbagai Tanaman Aquarium Tanpa co2 yang sangat cocok untuk ditanam bila anda memiliki akuarium.

Adapun beberapa wilayah lain yang juga kena dampak dari tanam paksa pada masa pemerintahan belanda diantaranya seperti berikut :

  • Minahasa diberlakukan tanam paksa kopi
  • Sumatera Barat tahun diberlakukan dengan tanam paksa kopi
  • Madura diberlakukan dengan tanam paksa tanaman tembakau
  • Maluku diberlakukan dengan tanam paksa tanaman cengkeh
  • Ambon diberlakukan dengan tanam paksa tanaman cengkeh

Penyesuaian Tanam Paksa

Sistem tanam paksa sendiri tentunya juga disesuaikan dengan kondisi dari tanah dari masing- masing wilayah.

Untuk jenis tanah yang dibutuhkan juga tentunya sangat tergantung dari setiap tanaman yang diharuskan untuk ditanam. Ketahui juga oleh anda mengenai Tanaman Cabai Tiba-Tiba Layu untuk langkah pencegahan

Pada beberapa jenis tanaman utama seperti halnya dengan tebu maka jenis tanah yang diperhatikan adalah jenis dari tanah persawahan. Hal tersebut dikarenakan tanaman tebu sangat memerlukan sistem irigasi yang baik. Ketahui juga oleh anda Tanaman Hidup untuk Aquarium bila anda memiliki akuarium.

Untuk jenis dari tanaman kopi, maka jenis dari tanah yang diperlukan adalah jenis dari tanah yang tandus. Akan tetapi dalam praktiknya, untuk tanaman kopi sendiri ditanam pada area yang belum digarap.

Dengan demikian maka untuk menggarapnya memerlukan banyak tenaga kerja dari warga yang tentunya wajib mengikuti sistem dari tanam paksa.

Selain dari tanaman kopi dan juga tebu, satu jenis tanaman utama lain seperti tanaman indigo pemerintah kolonial memilih tempat dengan menyesuaikan daerah yang banyak penduduknya supaya pengerjaan nya lebih cepat.

Jakarta -

Hasil ekspor komoditas dari sistem tanam paksa diharapkan dapat menutupi kekosongan kas Belanda akibat membiayai perang kemerdekaannya dengan Belgia dan perang Diponegoro. Sistem kerja paksa ini diusulkan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Johannes van den Bosch [1830-1834].

Jenis tanaman yang menjadi fokus sistem tanam paksa yaitu tanaman kopi, tebu, dan indigo [nila]. Tembakau dan kina juga jadi tanaman penting di sejumlah daerah, seperti di Rembang, Surabaya, Madiun, Kediri, Blitar, dan Priangan.

Komoditas tersebut penting di Eropa pada masa itu, seperti dikutip dari Sejarah Nasional Indonesia Jilid 4: Kemunculan Penjajahan di Indonesia oleh Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto.

Indigo adalah tanaman bahan baku pewarna biru yang biasanya digunakan untuk mewarnai tekstil. Tanaman ini melalui pemrosesan di pabrik untuk jadi bahan pewarna.

Jauh sebelum sistem tanam paksa berjalan, produksi indigo sebagai bahan pewarna sudah dilakukan di Jawa, termasuk di Cirebon, seperti dikutip dari Industri Indigo di Kabupaten Cirebon pada Masa Sistem Tanam Paksa [1830-1870], karya penelitian Awaludin Nugraha dkk. dari Universitas Padjajaran [Unpad] di Jurnal Sosiohumaniora.

Menurut catatan Raffles, Cirebon merupakan penghasil besar indigo, kopi, dan kayu jati. Alhasil, produksi indigo diintensifkan lagi di masa sistem tanam paksa sejak tahun 1830 sampai tahun 1864.

Tekanan paling berat terdapat di daerah tanaman indigo, terutama di daerah Parahyangan ini. Contohnya, setelah indigo diperkenalkan di sana, laki-laki dari beberapa desa di distrik Simpur dipaksa bekerja di perkebunan indigo 7 bulan terus-menerus.

Di samping jauh dari aturan awal yang tidak lebih dari waktu tanam padi atau 3 bulan, tanam paksa tanaman-tanaman ekspor tersebut mengakibatkan petani tidak diberi waktu menggarap sawah atau tanahnya sendiri. Alhasil, terjadi kelaparan di Cirebon, Purwodadi, Demak, dan Grobogan.

Kopi, Gula, dan Kina

Kopi menjadi salah satu tanaman penting yang menjadi fokus van den Bosch di tanam paksa, di samping tebu untuk menghasilkan gula, serta kina. Tanah yang dipakai luas dan membutuhkan tenaga rakyat yang sangat banyak.

Contoh, 450.000 orang dikerahkan untuk menggarap penanaman kopi pada 1856. Sementara itu, sekitar 300.000 orang dipekerjakan paksa untuk penanaman tebu, dan 110.000 orang dijadikan pekerja paksa di perkebunan kina.

Para pekerja paksa ini juga menerima upah rendah, beban pajak berat yang tidak sesuai peraturan awal, beban menanggung gagal panen, dan kekerasan di lingkungan kerja, seperti dikutip dari Pengetahuan Sosial Sejarah 2 oleh Drs. Tugiyono Ks., dkk.

Kelak, kecaman berbagai pihak memaksa pemerintah Belanda menghapus tanam paksa secara bertahap. Tanam paksa lada dihapus tahun 1860. Tanam paksa nila dan teh dihapus tahun 1865.

Kemudian, tanam paksa semua jenis tanaman dihapus, kecuali kopi di Priangan pada tahun 1870. Kebijakan senada diterapkan di daerah lain, seperti di Sumatra Barat dan Minahasa.

Simak Video "Sejarah Kebun Kopi Tertua di Jawa Timur"


[Gambas:Video 20detik]
[twu/kri]

Halo Sobat Zenius, di kesempatan kali ini gue akan membahas sistem tanam paksa. Gue ajak elo cari tahu mulai dari latar belakang, tujuan, teknis pelaksanaan, lokasi, jenis tanaman yang wajib ditanam, hingga dampak dari sistem ini.

Oh iya, kalo elo ingin ditemani audio pas lagi baca, silahkan play video di bawah ini:

Bicara tentang sistem tanam paksa ini kita akan menjelajahi era pendudukan Belanda pada tahun 1830-an. Masa ketika rakyat dipaksa hidup di bawah bayang-bayang kebijakan “Cultuurstelsel” atau yang biasa disebut sebagai tanam paksa. 

Kebijakan ini berjalan selama 40 tahun lamanya sebelum akhirnya dihentikan setelah mendapatkan berbagai kritikan berkepanjangan dari para pejuang hak kemanusiaan. Wah, memangnya seperti apa ya peraturan tanam paksa sampai menyita perhatian para aktivis dan tokoh lainnya? Langsung saja kita selami bersama setelah poll yang satu ini.

 Loading ...

Apakah tanam paksa itu?

Sistem tanam paksa [Dok. Wikimedia Commons]

Secara teori, Tanam Paksa adalah sebuah kebijakan yang diterapkan oleh Pemerintahan Kolonial Belanda di mana rakyat Hindia Belanda harus menyerahkan seperlima hasil tanaman ekspor mereka sejak tahun 1830.

Mungkin sekilas seperlima hasil pertanian terdengar memungkinkan untuk dipenuhi, namun kenyataannya rakyat sangat menderita karena pada implementasinya peraturan ini sangat menyimpang dan memberi dampak buruk terhadap ekonomi dan kesejahteraan sosial rakyat Indonesia saat itu. Mekanisme pelaksanaan sistem ini akan dibahas lebih lanjut nanti. Sekarang kita cari tahu dulu yuk, siapa sih yang punya ide buat bikin sistem tanam paksa?

Siapakah yang menerapkan tanam paksa?

Kalo ngebicarain tokoh yang berperan besar dalam implementasi sistem ini, tentu saja kita harus singgung pencetus sistem tanam paksa atau cultuurstelsel adalah Gubernur Johannes van den Bosch. Kalo elo penasaran, ini nih fotonya.

Gubernur Johannes van den Bosch [1780-1844] [Dok. Wikimedia Common]

Johannes van den Bosch adalah orang berkebangsaan Belanda yang menjabat sebagai Gubernur-Jenderal Hindia Belanda yang ke-43 pada tahun 1830-1834.

Sistem tanam paksa ini udah nggak asing lagi ya, tapi elo tau nggak nih alasan sistem ini berlaku? Eitss sebelum lanjut cari tahu, download yuk aplikasi Zenius. Elo bisa nonton langsung video belajar di mana aja dan kapan aja. Nikmati juga akses lainnya secara gratis. Yuk klik di bawah ini!

Download Aplikasi Zenius

Tingkatin hasil belajar lewat kumpulan video materi dan ribuan contoh soal di Zenius. Maksimaln persiapanmu sekarang juga!

Latar belakang sistem tanam paksa

Oke, sekarang elo udah tau siapa pelaku di balik kebijakan ini. Lalu buat apa dong pemberlakuan sistem seperti ini?

“Mengapa pemerintahan hindia belanda melaksanakan tanam paksa?”

Untuk mengetahui tujuan pemerintah kolonial belanda melaksanakan sistem tanam paksa, elo harus tahu dulu kondisi keuangan pemerintah Belanda saat itu. Kalo kita ngintip ke masa-masa sebelum pemberlakuan sistem ini, kondisi kas pemerintah Belanda itu sedang berada di ujung tanduk alias mau bangkrut. Kok bisa gitu?

Lambang VOC [Dok: Hans Nissen [CC BY-NC-SA]]

Singkatnya sih beberapa dekade sebelumnya, Belanda terus menerus merasakan kehilangan dana entah karena korupsi maupun perang. Sebelumnya mungkin elo udah pernah dengar kalo VOC, salah satu kompeni yang dulunya kebanggaan Belanda, harus dibubarkan karena pegawainya pada korup banget dan menggunakan dana yang terkumpul untuk kehidupan mewah dan berfoya-foya. Bahkan,  VOC meninggalkan utang sebesar 136,7 juta gulden ketika dibubarkan pada 31 Desember 1799.

Selain masalah kompeni, Kerajaan Belanda juga harus menghadapi hutang yang mereka dapatkan setelah berperang. Contohnya dari Perang Napoleon, Perang Belgia, dan Perang Diponegoro. Dari Perang Diponegoro, Belanda diperkirakan harus mengeluarkan dana sebesar 25 juta gulden. Sedangkan dari kekalahan Perang Napoleon, Belanda harus mengganti seluruh pengeluaran perang kedua pihak. Gimana nggak bengkak utangnya?

Karena itulah Johannes van den Bosch diangkat menjadi gubernur jenderal dengan harapan bisa mengolah daerah jajahan Belanda agar menghasilkan pundi-pundi uang untuk menutup utang tersebut dan mengisi kas Belanda.

Bagaimana tanam paksa dilaksanakan?

Pelaksanaan Tanam Paksa [Dok. Negatief.]

Seperti yang tadi gue udah jelaskan sistem tanam paksa dilaksanakan dengan cara mewajibkan petani untuk menanami seperlima tanahnya dengan tanaman tertentu. Namun pada pelaksanaannya bahkan lebih merugikan rakyat.

Untuk memahami teknis pelaksanaan sistem tanam paksa, kita bisa lihat beberapa kebijakan yang tertuang di dalam Lembaran Negara [Staatsblad] tahun 1834 no. 22. Supaya lebih gampang membandingkan kebijakan secara teori dan praktiknya, kita jadikan tabel saja ya seperti ini.

Kebijakan TertulisPraktik Nyata
Penduduk [petani] diwajibkan untuk menyediakan 20% lahan pertanian ditanami tanaman ekspor yang sudah ditentukan pemerintah Hindia Belanda. Lahan yang terpakai untuk tanaman penghasil komoditi ekspor jauh di atas 20%. Kalo ada kelebihan panen pun nggak dibalikin ke petani. Gara-gara ini petani jadi nggak bisa menanam tumbuhan lokal untuk kebutuhan pangan mereka sendiri.
Lahan pertanian yang digunakan untuk tanam paksa tidak dikenakan pajak.Sudah diminta hasil tanamannya, para petani juga ternyata tetap harus bayar pajak. 
Nilai jual hasil pertanian petani diatur dan ditentukan oleh pihak Belanda.Harga jual tanaman dimonopoli sehingga nilainya rendah dan rakyat pun miskin.
Bila petani mengalami gagal panen maka pemerintah hindia belanda akan bertanggung jawab.Petani sendiri yang tanggung jawab.
Para petani yang menggarap lahan pertanian tanam paksa berada di pengawasan penguasa pribumi.Para bupati dan pejabat desa yang bertugas mengawasi pelaksanaan Tanam Paksa justru ikut korup demi keuntungan, cape deh.
Penduduk yang bukan bekerja sebagai petani, wajib bekerja di perkebunan dan pabrik yang dimiliki pihak Belanda selama 66 hari dalam setahun.Nyatanya mereka yang tidak punya tanah harus bekerja lebih dari 66 hari, bahkan ada yang mengatakan setahun penuh.

Wah gimana perasaan elo ngeliat praktik nyata dari kebijakan tertulisnya? Bayangin elo harus kerja keras, tapi sekeras apapun elo kerja, elo nggak akan sejahtera. Sederas apapun keringat elo ngucur ngurusin tanaman ekspor penjajah, tetap aja nggak ada lahan dan waktu lebih buat menanam tanaman lokal yang bisa dimakan sebagai makanan pokok. Rasa lelah, putus asa, dan lapar bercampur menjadi satu. 

Gimana dari sisi Belanda? Kerajaan Belanda akhirnya bisa bernapas lega setelah meraup keuntungan yang diperkirakan mencapai keuntungan 967 juta gulden dan bisa melunasi utang-utang mereka. 

Pencetus “Cultuurstelsel”,  Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pun diberi penghargaan oleh Kerajaan Belanda.

Di mana tanam paksa dilaksanakan?

Sebenarnya awalnya sistem tanam paksa dilaksanakan di sebagian jawa oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch. Namun seiring berjalannya waktu, tanam paksa juga diimplementasikan di daerah lain yang juga memiliki tanah yang subur. Kira-kira inilah gambaran persebaran area tanam paksa di Nusantara.

Daerah perkebunan Cultuutstelsel [Dok: SS Belajar

Di Pulau Jawa, daerah tanam paksa meliputi Cirebon, Pekalongan, Tegal, Semarang Jepara, Surabaya, dan Pasuruan. Sedangkan di Sumatera daerah tanam paksa meliputi Sumatera Barat, Minahasa, Minangkabau, Lampung, Palembang, Ambon, dan Banda.

Apa jenis tanaman yang menjadi fokus sistem tanam paksa?

Apa sih tanaman ekspor atau yang wajib di tanam di sistem tanam paksa ini? Tanaman yang wajib ditanam pada masa sistem tanam paksa adalah kopi, teh, rempah-rempah dan masih banyak lainnya. 

Tentunya jenis tanaman yang ditanam pada masa tanam paksa ya tanaman yang laku dijual di Eropa karena memang tujuan utamanya untuk mengekspor hasil pertanian. Oleh karena itu, jenis tanaman yang menjadi fokus sistem tanam paksa adalah kopi, tebu, teh, indigo [disebut juga tarum/nila], dan juga rempah-rempah [pala, cengkih, dan lada] 

Tanaman-tanaman tersebut merupakan yang memang merupakan komoditi favorit orang Eropa. Nah, karena jenis tanaman yang ditanam sudah ditentukan dan memakan sebagian besar lahan dan waktu, orang Indonesia saat itu kesulitan menanam tumbuhan lokal seperti padi maupun jagung untuk bahan pangan.

Dampak tanam paksa terhadap Indonesia

Diterapkannya sistem penanaman secara paksa tentu memberikan berbagai dampak terhadap di Indonesia. Bahkan, terdapat dampak-dampak yang mungkin mempengaruhi keadaan Indonesia sekarang. Kira-kira apa saja ya dampak tanam paksa terhadap kehidupan rakyat Indonesia saat itu?

  • Indonesia jadi kenal sama tanaman yang laku diperdagangkan secara internasional, atau dengan kata lain jadi punya komoditas ekspor yang laku seperti kopi, teh, tarum, dan lain sebagainya.
  • Tenaga buruh menjadi murah dan masyarakat pedesaan mengenal sistem permodalan sehingga terjadi perubahan pola transaksi dari pola transaksi tradisional ke arah pengembangan ekonomi moneter. 
  • Rakyat Indonesia kelaparan karena tidak bisa menanam padi maupun jagung untuk dimakan. Korban jiwa pun tidak dapat dihindari.
  • Rakyat Indonesia harus mengalami kemiskinan karena harga diatur oleh pihak Belanda. Mereka juga masih harus membayar pajak.
  • Infrastruktur Indonesia dibangun demi memperlancar distribusi hasil tanam paksa. Contohnya jembatan, jalan raya, pelabuhan, dan rel kereta api dikembangkan untuk mengangkut hasil tanam paksa. Untuk bacaan lebih lanjut, coba deh cek sejarah kereta api di Indonesia.
  • Penerapan sistem yang tidak manusiawi ini mendapatkan banyak kritik dari pejuang Indonesia serta aktivis HAM di Belanda. Pada akhirnya sistem ini dihentikan pada tahun 1970. Untuk “membalas budi” terhadap rakyat Hindia Belanda [Indonesia], Belanda menerapkan sistem Politik Balas Budi atau yang juga dikenal sebagai Politik Etis.

Penutup

Bagaimana Sobat Zenius, apakah elo ada pertanyaan seputar topik kita kali ini? Sistem tanam paksa ini memang menyengsarakan rakyat Indonesia pada masanya ya. Untuk lebih jelasnya lagi elo bisa akses videonya dengan klik banner di bawah ya!

Yuk, lanjut belajar!

Biar makin mantap, Zenius punya beberapa paket belajar yang bisa lo pilih sesuai kebutuhan lo. Di sini lo nggak cuman mereview materi aja, tetapi juga ada latihan soal untuk mengukur pemahaman lo. Yuk langsung aja klik banner di bawah ini!

langganan sekarang!

Mungkin elo punya ide untuk artikel selanjutnya? Kalau elo punya pertanyaan maupun pernyataan, jangan ragu buat komen di kolom komentar, oke? Sampai sini dulu artikel kali ini dan sampai jumpa di artikel selanjutnya, ciao!

Referensi:

Anggrani, Agnes Dian. [2006]. Pelaksanaan Sistem Tanam Paksa di Jawa pada tahun 1830-1870. Diakses pada 24 September 2021 di laman //repository.usd.ac.id/27131/2/004314015_Full%5b1%5d.pdf

Britannica.[n.d.]. Culture System: Indonesian History. Diakses pada 24 September 2021 pada laman //www.britannica.com/event/Culture-System

Kompas. [2021]. Di Manakah Tanam Paksa Dilaksanakan?. Diakses pada 23 September 2021 pada laman //www.kompas.com/skola/read/2021/02/02/130955769/di-manakah-tanam-paksa-dilaksanakan?page=all

Laras, Naufal Shidqi. [2021]. Sistem Tanam Paksa : Praktik dan Dampaknya. Diakses pada 23 September 2021 pada laman //www.researchgate.net/publication/350060701_Sistem_Tanam_Paksa_Praktik_dan_Dampaknya

Republika. [2016]. Seabrek Bukti Kekejaman Belanda: Westerling, Tanam Paksa, Hingga Kerja Rodi. Diakses pada 24 September 2021 pada laman //www.republika.co.id/berita/oga0ms282/seabrek-bukti-kekejaman-belanda-westerling-tanam-paksa-hingga-kerja-rodi-part1

Wikipedia. 2021[updated]. Vereenigde Oostindische Compagnie. Diakses pada 23 September dari laman //id.wikipedia.org/wiki/Vereenigde_Oostindische_Compagnie

Zulkarnain. [2011]. DAMPAK PENERAPAN SISTEM TANAM PAKSA BAGI MASYARAKAT. Diakses pada 27 September 2021 pada laman download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=1543480&val=477&title=DAMPAK%20PENERAPAN%20SISTEM%20TANAM%20PAKSA%20BAGI%20MASYARAKAT

Originally published: September 30, 2021 
Updated by: Silvia Dwi

Video yang berhubungan

Bài mới nhất

Chủ Đề